Selasa, 12 Oktober 2010

BATINKU-BATINMU-BATINNYA

selamat pagi cintaku,
selamat pagi ayahandaku,
selamat pagi sahabatku, selamat pagi Tuhan..
Pagi benar aku terbangun, aku teringat akan cintaku d angan.
Membawaku teringat akan sosok Mu.
Engkau pelita ku,
walau terkadang inginku merebut keutuhan yg jadi milik Mu.
Setiapku merindukan dekapannya,
aku bercnda dengan Mu dalam diam. Stiap ku mengi2nkan kecupan hangatnya,aku bertengkar dengan Mu dalam diam. Stiap kali aku ingin menggenggam keutuhannya, kau menariknya lagi.
Tuhan,
kenapa aku bgitu ingin merebut yg bukan milik ku?
Betapa tolol nya aku.
Stiap insan itu milik Mu. Bahkan aku pun milik Mu.
Stiap saat Kau mau, Kau ambil.
Terlalu kuasa dan sempurna sahabatku ini.
Hingga aku tak patut menuntut pada Mu.
Namun, syukurku akan diri Mu, aku resapi.
Engkau yg memberiku air kehidupan,
Engkau yg membiarkanku mengecap keutuhan rasa,
Engkau yg membiarkanku sejenak merasakan dekapan hangat ketulusan.
Tuhan, hanya batinku-batinMU-batinnya yg dapat meresapinya. Semoga.

Dia telah menggoreskan tinta dalam benak ku.
Bahkan dia telah menuliskan beribu kata dalam rasaku.
Dia telah menggandengku jauh menelusuri celah kekosongan.
Dia terlalu hangat memeluk ku yg rapuh.
Dia yg membuka stiap kemunafikanku.
Dia yg telah mengobrak abrik tatanan dalam pikirku.
Dia yg membiarkanku memasuki ruang batin nya.
Dia yg menarik kerapuhanku,menukarnya dgn tulusnya kekuatan.
Terlalu jauh dia menarikku,
menggandeng hatiku dan mengajaknya berlari.
Terlalu sulit aku melepaskan sumber rasaku.

Tuhan,
aku tahu aku terlalu sering menyakitinya.
Aku memahami kegalauan hatinya.
Aku mengerti keresahan yg tertutup rapat olehnya.
Aku hanya diam,malah membuatnya terkadang kecewa.
Aku tak bisa menjadi ketulusan yg dapat mendekapnya dgn penuh kehangatan.
Aku malah makin membuatnya membenci kerapuhanku.
Aku tak kuasa jika harus menyakiti
skali aku menggoreskan luka padanya,
aku akan merasakan beribu goresan lukaku
hatiku yg telah bnyak tergores dgn luka khidupan,
dia dapat menghapusnya.
Dia dapat mengganti goresan lukaku dgn goresan keutuhan nya.
Dia sejatiMU
insan kecilMU yg menjadi kawan kerapuhanku
menjadi pengobat lara dan dukaku
menjadi penawar rindu keutuhan cinta

Senin, 30 Agustus 2010

Suratku untuk Bunda

Dear Mama,

Halo Bunda ? Apa kabarmu, cintaku? Aku anakmu di sini baik – baik saja. Aku berharap, kau pun baik – baik saja di sana.

Putrimu yang manja ini sengaja menulis surat sebagai pengobat rindu. Putrimu ini sekarang telah dewasa. Percayakah engkau ? Kini, aku terbiasa dengan kemandirian. Engkau harus percaya dengan kata- kataku ini. Padahal, dulu dari ujung rambut hingga ujung kuku ku kau yang membantu. Masa kanak – kanak sampai remajaku, mama selalu menemaniku. Rindukah engkau akan putrimu ? Aku yakin kau pasti merindukanku sama sepertiku.

Ada begitu banyak kisah yang ingin kusampaikan padamu. Aku ingin menceritakan bagaimana aku mulai jatuh cinta, walaupun hanya cinta monyet. Aku ingin menceritakan teman – tamanku yang kadang – kadang iseng dengan putrimu ini. Belum lagi, aku ingin sekali berbagi kisahku bersama papa dan kakak lelakiku. Cerita itu terlalu panjang dan terlalu sulit diluapkan kata per katanya.

Ibuku, buah cintamu ini bukan buah cintamu yang dulu kau jumpai tiap hari. Sekarang, aku terbiasa bangun pagi sendiri tanpa jam beker, walaupun sering juga papa membangunkanku. Putrimu ini memang beranjak dewasa dan lebih tepat dikata sudah dewasa karena keadaan. Mama, aku menuliskan surat ini untukmu dikala senja. Entah mengapa, kala senja dan dini hari aku selalu teringat padamu. Satu tahun lebih kau tak lagi di sisiku, tetapi aku selalu merasakan kehadiranmu hingga detik ini. Bahkan aku merasakan kau sedang menatapku saat aku menulis surat ini. Awalnya aku bingung jika merasakan kerinduanku, tetapi senja ini membawaku untuk mengobati rinduku dalam secarik surat, Surat untuk Bundaku.

Mama, ada lagi cerita menggelikan dan menyenangkan. Suami tercintamu kini suka berolahraga, dia selalu bangun pagi, jalan – jalan mengelilingi kompleks desa kita. Dia mengalahkan putrimu dalam hal bangun pagi, hmm.. aku jadi malu. Akan tetapi, kau tidak marah kan? Oia, sekarang putrimu ini rajin menyapu, mengepel, menguras kamar mandi, mencuci, dan mencabuti rumput. Padahal, dulu kau harus marah – marah memisahkanku dengan novel – novel yang aku baca agar mau membantumu. Ada lagi, kemarin aku mencoba memasak tumis buncis dan kacang. Aku sangat menyukainya, karena rasanya sedikit bisa dinikmati. Beberapa waktu sebelumnya aku mencoba menggoreng tempe, tetapi gagal dan gosong. Begitu juga saat aku menggoreng telur, aku tidak tahu berapa banyak minyak yang mesti dipakai.Akan tetapi, sedikit demi sedikit aku belajar. Aku belajar dengan diriku sendiri. Seringkali saat aku sendiri di rumah, aku teringat saat kita sedang menonton televisi bersama. Tidak hanya kau dan aku, tetapi putra kesayanganmu Brendy juga ikut. Malah dia tidur disebelahmu, mengalahkanku. Sampai sekarang si Hitam masih bersama aku dan papa. Jadi terbesit pula dalam pikirku, jangan – jangan kau merindukannya juga? Hm, aku jadi iri dengan Brendot kesayanganmu itu. Walaupun begitu, tiap kali aku rindu padamu, aku menatap si Hitam dan bermain bersamanya. Dengar, sekarang dia sedang bermain – main di samping rumah kita, apa kaumendengarnya?

Mama, sekarang putrimu ini pandai berdandan juga lho. Padahal dulu aku begitu bodoh dan kau selalu memilihkan pakaianku. Banyak sekali perubahan dalam hidup kami di sini. Aku dan papa seringkali berdoa tiap malam, hanya berdua. Sedangkan kakak, dia kan ada di Yogya. Hanya lewat Hp kami berkomunikasi atau terkadang aku main ke sana. Tahukah kau ? Aku menjadi pemberani. Aku pergi ke Yogya sendiri. Terbiasa rasanya, aku melakukan segala sesuatunya sendiri. Putrimu ini memang banyak berubah, walaupun seringkali watak manja nya muncul. Maklumlah, karena aku rindu pelukan dan kecupan hangatmu di pipiku. Akan tetapi, aku merasakan setiap orang begitu baik padaku. Aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dari apa yang aku punya dan aku tak pernah berambisi untuk jadi yang terbaik. Aku pun selalu mengingat perkataanmu, “Li, kamu jadi bocah sing pinter, sumeh, cari kanca sing akeh, aja pilih – pilih. Dengan siapapun, kamu harus baik dan tulus.” Pesanmu untukku begitu sederhana. Terkadang aku berpikir, kenapa pesanmu untukku sederhana sekali? Tetapi seiring berjalannya waktu aku menyadari, yang sederhana saja tidak sepenuhnya aku jalani dengan kesempurnaan, mungkin itu juga pikirmu.

Yang jelas, putrimu ini mencintaimu. Putrimu yang manja dan menyebalkan ini merindukanmu. Putrimu yang centil ini menyayangimu. Putrimu yang sering menjengkelkanmu ini sedang berusaha mencari jati dirinya seperti yang kau inginkan. Dalam doaku sebelum tidur, aku mendoakanmu agar kau selalu bahagia dengan hidupmu yang sekarang. Aku selalu berharap, suatu hari nanti kita dapat berkumpul kembali dalam keluarga yang penuh keabadian. Aku berdoa agar kau pun mendoakan kami di sini. Aku berdoa kepada Bunda, agar pasukannya sekarang telah berjumpa dengan Nya. Dalam doaku aku selalu berkata, I love you Jesus, I love you Maria, I love you Mama.

Ma, balas suratku melalui mimpi indahku ya.. Aku tunggu..

Kamis, 26 Agustus 2010

Sejatiku Akan Dirinya

Tiap kali otakku bergeming
kurasakan arus mengalir, menggoncangkan rongga jiwa
kerapkali teriakan batinku bergeming
tergores oleh terjalnya kehidupan

rinduku ini bukan sekadar rindu
damaiku ini bukan semata damai sejati
di sudut batin, di celah jiwa mengecap dingin nya realita
mencium bilur kerinduan akan dirinya
sosoknya yg tak sempat kulihat guratan keriputnya
tawanya yg tak kujangkau seiring pudarnya hitam pekat helai rambutnya
figurnya yg menjadi dambaan kebersamaanku
idaman menghisap dewasaku terjamah peluknya
Bukan!
Aku terlalu berangan jauh
tak usai kusesal
tak usai kuhujat
Cintanya di hidupku
menjadi akar kasihku
haus batinku
lelah jiwaku
enggan ragaku
mengecap rindu
menghisap asa
berjumpa dengannya
ikatan batinku dan batinnya tak berujung
hingga suatu saat yg indah
aku kan berjumpa dengannya dalam damai sejati

Mencicipi Misa 17an Ala Orang Muda Katolik

Begitu banyak bendera Merah Putih berkibar tatkala senja mulai menghampiri daerah Gombong. Sore itu, sekitar pukul 17.00 WIB di gereja Santo Mikael satu persatu umat berdatangan. Bukan untuk misa mingguan mereka datang, tetapi pada tanggal 16 Agustus 2010 mereka datang untuk misa tirakatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65.
Dalam misa tirakatan itu terlihat spesial karena di sana – sini terpasang bendera – bendera cilik yang memang sengaja ditata untuk memeriahkan suasana. Sore itu, Orang Muda Katolik Santo Mikael diberi kesempatan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terlihat wajah – wajah pemuda pemudi yang bersinar memancarkan kegairahan , semangat generasi muda Gereja. Misa tersebut merupakan wujud cinta kita akan Bumi Pertiwi, sebagai bentuk harapan akan masa depan Bangsa demi tercapainya kehidupan yang lebih baik.
“Gereja bagai bahtera mengarungi jaman…” alunan lagu pembukaan yang megah mengiringi romo dan para petugas liturgi masuk menuju altar. Suasana sedikit gelap dengan beberapa sorot lampu yang menambah keindahan dalam kemegahan bangunan Santo Mikael. Baru saja romo selesa mendupai altar, slide Proklamasi di mana sosok Soekarno nampak jelas menarik umat untuk mengenang perjuangan para pendahulu kita. Seusai pembacaan proklamasi, lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan bersama – sama, lagu kebangsaan yang menjadi teriakan cinta masyarakat Indonesia.
Rangkaian misa berjalan dengan lancar. Sebelum homili kaum muda memutarkan slide yang telah dipersiapkan. Bukan film perjuangan yang dipertontonkan, tetapi foto – foto realita kehidupan di era modern yang dibumbui dengan alunan lagu Sentuh hatiku serta tulisan – tulisan yang menjadi pertanyaan refleksi bagi umat. Tema ‘Mengarungi Arus Jaman’ sengaja dipilih oleh Kaum Muda Katolik untuk mempertajam dan menggali makna misa tersebut. Dalam homilinya pun, Rm Dhanang mengajak umat untuk semakin menyadari akan keadaan tanah air di era kini. Bagaimana kehidupan masyararakat, bagaimana keadaan ekonomi negara yang menekan kemiskinan dan penderitaan, serta meningkatkan tindakan-tindakan krimanalitas. Belum lagi dengan bencana alam yang sering terjadi, ledakan – ledakan, juga kinerja pemerintah Indonesia. Umat diajak untuk mengintip realita kehidupan dan memikirkan masa depan Indonesia. Tidak hanya sampai di situ, tetapi diperlukan kesadaraan dan tindakan nyata demi mewujudkan masa depan Bangsa. Begitulah misa tersebut berlangsung dan berjalan dengan lancar. Harapan Orang Muda Katolik santo Mikael adalah dapat menjadi generasi muda katolik yang mampu menggugah semangat untuk terus berjuang bersama dalam mengarungi arus jaman. Tidak berdiam diri,karena iman juga harus diwujudkan dalam kebersamaan dan perjuangan nyata di dunia, tentunya kehidupan dunia yang adalah bagian dari kehidupan Bangsa.
Seusai misa, OMK berkumpul di ruang Panti Mandala untuk mengadakan tirakatan. Seperti biasa acara dibuka dengan lagu – lagu rohani. Bukan sekadar bernyanyi, menari dan bersenang – senang, tetapi kembali berjumpa dengan Romo Dhanang kami lagi – lagi menonton sebuah film. Sangat berbeda dengan slide visualisasi yang diputarkan saat misa, kali ini romo Dhanang memutarkan film yang mengisahkan seorang gadis berusia 14 tahun yang terlanjur hamil. Dikisahkan dalam film itu bagaimana gejolak kehidupan sang Gadis dalam memperjuangkan kandungannya tanpa bersuami. Melalui kisah itulah, romo mengajak kaum muda untuk berefleksi, setujukah dengan tindakan free seks dan tindakan nyata apa yang mesti dilakukan sebagai pribadi yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan RI? Walau dalam forum besar, rupanya pertanyaan itu sungguh menggelitik hingga memancing muda – mudi untuk sharing dan berdiskusi. Semua itu menjadi moment yang menarik dan langka karena suasana kemerdekaan dapat terasa dalam kebersamaan kala itu.
Dapat disimpulkan, sebagai kaum muda katolik yang beriman akan Yesus Kristus, tidak semata – mata hanya beragama dan beriman, tetapi Orang Muda Katolik harus dapat berjuang dan berkembang dengan terus meningkatkan kerjasama dalam menggapai kehidupan yang lebih baik. Tak ingin rasanya membiarkan Indonesia hanya berdiam diri, tak rela jika tak ada tindakan yang realistis. Menjadi generasi muda yang berprinsip, pantang menyerah, dan senantiasa mempererat tali persaudaraan, Orang Muda Katolik harus dapat merealisasikannya dalam keseharian. Tak perlu hanya membual, tetapi berbuat hal yang positif. Dimulai dari hal yang kecil niscaya akan senantisa bertumbuh dan menjadi sesuatu yang besar dan bermanfaat. Orang Muda Katolik adalah masa depan Negara dan Gereja.

“Sekali merdeka tetap merdeka.. Merdeka!”

Selasa, 27 Juli 2010

Tumpukan Batu Bata itu Kakeku

"Tak disangka, bangunan itu patut aku panggil kakek.."


Bocah itu terpana, melihat sebuah bangunan yang tinggi nan megah dan batinnya bertanya - tanya mengapa bangunan itu berlambang salib?


Sebuah kompleks yang asri berada di sebuah kota kecil, lebih tepatnya kota yang kurang terkenal. Bangunan tinggi berlambang salib itu adalah sang Kakek. Sang kakek yang menjadi saksi saat orang - orang berpakaian rapi datang untuk menemui Tuhannya.
Kakek itu sudah berusia 75 tahun, tetapi dia masih kuat berdiri dan tidak pernah tertatih - tatih. Banyak orang menyayanginya, datang kepadanya, dan menjadikannya kawan untuk bercanda dalam Diam.

Sebuah gereja katolik yang berada di kota Gombong bernama Gereja St. Mikael adalah bangunan tua yang masih berdiri kokoh sejak tanggal 29 September 1925. Bukan bangunan yang sekadar terbentuk atas batu dan bata, melainkan terbangun atas himpunan umat Kristiani di kota yang terpencil ini. Telah hidup menjadi sebuah dinamika kehidupan umat yang begitu kompleks dan penuh warna.
Tak lama lagi sang Kakek akan merayakan usianya yang ke 75 tahun. Barangkali kakek merasa senang karena anak - anak dan cucu - cucunya akan memberikan sebuah kado yang indah, yakni sebuah kado yang melambangkan cintakasih dalam persaudaraan.
Para frater dari sebuah seminari akan menilik dan menelusuri kembali sebuah sejarah dan menuangkannya dalam sebuah buku. Tak hanya sejarah secara fisik, tetapi kisah hidup dan gejolak - gejolaknya pun akan terkuak. Cucu - cucu kakek berkumpul dan mencari silsilah keluarga katolik di Gombong ini. Tugas ini cukup sulit, tetapi bagi kami ini bukanlah sebuah tugas melainkan sebuah pelayanan dan tanda kasih atas anugerah kehidupan iman yang telah diperoleh selama ini.

Kami ingin membagikan cerita kita kepada setiap orang. Membagi cerita yang di dalamnya mengungkapkan sebuah himpunan yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Mendengarkan celoteh - celoteh dari berbagai kalangan yang telah terhimpun.
Kami ingin tahu bagaimana dewan pastoral memandang soal gereja, kami penasaran dengan pandangan seorang tukang becak mengenai himpunan orang - orang katolik, bagaimana seorang janda yang tak lagi merasa kesepian saat berada dalam rongga tubuh Gereja, dan apa yang ada dipikiran seorang anak tentang bangunan yang megah ini.
Semua itu akan kami telusuri dan kami ungkapkan melalui sebuah pena dan kertas, serta dihidupkan dalam sebuah Amograf.
Berbagi sebuah realita kehidupan katolik, celoteh warga Santo Mikael.

Bocah itu hanya diam, terus memandang
tak lengah tatkala seorang pria tengah baya menarik, menggenggam jemarinya
pikirnya melayang
mencari oase kehidupan
dalam sebuah bangunan berlambang salib


kaktus dari GOLGOTa

Sahabat,

kesederhanaan Mu memanah keangkuhanku
Kaulah oase padang gurun
yg kurindu kesegaran nya membual
membasahi rongga dahagaku

Malam ini ku kecup tapak - tapak Mu mentah
pada kaktus mekar semalam
Indah dan mempesona, Sahabatku
Seperti nikmatnya mereguk cinta Mu
Hanya duri - durinya mengingingatkan aku
akan tajuk - tajuk mahkota derita Mu
Dari sanalah panah hati Mu
melumpuhkan keangkuhanku

pada kaktus mekar semalam

T O B A T

Serat" cinta Mu, Tuhan
berserakan atas bongkah" keangkuhanku
dilumur ceceran darah silih Putera Mu
Merah, semerah cinta Mu
Maha Pengampun

Hari ini tobat kelabu kuucapkan
Tirai berjambul ungu Kau turunkan
Panji" putih perdamaian pun
Kau pancangkan di birunya persahabatan
Maka jadilah tobatku sebuah tonggak
Padanya Kau tambatkan tali kehidupanku
Cemerlang dilabur keputihan wajahMU
OH, wajah yg pernah kutelapaki!

Tuhan..
Tobatku adalah sisa serat" cinta
Tertinggal antara Engkau dan aku
Tak putus Tuhan
Cinta Mu abadi
Tak larai lagi
Kasih Mu lestari

Di sini, pada tepian doa ini
Kau bangunkan titian gading kokok
diselaput kyrie cinta suci Mu
Di sanalah kaki"ku
Kau biarkan menjejakinya
Tak lagi bernoda
TUHAN ku
Tak lagi bernoda !

Rabu, 14 Juli 2010

JadiKan Aku Seorang Pejuang Sejati

Sore itu, aku tiba di sebuah rumah bercat putih, sebuah rumah sederhana tempatku berbagi kasih dengan Ayah dan saudara lelaki ku. Badan ku terasa lelah dan kaku karena baru saja aku menempuh perjalanan ke Solo.
Spontan aku mengusap leherku denan handuk yang hangat dan terasa sedikit aneh dengan leher kanan ku. Leher bagian kanan terasa kencang, kaku dan sedikit bengkak. Spontan aku bercerita kepada kakak lelakiku, dia pun langsung mengajakku ke dokter.
Awalnya kami mengira bahwa aku hanya kecapean dan sebentar pasti sembuh. Aku pun menyadari bahwa ternyata di pangkal leher sebelah kanan ku ada sebuah benjolan kecil yang kata dokter adalah infeksi di bawah kulit.
Lima hari aku mengkonsumsi obat dan tidak ada perubahan. Aku pun kembali ke dokter yang sama, dan dokter berkata, "Mudah - mudahan ada perubahan, jika tidak akan saya rujuk ke dokter bedah."
Ternyata masih tidak ada perubahan dan hal ini sungguh membuatku khawatir. Akhirnya, aku pun diajak ke sebuah RS di Yogyakarta, karena diharapkan akan ada pemeriksaan intensif. Namun, alangkah penatnya saat aku bertemu dengan seorang pria tengah baya berdarah Simanjuntak yang merupakan dokter bedah di RS itu. Dokter itu langsung menembakku dengan kata operasi dan itu membuatku penat bahkan seribu penat dan dongkol. Aku pun menjalani beberapa tes, yakni tes darah dan foto toraks. Pemeriksaan yang membuatju merasa jijik dengan bangunan berbau obat itu.
Aku hanya dapat menangis dan merintih, aku pasrah dan hanya dapat mempercayakan semuanya kepada sang Ilahi.
Aku harus menjalani pemeriksaan dan mentalku belum siap. Lelah dan bosan, aku dan kakak ku meluncur ke sebuah perkebunan di mana tante ku berada. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan seorang bapak bersama keluarganya dan sungguh tak terduga bahwa ternyata bapak itu adalah seorang dokter yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Kami pun berbagi cerita, mungkin lebih tepat nya adalah aku yang mendengarkan ceritanya dan menyikmak semua sarannya.
Berpikir seribu, aku pun menelepon dokter yang siap mengoperasiku, " Dokter, Lia belum siap menjalani operasi biopsi besok pagi." demikian aku berkata dengan penuh keyakinan.
Sia - sia rasanya jauh - jauh aku ke kota itu tetapi hanya penat yang aku dapatkan. Namun alangkah terbukanya pikiran ku saat aku menerima sebuah saran dari seorang pastor agar aku mencoba pengobatan alternatif di kota Purworejo. Membuat kakak lelaki ku berpikir cepat dan memutuskan untuk langsung ke tempat itu. Di sana aku mengungkapkan semua keluh kesahku dan rasa sakitku kepada seorang pastor yang ada di sana.Pastor itu bukan dokter atau dukun, tetapi dengan kemampuan magnetis dan ramuan - ramuan herbalnya dia telah menolong banyak orng dari berbagai kalangan.
Sang pastor berkata, "Lia harus bersabar dan hilangkan srasa khawatimu karena itu sangat mempengaruhi, semoga dengan ramuan herbal ini dapat mengisolasi benjolanmu agar tidak menjalar dan menimbulakan penyakit yang berbahaya. Lia harus tetap percaya, yakin, dan berdoa kepada NYa"

Dalam benakku ketakutan dan keyakinan beradu dan terus berperang.
Aku hanyalah seorang yang lemah tetapi aku ingin meraih beribu bintang impian yang selama ini kugantung di langit, aku harus meraihnya..
Hingga saat aku menuliskan ini, rasa itu masih terus beradu dan berperang..
Aku selalu berharap dan berusaha tuk selalu meyakini aku pasti sembuh karena aku masih ingin berbagi cinta dan kasih kepada setiap orang yang kujumpai.
Apapun penyakit yang ada di ragaku, aku percaya jiwaku akan selalu hidup, hidup tuk membagikan kasih dan menjadi pejuang yang sejati.
Dan aku terus bersyukur tatkala aku masih bisa menghirup pagi yang segar dan berjumpa dengan seribu wajah di dunia ini.

Jumat, 02 Juli 2010

Cerita Cinta di Kereta Express Solo - Yogya

Suara menggelegar menembus udara panas yang membungkus stasiun Njebres Surakarta.Perlahan-lahan kereta mulai bergerak menelusuri rel tua dan terus melaju ke arah barat mendahului mentari. Berjubel orang di dalam kereta dengan berbagai raut muka mewakili perasaannya masing-masing kala itu. Seorang ibu dengan raut muka lelah menggendong anaknya yang masih balita sembari mengibas-ngibaskan selendangnya. Seorang remaja dengan tas ransel tersenyum mempersilakan seorang nenek bungkuk yang berdiri memikul keranjang sayur untuk menempati tempat duduknya. Tampak pula seorang pria berpenampilan perlente membawa koper besar duduk memainkan telepon genggam canggih di tangannya. Belum lagi segerombol pria tengah baya bermata sipit, berkulit kuning,dan berhidung pesek menempati sudut gerbong, berbicara dari ujung hingga ujung yang lainnya. Hiruk pikuk suasana kota amat terasa dalam sebuah gerbong kereta express tanpa AC itu. Sebuah kereta dengan dominan warna kuningnya kini melaju cepat. Sesekali gesekan antara roda dan rel besi itu terdengar amat melengking menyayat telinga tiap orang di dalamnya.

Teriknya matahari barangkali menyilaukan kaca – kaca dalam kereta express yang katanya pernah mogok di tengah jalan. Terdengar menggelikan saat aku mendengar cerita itu dari seorang ibu yang baru saja aku kunjungi di kota yang mempunyai sebuah stasiun berjuluk stasiun balapan. Sebuah perjalanan yang cukup membosankan bagiku tatkala aku duduk di antara banyak orang aneh di dalam gerbong berdesain ala Jepang. Duduk berhadap – hadapan dengan sesosok pria tampan tetapi tanpa ekspresi makin membuatku merasa jengah. Sesekali aku melirik pada seorang pria lain dengan dandanan preman yang berdiri di depanku.
Aku dan seorang ibu yang bukan ibu kandungku duduk berdampingan dekat pintu gerbong di tengah hari yang panas. Sosok wanita itu memang bukan ibu kandungku, tetapi aku yakin dia amat memperhatikanku. Bahkan seringkali aku terkena omelannya, ketika aku mulai bandel dan bermain – main dengan kesehatanku. Hanya bersama wanita itu aku menempuh perjalanan dari sebuah kota tanpa mall bernama Gombong. Kami sengaja terbang meluncur ke Solo, karena kami bertekad menjenguk seorang gadis yang sedang berbaring penuh selang dalam sebuah kamar ber AC di sebuah Rumah Sakit besar. Nelangsa dan perih hatiku ketika melihat gadis itu terbaring tanpa daya, tetapi pikiran dan rasanya masih tajam. Dengan tekad yang kuat kami berangkat ke Solo, dengan penuh semangat kami rela duduk di lantai kereta express karena tak kuasa bertahan dalam kereta yang penuh sesak. Tak ada rasa kecewa dalam benakku, justru amat melegakan ketika aku dapat berjumpa dengan seorang ibu dalam bangunan beraroma obat yang juga bukan ibu kandungku, melainkan ibu gadis yang berbaring di ruang ICU itu.

Sebuah petualangan sehari yang amat menarik, berangkat duduk di lantai kereta dan tertawa lepas, sekejap sudah berada dalam ruang berbau obat dan menangis tersedu – sedu. Namun ada yang paling menarik saat aku dalam perjalanan pulang menuju kota yang aku tinggali selama 17 tahun. Aku menemukan sebuah kisah kenangan di kota batik, Yogyakarta. Aku duduk di sebelah seorang nenek yang menggendong cucunya. Bayi yang lucu dan tidak manja penuh tangis, terkadang aku dan seorang wanita di sisi yang lain berbicara dengan bayi yang berpipi gemuk itu. Mungkin aku terlihat sok kenal dan sok dekat, karena aku tak mengenal siapa nenek dan bayi itu, aku pun tak mnemahami siapa perempuan di sisi yang lain yang juga menyukai bayi itu. Perjalanan Solo – Yogya dalam sebuah gerbong kereta express tanpa AC menjadi kala pertama bagiku. Asyik tertawa dan tersenyum dengan bayi berpipi gemuk, sementara seorang ibu teman seperjalananku sedang menikmati rasa kantuknya. TAnpa terasa perjalanan itu cukup melelahkan. Hingga sejenak kami berada dalam suasana hening berkutat dalam pikiran masing – masing. Tak ada pekerjaan aku melirik ke setiap sudut gerbong yang penuh sesak dengan orang – orang dari berbagai kalangan dan tak sengaja aku membaca sebuah massage dalam hp yang di genggam seorang wanita yang sepertinya hobi makan keju, susu, dan makanan berlemak lainnya. “ Jalan Solo – Yogya gue selalu teringat sama mantan gue coy..” secuplik itu yang terbaca dengan mata telanjangku. Dosa atau tidak, tetapi aku tak sengaja membacanya. Semakin berputar otakku setelah membaca secuplik kalimat di layar sebuah hp lipat produksi luar negeri itu. Namun aku menghentikan putaran otakku dan tak ingin tahu lebih lanjut, hanya kusimpan dan kulupakan hal yang tak ada sangkut pautnya dengan diriku.

Stsasiun demi stasiun terlalui, orang – orang naik turun datang dan pergi silih berganti. Hingga akhirnya kereta telah meluncur dan sampai di kota yang mempunyai sebuah kraton terkenal dengan seorang sultan yang sakti. Di sebuah stasiun dekat bandara
Adi Sucipto seorang pria muda berparas tampan membawa koper besar turun. Sangat disayangkan, karena tak ada lagi pemandangan penghilang rasa kantuk bagiku. Di stasiun berikutnya di daerah Lempuyangan seorang nenek yang menggendong bayi berpipi gemuk pun turun. Satu persatu penumpang di dekatku turun membuatku merasa sepi, tetapi juga membuatku lebih nyaman karena tak harus berebut oksigen. Akhirnya secara otomatis aku duduk di sebelah wanita berkacamata yang beberapa saat lalu tak sengaja terbaca olehku sebuah pesan dalam layar hpnya. Aku makin merasa bersalah karena membaca pesan dalam layar hpnya saat bahuku dan bahunya bersentuhan. Namun sejenak aku melupakan perasaanku yang seringkali berlebihan.

Wanita itu tersenyum padaku, aku pun menmbalas senyumnya. Tak sanggup menahan suasana yang membosankan, aku mulai membuka pembicaraan. Kembali aku mengeluarkan jurus sok kenal sok dekat andalanku.Spontan aku bertanya, “Turun di mana mba ?” dengan nada yang ramah, senyum di wajah, dan tanpa ada nada mengusir sedikitpun. Ternyata wanita itu turun di stasiun Tugu, sebuah stasiun terkenal di kota pelajar yang penuh dengan wisatawan asing itu. Saling bertanya dan menjawab pertanyaan basa – basi, tiba – tiba wanita itu mulai bercerita sedikit kisah hidupnya di kota pelajar tempatnya menempuh ilmu di bangku kuliah.,

Aku tak mengenal dan tak tahu siapa namanya, begitu halnya wanita itu tak memahami siapa diriku. Sosok wanita muda yang terlihat menyenangkan dan tanpa beban itu ternyata mempunyai kisah yang cukup berat bagiku. Dari parasnya terlihat bahwa ia bukan orang biasa, melainkan menggambarkan sosok wanita karier di era modern ini. Sosok wanita berpendidikan dan berwawasan luas, tetapi hatinya tergores luka yang cukup dalam. Dia adalah seorang alumni sebuah universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Dari gaya bicaranya terdengar jelas bahwa ia bukan orang asli daerah Keraton itu. Ia adalah gadis Jakarta, tetapi sempat hijrah di Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan. Ia pun mengakui bahwa ia memiliki eyang di Solo.

Tak hanya mengenyam pendidikan, melainkan kisah hidupnya pun banyak tersimpan di kota yang sesak itu. Saat ia tinggal hanya sendiri di Yogyakarta dan selalu bermalam di sebuah kamar kost hingga memutuskan untuk menyewa sebuah rumah bersama kawan – kawannya, ia juga menghabiskan kisah cintanya di kota yang kental dengan kehidupan Seni, Yogyakarta. Wanita itu menjalin hubungan dengan seorang pria selama kurang lebih enam tahun lamanya. Seorang pria yang mungkin sangat dicintai dan belum bisa ia lupakan hingga saat ini. Seorang pria yang menjadi teman dekatnya, menjadi tambatan hati bagi si Wanita itu. Seorang pria yang tempat tinggalnya terlihat jelas dari stasiun dekat bandara bernama Adi Sucipto. Seorang pria yang pernah membuat bahagia seorang wanita berkacamata yang duduk di sampingku. Terlihat jelas dalam paras wanita itu, terpancar jelas dari sorot matanya masih ada sisa – sisa potongan cinta dalam hatinya. Wanita itu mengatakan bahwa hubungan yang ia jalin bersama seorang lelaki selama enam tahun itu harus kandas begitu saja. Aku tak memahami jelas siapa wanita di sebelahku, aku pun tak mengenal siapa pria yang sempat menjadi tambatan hatinya. Namun perbedaan keyakinan diakui oleh sang wanita berkacamata menjadi penyebab utama tak direstuinya kisah cinta dua insan itu. Memulai, menjalin, dan mengakhiri dengan baik, ketika lelaki yang ia cintai telah dijodohkan dengan wanita yang lain.

Dalam sebuah malam yang ramai di kota yang banyak menghasilkan seniman – seniman muda berbakat, sepasang insan yang saling mencintai harus mengakhiri kisah mereka. Mereka berdua menelusuri setiap jalan dan setiap tempat yang pernah mereka singgahi bersama selama menjalin kisah. Sangat sulit dan penuh duka rasanya, tak lagi makan bersama di sebuah restaurant seafood dekat stasiun Tugu. Memilukan rasanya terhalang keyakinan dua insan yang ingin jadi satu. Namun itulah nyatanya, ada pertemuan dan ada perpisahan. “ Kita putus secara baik – baik “, itulah kalimat yang terdengar sangat berat keluar dari sosok wanita di sebelahku. Sungguh wanita yang tegar dan kuat bagiku, aku pun kagum padanya. Enam tahun bersama dan akhirnya sang Wanita memutuskan untuk terbang ke Singapura. Entah mengapa wanita itu memutuskan pergi aku tak berani menanyakannya lebih lanjut, karena aku merasa tak berhak menanyakannya. Sesaat timbul pertanyaan yang menggelitik dalam benakku, mengapa wanita di sebelahku begitu mudah menceritakan kisah cintanya padaku. Namun kuhapuskan semua pikiranku mengenai mengapa.
Tak hanya sosok pria yang ia cintai, ia juga menolong salah seorang sahabat karibnya hingga dapat bekerja di sebuah bank swasta terkenal di Indonesia sebelum ia terbang ke negeri Singa itu. Wanita tegar dan kuat mempertahankan hidupnya di negeri orang hampir kurang lebih selama empat tahun.Selama di negeri orang ia masih tetap menjalin hubungan dengan sahabatnya, tetapi tidak dengan pria yang pernah ia cintai. Ia pun mendengar kabar bahwa pria yang pernah menjadi tambatan hatinya telah menikah dan mempunyai anak. Mungkin sungguh menyayat hati dan sangat perih rasanya. Namun wanita di sebelahku tak menceritakan bagaimana kehidupannya di Negeri Singa. Dalam pikiranku aku mengerti pastilah tidak mudah baginya melupakan sosok yang sangat dicintai. Apakah wanita berkacamata di sebelahku sempat menjalin hubungan dengan pria yang baru di negeri orang, aku tak tahu realitanya. Namun seperti ikan yang diberi umpan, aku pun terpancing untuk terus mendengar kisah hidupnya.

Suatu hari, ia menerima telepon dari sahabatnya di Indonesia. Melepas rindu dan berbagi cerita, sahabatnya mengatakan bahwa dirinya akan menikah dan ia menginginkan agar wanita itu hadir di pernikahannya. Wanita di sebelahku berjanji akan hadir, karena di tanggal pernikahan itu ia sudah berada di Indonesia. Sepertinya pernikahan sahabatnya berlangsung tak lama, entah sesudah atau sebelum bertemu denganku dalam sebuah gerbong kereta. Dengan sorot mata penuh pilu, wanita itu mengakui bahwa saat itu adalah pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di kota yang penuh kenangan cinta.
Mungkin senang bercampur haru saat wanita di sebelahku dapat kembali berjumpa dengan sahabatnya. Kembali bertatap muka dan berbagi pengalaman setelah beberapa tahun tak berjumpa. Sahabatnya memberitahu wanita di sebelahku, bahwa ia sering bertemu dengan pria itu di restaurant seafood favorite mereka. Namun sang Pria hanya sendiri saat menikmati makanan khas China, tak ditemani isteri ataupun anak – anaknya. Tak kuasa menahan rasa penasaran, wanita di sebelahku mendatangi restaurant itu. Kembali menapakkan kaki di tempat yang penuh kenangan, ia menemui sang Pemilik restaurant. Sang pemilik restaurant pun masih mengingat jelas bahwa wanita itu pernah menjadi pelanggan setianya dan mengatakan bahwa sang Pria hingga saat ini kerap kali datang untuk menikmati olahan kepiting hanya sendiri. Tercengang dan terkejut mendeangar hal itu. Antara percaya dan tidak aku mendengar kisahnya. Kisah seorang mantan mahasiswa fakultas psikologi yang sempat beradu nasib di negeri Singa. Wanita yang meninggalkan kisah cintanya bersama kota yang penuh sejarah di pulau Jawa. Wanita yang merelakan sosok yang dicintai membangun kehidupan rumah tangga dengan wanita yang lain. Hingga saat aku duduk berdampingan dengannya, wanita itu mengakui ia belum bisa membuka hatinya untuk sosok pria yang lain. Entah sebuah trauma yang dalam atau sebuah bentuk kesetiaan atau inilah sebuah gambaran betapa dalamnya perasaan seorang wanita. Bagiku inilah kisah yang membuat hatiku terenyuh bercampur kagum akan ketegaran sebagai sesama kaum hawa yang mendengarnya.
“Sepanjang jalan kenangan kita kan selalu bergandeng tangan..” Cerita cinta dalam sebuah kereta express Solo – Yogya, dalam waktu yang singkat dan tak terduga mengenal sosok wanita yang juga tak terduga memiliki kenangan sebuah cinta di kota seperti Yogyakarta. Beberapa menit menguak sebuah rasa, kisahnya berakhir dalam sebuah jabat tangan yang hangat beberapa menit sebelum berpisah dengan sosoknya. Hingga akhirnya kami baru bertukar nama dan alamat email. Wanita itu pun tergesa – gesa menurunkan tas – tas berisi buah tangan dan keluar menuju stasiun. Kutatap wanita itu turun dari sebuah gerbong kereta express tanpa AC hingga tak terlihat lagi sosoknya saat secara otomatis pintu kereta tertutup dan kembali meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan stasiun Tugu di Yogyakarta.

Minggu, 27 Juni 2010

Duta Paroki Cilik

“ Bocah – bocah dari latar belakang yang berbeda, berasal dari pelosok daerah yang berbeda bertekad kuat menjadi animator – animatris remaja penggerak gerejayang bersatu dalam semangat 2D2K ( doa, derma, kurban, kesaksian ) serta berjuang berlandaskan motto ‘children helping children ‘. Mereka adalah cikal bakal masa depan gereja katolik. ”
Bocah – bocah itu menginjakan kaki dengan bangga dan menjadi duta tiap paroki untuk berjuang menimba pengalaman dan menjaring ratusan teman dari berbagai pelosok daerah. Hitam atau putih, keriting atau lurus, besar atau kecil, tinggi atau rendah, kaya atau miskin bukanlah penghalang karena mereka telah menjadi satu dalam ikatan Serikat kepausan anak – anak missioner (Sekami).
Sabtu – Minggu, 19 – 20 Desember 2010 sebuah pendopo di kawasan goa Maria Kaliori penuh sesak karena dihadiri para remaja katolik dari 12 paroki di keuskupan Purwokerto. Bocah – bocah ini datang bukan untuk mengikuti kemah pramuka, melainkan untuk mengikuti sebuah kemah rohani yang bertemakan “Remaja Penggerak Gereja, Yuuk!” Acara ini adalah salah satu program KKI yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan SOMA 2009 yang lalu. Tema yang sama dengan makna dan tujuan yang sama pula, tetapi disajikan dalam konsep yang berbeda. Semua itu adalah moment singkat yang barangkali sanggup menggoda hati para kader muda gereja untuk menjadi remaja penggerak gereja.
“ Ayo teman – teman Sekami di persada Indonesia wujudkan motto kita semua children helping children “. Lagu itu terdengar sangat nyaring saat dinyanyikan para animator – dan animatris dari berbagai paroki pada saat perkenalan yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam moment ini, para remaja diajak untuk bernyanyi dan bergoyang atau biasa disebut sebagai animasi. Animasi ini diharapkan sanggup menggugah rasa dan pikiran agar berpadu menjadi satu tanpa terjadi ketimpangan. Suatu titik awal yang sangat berkesan, meningkatkan keaktifan dan kreatifitas remaja dalam perpaduan antara gerak dan lagu.
Tak hanya berhenti di situ, duta – duta cilik paroki ini pun masih tetap bertahan dalam sebuah pendopo yang berkelilingkan makam hingga sekitar pukul 22.30. Dalam session yang berikutnya, animator dan animatris bertatap muka dengan Sr. Yuliana selaku dirdios keuskupan Purwokerto. Dengan gayanya yang khas dan bersahabat Sr. Yuli pun mencoba membagikan apa itu KKI dalam sebuah tema “About KKI”. Mengetahui dan memahami bagaimana sejarah KKI dan ruang lingkupnya yang mendunia menjadi sebuah modal awal bagi para misionaris cilik untuk membagikan karya bersama teman – temannya.
Seusai santap malam animator dan animatris kembali berkumpul dalam session yang baru. Sesion berikutnya menjadi semakin menarik karena yang membagikan pengalaman kepada bocah – bocah bukan biarawan atau biarawati, melainkan para kader muda dari keuskupan Semarang. Mereka rela meluncur ke Kaliori dan melawan lelah demi berbagi pengalaman menjadi seorang animator dan animatris penggerak gereja. Dalam session ini berlangsung sebuah dinamika kelompok, dimana bocah-bocah terbagi menjadi 10 kelompok kecil yang terdiri dari berbagai paroki. Diajak untuk berdiskusi dan menyatukan pikiran, kelompok – kelompok ini menciptakan sebuah yell sebagai tanda kekompakan mereka. Sanggup bertukar pendapat untuk berbagi pengalaman kehidupan menggereja di masing – masing paroki hingga pada akhirnya mereka harus merumuskan sebuah kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata kunci yang bermakna.
Salah satu yang menarik adalah sebuah kelompok yang memilih kalimat ‘jebule numpak truk’. Ada dengan kalimat yang aneh ini? Ternyata di balik kalimat yang tidak baku ini tersimpan sebuah makna pengorbanan bocah – bocah dalam berkarya bersama Yesus. Mereka yang berbagi pengalaman dalam kehidupan paroki menjelaskan, bahwa suatu hari saat akan berziarah mereka rela berdesak – desakan naik truk karena di tengah perjalanan bus AC yang mereka tunggangi mendadak mogok. Namun di situlah mereka dapat menemukan indahnya kebersamaan dan pengorbanan. Kelompok demi kelompok pun mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan dan dengan hal ini mereka diajak untuk menjadi seorang animator dan animatris yang berani mengungkapkan pendapat, serta membagikan pengalaman tanpa rasa takut dicela ataupun diejek. Seusai session ini anak – anak pun beristirahat dalam tenda masing - masing, menikmati kebersamaan dan persahabatan bersama duta – duta cilik dari berbagai paroki yang sangat ekspresif semakin menghangatkan suasana yang langka itu.
Menyatukan hati dan pikiran di tengah kesunyian. Sekitar pukul 24.00 WIB para animator dan animatris kembali berkumpul di pendopo. Melawan keengganan dan nrasa kantuk, mereka duduk merasakan sunyinya malam berkelilingkan makam. Bukan untuk jerit malam atau hanya sekadar duduk, tetapi bocah – bocah ini dalam suasana doa merasakan keheningan diiringi music taize yang mengalun nan syahdu, Frater Diakon Agung menghimpun mereka untuk kembali menatap pribadi masing – masing individu, bercermin dan mencari setiap sudut kata serta perbuatan yang telah diperbuat selama ini.Menggenggam lilin bernyala di tangan,masing – masing kelompok dan seorang panitia berjalan menuju makam dan menembus kegelapan itu. Kembali berdoa di makam, tiap animator dan animatris membakar secuil kertas bertuliskan harapan dan doa mereka, melalui orang – orang beriman yang telah bahagia di sisi Bapa itulah harapan dan doa mereka akan disampaikan kepada Allah Bapa di surga.\
Embun mulai menyelimuti daerah nan sepi itu, dinginnya udara pagi pun menusuk urat nadi yang merasakannya. Seusai sarapan pagi, sekitar pukul 06.30 para animator dan animatris berkumpul dalam forum kelompok di pendopo. Mereka dengan saksama mendengarkan intruksi panitia outbond. Berlatih menjadi bocah – bocah yang sanggup menghadapi tantangan mereka melalukan perjalanan outbond dan melewati pos demi pos. KErjasama dan kekompakan tim sungguh diuji dalam session ini. Hingga akhirnya tibalah pada session yang terakhir, yaitu presentasi tiap kelompok. Dalam presentasi ini, tiap kelompok telah melalui pos bola hitam yaitu merengkai ayat, pos KKI yaitu menjawab pertanyaan, pos Laba- laba yaitu memindahkan bola pingpong menggunakan pipa dan tali, pos peneguhan dan kesaksian yang dijaga oleh tim keuskupan Semarang, pos tali berjalan, pos estafet air yaitu mengalirkan air menggunakan potongan – potongan bambu, pos the role yaitu bermain peran, pos bayangan yaitu menyanyikan lagu burung kakak tua menggunakan gaya topi saya bundar tanpa aba –aba, dan yang terakhir pos lambang yaitu tiap kelompok harus mengumpulkan lambang apapun yang bermakna remaja penggerak gereja.
Teramat menarik dan berkesan, karena selain berpetualang bocah – bocah ini berlatih untuk membangun kreatifitas dan keaktifan, sera yang tak kalah penting adalah menjalin kerjasama yang tinggi. Salah satu yang paling menarik adalah remaja penggerak gereja gereja diibaratkan seperti akar, dimana akar itu adalah dasar suatu tumbuhan yang sama halnya dengan remaja adalah cikal bakal masa depan gereja, yang apabila terus dipupuk pasti akan bertumbuh subur, berkembang, berbunga, dan berbuah.
Session demi session pun telah terlalui, hingga puncaknya yaitu misa bersama Vikjen keuskupan Purwokerto, Rm. Pur. Tetap semangat dan terus berkarya untuk jadi remaja penggerak gereja adalah pesan dari vikjen kepada animator dan animatris. Membagikan pengalaman sebagai duta cilik paroki kepada teman – teman di paroki asal merupakan tugas utama bagi mereka untuk memulai menghimpun remaja – remaja katolik yang aktif dan kreatif agar dapat menjadi penggerak gereja yang sejati.

Jadi Malaikat Cilik

"Malaikat – malaikat cilik gereja St. Mikael Gombong tak lagi terbang, melainkan duduk beralaskan koran dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan gereja”
Minggu, 13 Juni 2010 menjadi hari yang sungguh berbeda. Tak seperti biasanya, seusai misa pagi lingkungan gereja St Mikael Gombong menjadi ramai, bukan suara music yang terdengar, melainkan suara anak – anak yang bersiap mengikuti lomba mewarnai dan menggambar dalam rangka 75 tahun gereja yang menjadikan suasana amat berkesan.
Sekitar 120 anak sanggup berkumpul dan dengan penuh semangat menjadi partisipan cilik gereja St. Mikael Gombong. Mereka terdiri dari anak – anak usia pra TK hingga SD dan terbagi menjadi 3 kategori, yaitu lomba mewarnai pra TK dan TK, lomba mewarnai SD kelas 1-3, dan lomba menggambar SD kelas 4-6.
Lomba mewarnai kategori pra TK dan TK berlangsung di TK Pius BU Gombong. Anak – anak sungguh diajak untuk berlatih mandiri karena mereka harus berusaha menyelesaikan lomba itu sendiri dengan mengandalkan kreatifitas mereka. Bersama Sr. Monica dan beberapa pendamping, anak –anak mulai mewarnai lembaran kertas bergambar yang bertemakan 75 tahun gereja. Tak kalah menariknya, di sayap kanan gereja anak- anak SD kelas 1-3 pun berbondong - bondong menata sebuah meja kayu cilik dan mengeluarkan senjata pamungkas berupa crayon untuk mewarnai gambar. Alangkah menyenangkan melihat suasana itu, menyaksikan para orang tua yang menunggu anak – anaknya, membiarkan buah hatinya mengembangkan kreatifitas, dan yang paling penting adalah mendorong mereka untuk menjadi seorang partisipan cilik.
Suasana yang berbeda semakin terasa saat menyaksikan anak – anak yang hanya beralaskan koran duduk di sekitar gedung gereja dan sesekali mengamati bangunan nan tinggi itu dengan saksama bak arsitek cilik. Mereka memegang sebuah pensil, menggenggam penggaris di tangan dan mulai menggoreskan pensil di atas selembar kertas putih. Partisipan – partisipan cilik itu menggambar bangunan gereja St, Mikael Gombong. Mereka duduk dalam kelompok – kelompok kecil di bawah pohon sambil menikmati moment yang langka itu. Bagaikan pesulap, mereka mengubah lembaran kertas putih bersih menjadi penuh goresan dan warna. Nia, salah seorang partisipan cilik menggambar sebuah bangunan tinggi dengan tiga sosok lelaki yang tampak berdiri di depan bangunan itu.Seorang lelaki berada di tengah dengan jenggot yang panjang, seorang lelaki di sampingnya memberikan isyarat perdamaian dengan berpose ‘peace’ , dan seorang lelaki yang lain memegang sebuah kamera. Dengan penuh keluguan Nia menjelaskan bahwa bangunan itu adalah gedung gereja St. Mikael Gombong, sedangkan lelaki berjenggot itu adalah Rm. Yitno, lelaki berpose peace di sampingnya adalah Rm. Bagyo, dan lelaki yang memegang kamera adalah Rm. Paul. Bukan hanya Nia, partisipan cilik gereja yang lain pun sungguh imajinatif. Mereka merupakan cikal - bakal masa depan gereja. Mereka adalah malaikat – malaikat cilik yang mengungkapkan rasa cintanya pada Tuhan dan gereja melalui goresan – goresan tinta dan warna.


Stella Auberta

Senin, 07 Juni 2010

MugeLLO Membuat Gello ???

Halo bro, para GP mania !!
Pole position Mugello, siapa yang tak tahu Dani Pedrosa pembalap nan tampan itu. Berhasil menaklukan sirkuit Mugello, sedangkan the doctor Valentino Rossy harus mengubur dalam - dalam keinginannya untuk menaklukan sirkuit itu(06/05), begitu juga Casey Stoner yang 2009 lalu berhasi menaklukan Mugello.
Bayangkan, sang Rajanya Mugello tak bisa berlaga dalam pertandingan karena Valen tergelincir saat latihan bebas Sabtu( 05/05) dan mengalami cidera tulang kering pada kaki kanannya.
Sedangkan Pedrosa cukup cepat di start diikuti Lorenzo, Stoner, dan Dovi. Simoncelli masuk Gravel di Lap pertama ini. Lap Kedua Ketiga, Dovi berhasil adu balap ke posisi ke tiga dan menjadi bayang - bayang Lorenzo.
Di awal Lap Ke 3 Dovi menang dalam adu drag dan Lorenzo pada urutan ke 3!! Repsol Honda sementara di urutan 1-2.
Sedangkan sekitar dua tiga lap berikutnya kita dipertontonkan adu drag antara Dovi dan Lorenzo, tanpa diduga di Lap ke 5 Nicky Hayden Crash !
Pertandingan berjalan tidak begitu panas, karena Pedrosa terus melenggang di depan tanpa ada yang mengganggunya.
Menontonnya? jujur bossaan broo.. !!
Sedikit panas saat Stoner di lap terakhir beraiksi dan berhasil menjadi ekor Dovisiozo.
Tak seperti pertandingan sebelumnya yang sungguh membuat mata terbelalak, kali ini justru membuat mata menjadi redup. Walaupun akhirnya pada lap terakhir hingga finish tetap Pedrosa - Lorenzo - Dovsiozo.
Pedrosa Podium Satu , LorenZo dua, Dovizioso Tiga, Stoner Empat, Melandri Lima, DePuniet Empat.
Prediksi kali ini meleset, karena ternyata icon Yammaha itu di posisi ke 2.
Sedikit mengecewakan bagi para penggemar Rossy, karena memang diakui bahwa ketidak hadirannya dalam laga Mugello membuat gello..
Prediksi pertandingan GP musim 2010 Lorenzo bakal jadi juaranya jika ia tetap bertahan di podium, karena kawannya si Kuning diperkirakan bakal cuty hingga 2 bulan.
Semoga prediksi ini menjadi nyata dan tidak meleset.
LOREnzo semakin di depan !!!!
kita tunggu seri - seri berikutnya..!!!!!
Buat bang Rossy cepet sembuh ya..

Minggu, 06 Juni 2010

Pioner - Pioner Cilik Generasi Penerus Gereja

"Engkau perkenankan pesta bersama Mu, keliling meja altar Mu dalam ekaristi.."


Tak seperti biasanya, wajah - wajah penuh rona kebahagiaan terpancar jelas (Sabtu 5/5)sekitar pukul 16.00 saat dua puluh delapan bocah nan cantik dan tampan,dengan didampingi ke dua orang tua mempersiapkan hati untuk sejenak menyapa Bapa di bangunan tinggi berlambangkan salib di Gereja St. Mikael Gombong.Putihnya pakaian yang mereka kenakan, tak sebanding rasanya dengan pancaran mata yang bening dan rona wajah para bocah yang polos.
"Pesta Tubuh dan Darah Kristus", bocah - bocah calon penerima Komuni I sudah tak sabar menanti perayaan ekaristi sore itu. Mereka yang telah dipersiapkan, diteguhkan, dan memperoleh pembekalan - pembekalan selama beberapa bulan terakhir, akhirnya telah kukuh untuk menjadi bocah - bocah yang lebih dewasa dalam kehidupan beriman Katolik.Barangkali hari itu menjadi hari yang paling mereka tunggu.
Perayaan ekaristi pun dimulai dengan khidmat, lagu pembukaan dinyanyikan siswa - siswi SD Pius BU semakin menambah suasana yang gegap gempita. Iringan - iringan perarakan yang panjang, dengan diiringi para penari cilik semakin menambah suasana nan meriah, membahagiakan bercampur haru tatkala itu.
Perayaan ekaristi bersama Rm. Bagyo Purwosanrosa Pr, Rm. Fx. Yitno Puspahandata Pr, serta Rm Efrem Boly cssr.
Dalam homili Rm Bagyo sungguh mengajak calon Komuni I beserta umat agar semakin dewasa dalam beriman, semakin yakin akan Kristus Yesus. Bahkan sempat terselip harapan paggilan akan para bocah calon penerima sakramen nan suci itu.
Memperbaharui janji babtis , mengungkapkan kesungguhan dan kepercayaan akan Yesus Kristus menunjukkan sebuah keyakinan akan seorang insan Katolik.
Perayaan ekaristi pun berjalan dengan lancar, hingga tibalah saat para bocah beriringan dengan kedua orang tua menerima tubuh dan darah Kristus, yang berupa hosti dan anggur. Merekalah para generasi muda gereja, cikal - bakal masa depan gereja, pioner - pioner cilik yang akan segera bertumbuh dan dikuatkan dalam kehidupan beriman Katolik. Mungkin memang tak banyak, hanya 28 bocah, tetapi tatkala bocah - bocah tersebut bersatu dan berjuang tuk memperjuangkan iman mereka, niscaya mereka tak lagi lemah namun menjadi insan - insan yang kokoh dan kuat.
Seusai perayaan ekaristi, mereka pun mengabadikan moment itu bersama - sama. Hingga akhirnya mereka kembali berkumpul dalam sebuah ruang pertemuan, Panti Mandala. Berbagi kasih dan kebahagiaan. Menunjukkan keberanian, para bocah bernyanyi bersama, sebuah lagu Syukur menjadi bumbu kebahagiaan. Seorang bocah mengungkap rasa dalam sebuah puisi dan lagu, bahkan seorang perwakilan dari mereka, bocah nan cantik pun memberikan sebuah sambutan di antara para romo, suster, dewan pastoral dan bapak ibu.Mengungkapkan dengan lantang bahwa mereka pun siap menjalankan tugas gereja, salah satunya menjadi Putra - Puri Altar esok.
Suasana yang begitu hangat dan berkesan, menyaksikan calon generasi penerus gereja berkumpul dan bersukacita dalam kasih persaudaraan.
Menjadi hari yang langka bagi Gereja St. Mikael Gombong, berkumpul dalam perayaan ekaristi yang sakral namun meriah, menyaksikan pioner - pioner cilik generasi penerus gereja, dan menumbuhkan benih - benih iman yang kuat akan Yesus Kristus.

"Proficiat dan teruslah berkarya untuk menunjukkan dan membuktikan kesetiaan dan kedewasaan iman kalian adik - adik.."

Jumat, 04 Juni 2010

Hanya Tulang yang Ngilukah?

Di pagi yang mendung aku terbangun. Aku terbangun dari tidurku, menghalau mimpiku.
Mimpiku yang langka dalam hidupku. Hidupku yang terasa sesak dan penat. Penatku yang tak kunjung usai.

Mataku tak lagi terpejam saat aku mendengar suara - suara langkah kaki di gubuk ku yang sempit. Saat sang Ayah mulai sibuk dengan aktivitas rutin di paginya yang dingin. Tangan dan kakuku terasa ngilu saat aku beranjak dari tempat tidur ku yang lusuh. Ngilunya benar - benar sangat menusuk. Entah apa yang membuatnya ngilu, sesungguhnya tulangku kah atau hatiku yang ngilu?

Bukan, hatiku tak pernah ngilu. Jantungku masih berdegup dengan normal. Toh, sekarang jari -jariku masih bisa bermain mengungkap hasrat.
Namun, otakku rasanya siap di panggang, lebih tepatnya sudah di panggang. Kata orang otak sapi itu menyehatkan, apakah otakku juga menyehatkan?
"Sudahlah.. Sudah Lia.. Sudah.. sudah cukup.. sudahlah.."

Kenapa aku selalu merasa genting dengan diriku sendiri, aku terlalu rumit dan sulit menyelesaikan bebanku. Masalah yang rumit atau otak ku yang membuatnya rumit?
Selalu dan selalu timbul beribu pertanyaan dalam benakku. Tetapi aku tak jua mendapatkan kunci jawabannya. Terkadang aku merasa lelah dengan hidupku, aku merasa bosan, aku merasa muak, aku merasa dan selalu merasa.
Namun, disaat itulah hasratku untuk mengungkapkannya melalui jari - jariku datang. Entah mungkin karena tak ada kawan dihidupku atau karena aku menyadari bahwa hidupku bukan lagi diriku yang dahulu. Aku menyadari bahwa dunia ini memang sungguh berputar, dan roda dunia ini berputar sangat cepat.

"Tuhan, kenapa Engkau memberi pelumas untuk roda kehidupan?"
Pertanyaan yang hanya ada di angan saat aku tersudut di likuan jurang.
Keadaan itu selalu menyudutkanku, memaksaku untuk jadi aku yang bukan aku. Barangkali memaksaku untuk jadi aku yang sudah berubah. Namun terlalu sulit bagiku.

"Tuhan, tidakkah Engkau mendengar hatiku mengerang kesakitan?"
Dia Tuhanku, aku tahu Dia menyayangiku. Aku sadar Dia menopangku. Aku memahami Dia mencintaiku.Tetapi, aku masih sulit tuk memahami misterinya dalam hidupku.
Misterinya yang teramat sakral bagiku, terlalu sulit tuk jadi sebuah angan dalam pikirku.
Yang kutahu dan kuyakini bahwa Dia teman setiaku. Bukan teman, lebih tepatnya sahabat setiaku. Karena hanya Dia yang mampu mendengar semua keluh kesahku, tanpa komentar apapun. Walaupun terkadang aku jengkel karena Dia tak pernah berkomentar atau terlalu egoiskah aku yang hanya selalu berkeluh kesah padaNya, tetapi aku tak pernah mendengarkannya.

Sabtu, 29 Mei 2010

Maestro Jalanan

Tetesan air hujan seperti jarum, menambah suasana dingin di tengah penatnya kota Yogyakarta di kala senja. Begitu banyak kendaraan lalu lalang, begitu banyak manusia dengan kesibukannya tak peduli dengan nuansa lain si kehidupan yang lain.
Sore itu, kota Yogyakarta yang notabennya adalah kota pelajar seperti biasa penuh sesak dengan para pelajar yang entah sungguh belajar atau hanya sekadar mencicipi nikmatnya kehidupan modern.
Di sebuah tepian jalan, sebuah gerobak penuh bakul dan sayuran di dorong, hingga akhirnya berhenti di tepian dekat tempat gemerlap bernama Papilon. Tempat yang cukup terkenal, karena di sana kita dapat memuaskan perut tanpa merogoh kocek yang dalam.
Orang - orang muda duduk di emperan toko yang telah tutup, tak peduli dengan lalu lalang dan kesibukan jalanan, mereka menikmati sepiring nasi goreng, menjadi nikmat bukan karena kemewahan. Namun menjadi terasa tajam karena suasana jalanan. Suasana yang remang - remang, duduk hanya beralaskan tikar, tak mendengar alunan piano ataupun gesekan biola. Namun jusru mendengar alunan musik ala jalanan.
Entah suasana patut disebut suasana yang memprihatinkan atau malah suasana yang khas, tetapi itulah realitanya. Suasana yang unik yang terkadang menjadi berkesan dan begitu mahal.
Bersama seorang lelaki yang begitu mirip dengan ku, aku rela duduk berdesak - desakan demi melepas rindu akan kasih persaudaraan. Awalnya sedikit bosan, namun menjadi beribu jauh dari penat, saat aku melihat sesosok pria yang menghampiri kami. Pria itu tak tampan seperti aktor, pria itu pun tak kaya seperti seorang jutawan, dan pria itu pun memainkan alunan musik tak seperti seorang pemusik terkenal.
Sesosok pria yang tak muda namun tak tua. Jalannya pun tak seperti peragawan.
Pria itu adalah pria jalanan yang mencari nafkah, entah untuk anaknya, isterinya, atau untuk dirinya sendiri.
Mungkin ia merasa kedinginan karena hanya memakai sebuah kaos berbahan tipis dan celana berwarna kusam. Sungguh jauh dari elith nya dunia, namun begitu mahal sosok itu bagiku.
Ia berjalan, berkalungkan sebuah gitar tak ber merk, tak menyanyi namun memainkan sebuah harmonika, tangannya tak melenggang, namun memainkan gitar dan kumpulan tutup - tutup botol.
Wow, efektif dan efisien sesaat aku melihatnya yang hanya berjalan sendiri menghampiri kami yang sedang menikmati makanan ala jalanan itu.
Semua bergerak, berpadu menjadi sebuah permainan musik yang melengkapi keramaian kota. Namun, terenyuh rasanya saat melihat seorang bapak setengah baya itu harus melakukan hal itu. Rela berjalan jauh dan menahan tetesan air hujan serta terpaan angin, demi beberapa koin uang.
Barangkali bapak itu tak mengenyam pendidikan musik, namun darimana bapak itu memperoleh ide ?
Lalu, bagaimana bapak itu dapat memainkan musik yang tak klasik namun teramat menarik?
Mungkin itulah seni jalanan. Seni yang seringkali hanya berhaarga Rp 100,-

Musik itu teramat langka, bahkan masih terngiang dalam pikirku saat mengingatnya kembali. Permainan alat musik jalanan ala jalanan yang teramat kontras dan mahal bagiku. Teramat cemerlang apabila sosok itu harus menghabiskan senjanya di jalanan.
Barangkali sepele, namun untuk melakukan hal itu, aku yakin sang Bapak harus berlatih dan memutar otak membuahkan sebuah ide cemerlang di tengah segala keterbatasan.
Aku tak tahu siapa dan dari mana sosok itu hadir, aku pun tak tahu sejak kapan sang Bapak menghabiskan senjanya di jalanan bersama permen harmonikanya dan aromanis gitarnya.
Namun bagiku dia adalah satu dari sekian banyak para maestro kehidupan seni dan musik jalanan,.

Minggu, 09 Mei 2010

Senapan Milik Sang Pejongkok

"Seorang bocah cilik itu dengan gayanya yang khas, memegang senapan dengan kuat dan penuh konsentrasi.."

Awan mendung menyelimuti sebuah pelosok, sebuah tempat terpencil, jauh dari gemerlap kehidupan glamour. Sore itu, aku menyusuri jalan yang berkelok - kelok. Menuju sebuah tempat yang sepertinya dapat menjadi penawar kepenatan. Awalnya sedikit enggan bagiku untuk beranjak dari rumah, namun apalah arti keengganan dibanding dengan ketulusan seorang babeh kepada gadis belianya.
Sekitar 20 menit melewati perjalanan yang teramat memacu jantung, akhirnya babeh dan aku pun tiba di sebuah danau cilik buatan manusia, waduk Sempor namanya. Entah seberapa pandai para Insinyur itu hingga sanggup menggali tanah begitu dalam, aku tak peduli karena tak terlintas dalam pikirku saat aku melihat sebuah panorama yang indah.
Dengan santai aku memasrahkan rute kepada sang Babeh, kuyakin bahwa tempat yang dipikihnya pasti menyenangkan, karena aku tak mengerti setiap sudut yang ada di sekitar waduk itu.
Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah tempat yang cukup sepi. Sejenak kepenatanku belum juga sirna, kepenatan yang hanya disimpan dalam nurani.
Selangkah demi selangkah, sambil membawa helm di tangan, aku pun duduk di sebuah batu di antara rerumputan. Tentunya aku memilih sebuah tempat yang strategis, dimana aku bisa memandang ke kumpulan air yang hijau dan membidik arah dermaga dari kejauhan.
Cukup nikmat bagiku, namun tak ada kepuasan dalam batinku yang kosong.
Beberapa meter dari lokasi aku duduk, ada sekumpulan orang dengan pose jongkok, membawa sebuah alat yang panjang seperti senapan, yang ternyata pancing namanya.
Dalam pikiranku selalu terlintas hal yang paling aku benci itu, pekerjaan orang yang aku anggap tidak memiliki pekerjaan. Lama aku mengamati mereka. Sepuluh lelaki dengan posenya masing - masing memegang senapan, tanpa ekspresi, saling bersahut - sahutan seperti burung beo dengan tuannya juga dengan kondentrasi tinggi. Membosankan bagiku memandang mereka, namun detik demi detik, menit demi menit Begitu nikmatnya momenku. Menikmati udara yang membuat lega di dada, tiba - tiba aku tersentak saat mereka berteriak "Ulih kiyee,, ulih.. "
Ternyata, salah seorang dari si Pejongkok itu mendapat seekor ikan. Wow, takjub diriku melihatnya.
Mulai menikmati momenku di sore yang mendung, aku tiba - tiba kembali terlonjak saat seorang bocah berlari menuju danau sambil membawa senapan cilik. Dibuntuti oleh seorang pria tengah baya, bocah ltu tak menghiraukannya.
" Pak, ayuh pak cepet.....!!"teriak bocah itu. Pemandangan yang menggelikan, taatkala melihat bocah cilik itu menjadi seorang pejongkok yang nangkring di atas sebuah sampan, di tepian danau. Tak mau kalah dengan pejongkok lain, bocah itu pun melemparkan sebuah senar dari senapannya. Sementara ayahnya hanya duduk di sampinggnya sambil menghisap rokok.
Pejongkok cilik ini seringkali melirik pada pejongkok lain yang berhasil menembak ikan dengan senapan dan senar hingga berulang kali. Seolah tak mau kalah, bocah ini dengan konsentrasi tinggi memegang senapan yang direndamnya dalam air. Sementara ayahnya masih asyik dengan senapan cilik yang dihisapnya.
Pemandangan yang memiliki citarasa tersendiri, asamnya membuat mata menyipit, manisnya membuat bibir tersenyum, dan pahitnya membuat pepe bergerak.
Sesuatu tanpa aktivitas berarti terkadang bisa jadi begitu bermakna. Menemukan sebuah arti kesabaran, persaingan yang sehat, bahkan sebuah kasih seorang ayah kepada anak lelaki ciliknya, jauh dari keramaian dan kesibukan orang - orang berduit, ditemani rerumputan kering rasanya terlalu mahal untuk dibeli.

"Seperti si Pejongkok cilik pembawa senapan yang berkonsentrasi melihat air yang menggenang dan seorang pria tengah baya yang sibuk menghisap senapan ciliknya, mereka duduk berdampingan dalam sebuah sampan yang rusak di tepian limpahan air karunia TUHAN."

Kamis, 15 April 2010

Tuk menjadi seorang Missionaris Yesus

"Benarkah aku ini animator dan animatris?"
Berteriak, tertawa, dan bercanda itulah ciri khas yang kami bawa dari desa Gombong. Melelahkan namun menyenangkan, pada hari Sabtu - Minggu (10-11/04) kami membakar adrenalin di daerah pegunungan, yaitu Hening Griya Batur Raden.
Meluncur dari Gombong hingga kami hinggap di kaki gunung Slamet sekitar pukul 16.00. Alangkah senangnya ketika kami turun dari mobil dan disambut dengan rona wajah seorang suster yang ramah, Sr. Yuli. Serempak kami berteriak, "Halo suster! Apa kabar?"
Seusai melakukan administrasi dan mengangkut barang - barang kami ke dalam kamar, kami pun bergegas keluar. Bukan teh hangat dan sepotong kue yang kami cari, tetapi justru lokasi indah yang sesuai untuk berfoto - foto ria. Wow, menakjubkan! Orang - orang hanya tertawa geli melihat tingkah kami.
Moment ini menjadi moment spesial, tentunya teramat spesial hingga membuatku tertawa saat kembali terngiang.
Aku merasakan sebuah tali persaudaraan yang erat dan sebuah tali persahabatan di antara animator dan animatris. Terlalu cepat rasanya moment itu terlewati, namun terlalu sulit tuk terlupakan.
Sekitar pukul 18.00 acara dimulai dan sang Dirdios pun memberikan banyak hal, mulai dari sejarah KKI hingga perkembangan KKI di era globalisasi ini. Kami pun di ajak untuk berdiskusi dalam kelompok dekanat masing - masing. Yah, disinilah kami saling sharing, berbagi cerita suka maupun duka sebagai seorang penggerak dan pendamping KKI di paroki kami. Menimba pengalaman baru yang dapat menjadi buah tangan, saat kami kmbali dalam sebuah dinamika paroki.Kami pun menemukan sebuah benang merah, yakni kehadiran Yesus Kristus dalam pelayanan kami, khususnya saat kami mendampingi anak - anak dan remaja katolik dalam paroki masing - masing.
Menanamkan sebuah anekdot dalam kepolosan seorang anak, apapun yang datang pada dirinya secara tiba - tiba, sebutlah nama YESUS, menjadikan YESUS sebagai tokoh idola bagi mereka.
Tanpa terasa,waktu telah larut dan kami pun menutup acara pada malam itu dengan doa malam bersama.
Dinginnya menusuk tulang, sinarnya membangunkan kami di pagi hari yang sejuk dan segar. Berkumpul lagi dalam sebuah ruang yang sunyi dengan alunan musik yang sakral, kami pun berdoa bersama dalam sebuah perjamuan ekaristi.
Walau gerimis mulai membasahi, kami pun tetap semangat. Dalam sebuah animasi, bocah - bocah Gombong ini mengajak para animator-animatris bergoyang bersama.
Di hari yang kedua ini, bersma Pak Yan kami diajak untuk memahami peran KKI dalm kehidupan dalam sebuah paroki. Ditegaskan bahwa KKI tidak hanya beranggotakan anak - anak, namun orang dewasa pun terlbat di dalamnya, tentunya Dewan PAstoral Paroki beserta Romo Paroko pun menjadi bagian dari KKI.Menjadi sebuah rancang grak dan program, dimana kami dapat mensosialisasikan kinerja KKI dalam sebuah paroki, sehingga dapat terjalin kerjasama yang erat demi kemajuan kehidupan gereja katolik di tiap daerah.
Banyak hal yang kami peroleh dan kami serap, semoga pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi kami untuk menjadi seorang animator dan animatris yang dapat menggandeng umat tuk menjadi seorang Laskar Kristus, khususnya harapan kami untuk semakin memajukan dan mempererat tali persaudaraan antar generasi di paroki Gombong.
" Jangan takut dan jangan ragu jadi missionaris Yesus,
satukan semangat SEKAMI doa, derma, kurban kesaksian..
Siapa takut ! CHILDREN HELPING CHILDREN

Rabu, 31 Maret 2010

Akankah menjadi seekor anak ayam

anak ayam menetas dari sebuah telur
telur yang dipeluk ibunya dalam kehangatan,

sungguh setia sang induk menjaganya
mengerami cintanya
tanpa keluh kesah

tak sedikitpun sang induk beranjak
TUHAN,
bahagianya menjadi seorang anak ayam
memiliki induk yang setia menjaganya

lambat laun ia beranjak dewasa
berjalan
bernyanyi nyanyi
anak ayam itu slalu mengikuti sang induk
mengikutinya
mencari makan
bersama sama
tanpa bosan dan lelah

namun,,,
setelah ia beranjak dewasa,
ia harus berjalan sendiri
berpisah dari sang induk
memasrakan nasib
kepada sang empunya

takdir dan nasib..
benar, semua itu takdir dan nasib
di gariskan oleh TUHAN
beranjak dewasa
berjuang
brjuang
menanggung hidup sendiri
dan memasrahkan nasib kepada alam,,

teman,
kau mesti menjadi anak ayam,,
selalu berjuang
sayangilah ayahanda dan ibunda
selagi kao


masih bisa MENYAYANGINYA................

Ketika Rasa Menjerit

Hanya dapat menatap
tak lagi merasa
menjamah pun enggan

mencoba tuk menjangkau
beranjak tuk menggenggam lagi
tertatih tatih merasa lara
juang tuk menampik sangka
ingin memendam
mengobati perihnya jiwa
menghapus lara akan duka
seringkali kata hati hanya menghujat,
menghujat rahasia kehidupan,
jiwa ini pun merasa mual akan kentalnya misteri
tak dapat lagi tuk merasa
terlalu enggan tuk merajut
inginku menghapus sgala lara
inginku beranjak dari jurang yg dalam
inginku berani menjadi yg murni
inginku tak ada palsu parasku
inginku
inginku
inginku..
Hanya dapat terucap,
tak ada daya merangkak
terasa kosong dan hampa
terbuai dalam larutku
hanya dapat merenung
tak sanggup menapaki

mencoba tuk percaya akan kasih'Nya
namun hati kecil berteriak meronta
terlalu dingin rasa dan jiwa
tak dapat merasa pahit dan getir
tak dapat mengecap manisnya cinta
telah mati dan beku


inginku hidup menjadi yg baru
inginku hidup penuh kekuatan hati
mengenang dengan senyum
melupakan kegetiran batin..

Rabu, 24 Maret 2010

Mau Jadi Jurnalis dan Fotografer Cilik?

" Aku bisa ! Aku pasti bisa! Ku tak mau berputus asa.. Aku pasti bisa ! "
Laskar pena bernyanyi, berkumpul, dan tertawa riang di sebuah senja, tatkala mendung menutupi kota Gombong.
Sebuah moment bertemakan "Pelatihan Jurnalistik dan fotografi" di selenggarakan pada 20-21 Maret 2010. 41 ekspresi dan gaya dihasilkan oleh pemuda pemudi jenjang SMP -SMA. Event ini sungguh menarik hingga mampu mendorong para bocah melepaskan segala suntuk dan penatnya pikiran. Menerjang aturan, memburu spontanitas, meninggalkan kekakuan dan segala formalitas.
"Pintar anak -anak..", itulah perkataan yang menggelikandari seorang Mas Sutriyono. Bersama tim Komsos dari Purwokerto Mas Tri rela meluncur ke Gombong untuk berbagi beragam pengalaman dan kajian ilmu jurnalistik. Pelatihan ini pun terselenggara berkat dukungan dari Romo Paulus dan segenap Dewan Paroki St. Mikael Gombong. Kegiatan yang teramat menarik karena dalam pelatihan ini tak hanya pemuda Katolik yang terlibat, namun beberapa pemuda yang berkeyakinan lain pun dapat terlibat. Bocah - bocah yang berasal dari berbagai pelosok kota Gombong dan berbagai sekolah yang berbeda sanggup berkumpul menjadi satu saudara, berlatih dan belajar bersama.

Acara dimulai pukul 17.00, dalam sesi perkenalan kami menjadi pribadi yang murni, menjadi si Bungsu dan si Sulung. Menunjukan karakter kami masing - masing secara gamblang kepada kawan - kawan. Ada beberapa permainan dan ice breaking yang menghanyutkan kami ke dalam nuansa yang begitu ekspresif.
Dalam sesi yang pertama, kami dibagi menjadi beberapa kelompok,membuat sebuah narasi foto, dimana kami menjadi model dengan pose-pose tertentu, disitu ditunjukan bahwa foto mengandung makna, menyimpan sebuah kenangan, dan sanggup membawa imajinasi.
Apa itu 5W+1H ? semakin malam, tentunya semakin menarik. Di sesi berikutnya kami di ajak untuk sharing kelompok, menggambarkan sebuah foto dengan tulisan secara spontanitas. Kami pun menuliskan sgala yang ada dalam pikiran kami, menyatukannya menjadi sebuah narasi pendek. Di situlah kami menemukan bahwa sebuah narasi akan menjadi hidup dan nyata apabila unsur 5W+1H terkandung di dalamnya.
"Yah.....", serempak kami bersuara saat melihat sebuah slide bertuliskan 'wawancara', sesi terakhir pada hari pertama. Bocah - bocah kembali berkumpul dalam kelompoknya masing - masing untuk merancang sebuah rencana wawancara dan menentukan target yang akan kami wawancarai. Inilah tantangan bagi kami untuk berlatih menjadi seorang laskar pena.
Nuansa baru pun kami rasakan keesokan harinya saat mengikuti perayaan ekaristi di gereja St. Mikael Gombong. Seusai misa dengan gesit kami pun mengejar target ( narasumber) untuk diwawancarai. Alangkah menyenangkannya, bagai seeorang wartawan dengan berkalungkan ID Card kami mengajukan pertanyaan - pertanyaan kepada narasumber dan bagai seorang fotografer kami pun memotret narasumber dari berbagai sisi dan sudut. Lelah dan penat pun sirna, kami merasa begitu semangat dan gembira, merasa termotivasi dan terdorong untuk berlatih dan belajar tuk menjadi pioner pioner muda yang bertanggung jawab.
Berkumpul lagi di tepian ruang pertemuan, kami membuat sebuah narasi hasil wawancara dan mensharingkannya bersama teman - teman. Belajar dan berlatih merangkai kalimat demi kalimat hingga terbentuklah sebuah narasi laporan hasil wawancara.
Tak hanya mengkaji jurnalistik, ada pula sesion mengenai Teknik Fotografi yang di berikan oleh Mas Rudi. Bagaimana cara dan teknik memotret yang baik, istilah - istilah fotografi pun diperkenalkan. Walaupun cukup sulit,namun kami dapat sedikit mengenal dunia fotografi. Apa itu ISO, apa itu HI, apa itu landscape? Wow, selama ini yang banyak kami tahu hanya ilmu makanan, namun sekarang kami pun memahami bahwa dunia fotografi jauh lebih rumit dari yang kami bayangkan.
Sesi demi sesi telah kami lalui bersama, di sesi terakhir kami pun diajak untuk merancang sebuah buku kenangan berkaitan dengan 75 tahun gereja St. Mikael Gombong, di mana kami bertugas melakukan wawancara kepada beberapa umat di gereja kami. Menentukan narasumber dan membuat beberapa artikel yang akan menjadi 'celoteh umat Gombong'.
Harus bisa menjadi pioner - pioner cilik, menyumbangak karya - karya sederhana bagi gereja.
"Berlatih dan belajar agar dapat menjadi seorang jurnalis dan fotografer cilik, mampu membius khalayak dengan sebuah perpaduan antanra gambar dan tulisan."

Amograf menguak RASA

Foto punya kekuatan rasa
kekuatan rasa itu aura
aura bukan kemolekan semata
rasa foto membawa makna
menelusuri sudut sudut jiwa dan pikiran
jadi pengobat lara di hati
sesak di dada

setiap memandang
setiap menatap
jiwa ini terjun ke dalam dunianya
raga ini seolah hanyut
bertemu sosoknya
yang kini tak dapat diraih
yang kini tak dapat dijangkau

aura itu dahsyat
menghilangkan semua pedih dan perih
membalut luka di hati
menjadi kawan saat sendiri
kemolekan tumbuh dari hati
daya sang Ahli menabur warna
menjadikan yang mati seolah hidup dan bersanding
membuat hati menjadi baru
tak lagi terlarut dalam kemelaratan rasa
menggandeng hati kecil sang pemberontak
Sang Penghujat misteri Ilahi

Daya sang Ahli sungguh kental
menjaga kesederhanaan
membiarkan goresan warna nya
tak merubah nuansa
sanggup membawa penikmat
bermain di dalamnya
Penikmat ini tak lagi keruh
tetapi menjadi jernih
Penikmat ini tak lagi dangkal
namun menjadi dalam
Dalam dalam memaknai arti kehidupan
Jernih dalam menelusuri misteri Ilahi

Mungkinkah magis?
Mungkinkah ajaib?
Amograf menjadi realita
realita akan adanya rasa dalam sebuah gambar
menyentuhkan aura yang khas
memberi jawaban akan indahnya sesuatu yang mati
namun sungguh terasa hidup
menjadi saksi akan indahnya misteri Ilahi

Sabtu, 09 Januari 2010

Mamaku is MaLaikatku..

Selasa, 5 Januari 2010 genaplah usia seorang bernama Lidwina.
" Happy birthday my mom.. " Yah, ulang tahun mam yang ke 55 ini menjadi hariku yang sangat berbeda. Tahun yang lalu, aku mendatangi kamar mama, memeluk dan menciumnya, mengucapkan selamat ulang tahun. Kami pergi ke gereja bersama, menghabiskan hari itu dengan penuh kebahagiaan.
Namun, kini hanya doa yang dapat kuhantar untuk beliau. Hanya dlam mimpiku, aku dapat memeluk dan menggenggam tangannya.
Seorang wanita yang kuat dan tegar, beliau adalah tokoh dalam hidupku. Beliau memberiku kasih, mengajariku arti sebuah kebersamaan. Saat kecil, ibuku lah yang menitahku, dialah yang menggendongku, mengganti popok ku, memandikanku, hingga menidurkanku.
Kini, ibuku sudah jauh diangan. Ibu yang aku kasihi telah menjadi kawan di sisi Bapa. Ia telah menjadi malaikatku.
Sungguh, di luar sangkaku, karena Ibuku telah tiada. Yah, pada hari Jumat 17 April 2009 sekitar pukul 20.00 WIB beliau dipanggil Tuhan di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Malam itu, aku baru saja tiba di RS sekitar pukul 19.00. Mendengar suaranya pun tidak, aku hanya memandangnya, mengajaknya berdoa, memberinya semangat untuk melewati masa kritis itu. Dia tidak lagi menyapaku saat aku tiba di RS, dia tidak lagi memarahiku karena aku sering teledor dan ceroboh. Ibuku hanya berbaring. Berat rasanya, melihat kenyataan itu. Terngiang dalam pikiranku semua yang telah aku lalui bersamanya. Semua kata - katanya, semua omelan - omelannya, dan semua candanya.
Aku ingat betul, saat beberapa hari sebelum aku mengantar ibuku ke RS, beliau hanya berkata, "Li, kamu mesti rukun sama tetangga, kamu harus bisa bersosialisasi dengan sesama, kalo kita baik pasti orang akan baik dengan kita, kamu juga jangan lupa urus rumah ya, tagihan - tagihan jangan sampe lupa"
Iya, itu aku ingat betul! Aku mengerti maksud dari ibuku, yakni ketulusan. Aku harus dapat memberi dan menerima dengan ketulusan.. Kalimat itu mungkin sepele, tapi itulah kalimat terakhir yang aku dengar beberapa hari sebelum beliau meninggal..

Saat ini, aku mampu menulis semua masa itu. Aku tak lagi meneteskan air mata, aku tak lagi menjadi seorang yang cengeng.
Kini, aku adalah aku. Seorang yang harus menemani sang Ayah tercinta, menjadi adik yang manis bagi sang Kakak.

"Happy Birthday Mama.." Di hari ulang tahun mama, Lia yakin mama telah bahagia di sana. Doakan lah puterimu ini yang masih di dunia, agar ia semakin menjadi dewasa dan dapat menjadi pribadi yang terus berkembang, berusaha menjadi bocah yang mandiri.. Mamaku adalah Malaikatku ..

" Lia love Mama, Papa, and Ko Ian ^^"

Menjelajah mencari gairah iman, why not?? (berbagi .. sedikiit... saja...)

School of Missionary Animators ( SOMA) merupakan program Karya Kepausan Indonesia ( KKI ). KKI sendiri merupakan lembaga kepausan yang bernaung di bawah Kongregasi Suci Evangelasasi Bangsa – Bangsa.
Para animators dan animatrisnya tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan tentunya di pulau Jawa.
Pada tanggal 27 – 29 Juli 2008 yang lalu, diadakan pertemuan SOMA se Regio Jawa.
Pertemuan ini diadakan di Keuskupan Malang, tepatnya di Passionis.
Para animator dan animatris dari berbagai pelosok Jawa bertemu dan berkumpul bersama.
Sebuah pertemuan yang menarik, menyenangkan serta mengugah semangat kaum muda Katholik. Betapa beruntungnya, aku dan teman-temanku bisa berada di tempat itu. Kami lima orang animatris, dua orang animator, dan empat orang pendamping diutus sebagai wakil dari Keuskupan Tercinta, Keuskupan Purwokerto.

Tiga animatris dan seorang animator berasal dari Gombong, aku termasuk salah satu dari mereka. Untuk pertama kalinya kami dapat bertemu sapa dengan berbagai teman dari berbagai daerah di Jawa. Dapat menginjakan kaki di kota sejuk itu, membuatku berbunga-bunga. Campur aduk rasanya, senang, terharu dan bangga.

Tak ada yang menyangka, empat anak Katholik dari sebuah kota kecil (Gombong) dapat menempuh perjalanan jauh untuk menjelajah dan berpetualangan mencari Penyegaran-penyegaran Iman Rohani. Tak ada rasa ragu dibenak kami, karena kami yakin di kota sejuk nan teduh itu kami akan memperoleh pengalaman berharga, yang dapat menggugah gairah dan semangat pelayanan kami sebagai animator dan animatris.

Dihadiri peserta dari 7 keuskupan, yakni keuskupan Jakarta, Surabaya, Bogor, Malang, Bandung, Semarang, dan Purwokerto.
Bayangkan saja, dibandingkan dengan teman-teman dari keuskupan lain, bisa di bilang kami hanya segerombolan anak desa.
Toh, kenyataanya kami memang berasal dari desa. Tetapi, ternyata anggapan itu hanyalah omong kosong belaka.
Disana tak ada perbedaan ras, suku, budaya dan asal usul. Justru dengan logat bahasa yang berbeda-beda, para animator dan animatris mencoba untuk saling memahami, berkomunikasi agar dapat bertukar pengalaman. Selama 3 hari 2 malam kami lalui bersama, menghabiskan waktu bersama-sama.

Yang lebih penting, disana ada berbagai session dan acara yang akan menjadi bekal kami. “Biar nge-genk tapi saksi Kristus”, tema yang sangat menarik.
Mengupas berbagai hal yang biasa terjadi dikalangan kaum muda dan gereja Katholik, serta mencoba mengembangkan sisi positif yang ada, termasuk mencoba mencari solusi bagaimana cara mengubah sisi negatif menjadi sisi positif. Tidak hanya berkumpul dalam forum perkeuskupan, kita juga mengikuti outbond dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa animator dan animatris dari berbagai keuskupan.

Adapula acara bertukar alas kaki, disini kami dapat memetik sebuah pesan betapa sosialisasi, kerja sama, kebersamaan, dan kekompakan sangat dibutuhkan dalam kehidupan iman Katholik. Adapun konsep ala anak muda yang dipakai dalam acara ini menghilangkan kejenuhan dan kebosanan yang seringkali muncul. Rasanya semua letih dan lesu sirna saat itu. Selain itu kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga, yakni mengunjungi yayasan bakti luhur.

Sebuah yayasan yang memberi perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung, membantu dan mendidik anak-anak cacat baik mental maupun fisik. Mata hati kami terbuka saat itu tiba-tiba rasa miris dan prihatin muncul di benak ku, ketika menyaksikan mereka. Di lain pihak, rasa kagum pun muncul. Menyadari bahwa Tuhan Maha Pengasih, Ia tetapi menyayangi teman-teman yang kurang beruntung.

Bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai kemampuan lebih dari pada kita yang normal. Semua itu sungguh menggugah semangat kami, animator dan animatris. Walau aku dan teman-teman ku datang dari pelosok, dengan bermodalkan semangat dan iman kami yakin niscaya kami pun akan memperoleh bekal yang sangat berarti. Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur telah dikaruniai fisik dan mental yang normal, namun kami sering tidak mensyukuri anugrah ini.

Dalam sebuah session setiap keuskupan juga diharuskan menjadi sebuah symbol yang berasal dari anggota tubuh Yesus. Keuskupan Purwokerto mengambil symbol Gigi. Symbol itu memang terlihat sedikit konyol, belum lagi dengan celoteh-celoteh mengenai gigi yang kami ungkapkan saat itu. Namun, symbol gigi menyimpan banyak makna bagi kami. Adanya keterkaitan dan kerja sama antara satu dengan yang lain, perlunya perawatan, serta adanya tujuan yang sama dari anggota yang berbeda-beda, semua itu merupakan alasan mengapa kami memilih gigi sebagai symbol. Keuskupan-keuskupan lain juga mempunyai symbol tersendiri, tentunya dengan alasan-alasan dan makna yang berbeda-beda. Acara yang sangat berkesan bagi ku dan teman-teman.
Session puncak pada hari ke tiga adalah merancang arah gerak setiap keuskupan.
Ini adalah rancang arah dan gerak keuskupan kami,

KEUSKPUAN PURWOKERTO
Gambaran Gereja Sebagai Gigi


Arah :
Mengembangkan komunikasi yang mengharagai perbedaan dan kebersamaan yang disemangat oleh puasaan diri, berlandaskan kasih sehingga menimbulkan suka cita melalui kaderisasi yang mengarah kepada pengembangan budaya kaum muda.

Gerakan :
1. Retret / Seminar
2. Kunjungan remaja antar paroki
3. Pendalaman kitab suci.
Catatan :
Sosialisasi SOMA, bulan September 2008.

Demikian arah dan gerak keuskupan kami keuskupan Purwokerto. Semoga apa yang telah kami rencanakan dapat berjalan dengan baik.

Petulangan kami menjadi pengalaman yang begitu berharga. Tak banyak yang dapat ku bagikan dalam tulisan ini. Walau berasal dari daerah kecil, berpetulang dan berbagai pengalaman hingga sampai keujung dunia pun semangat kami tak akan pudar, karena kami bekerja, berdoa, dan berdema untuk Tuhan dan teman-teman semua. Menggugah semangat dan menyebarkan gairah iman katholik sebagai anak Missioner, petulangan kami tak hanya berhenti sampai di sini.

SCHOOL OF MISSONARY ANIMATORS (SOMA) DAN KARYA KEPAUSAN INDONESIA (KKI)










By: LiaLiaLioo

Ada yang menggelitik dengan Natal

Natal 2009 di gereja St. Mikael Gombong memberi sebuah warna yang baru. "Bertolak ke Seberang" adalah tema utama yang dipilih untuk konsep Natal tahun ini. Memang benar tema ini sungguh memberi sebuah gebrakan, membuat tahun ini terasa berbeda dari tahun - tahun sebelumnya. Tema yang simple, namun mampu membawa hal baru dalam nuansa natal di tahun 2009.
Mungkin awalnya sebagian umat bertanya-tanya " Ada apa dengan gereja kita? "Sungguh sangat menggelitik, memaksa kita untuk ikut berpikir dan merasakan bersama perayaan Natal, sehingga secara tak sadar umat ikut menggali pesan Natal di akhir tahun 2009.
Umat diajak untuk menilik kembali kedewasaan iman yang telah dibina selama ini. Meneliti lagi goresan-goresan apa saja yang telah membekas dalam hidup yang berimankan akan Yesus Kristus.
Tema yang singkat, padat, membawa dampak yang teramat berbeda. Mendorong terciptanya karya baru sebagai bentuk apresiasi dari kehidupan umat Katolik.

Kehadiran gua Natal di sudut kanan gereja menambah nuansa yang damai. Gua itu tidak lagi terbuat dari batu-batuan berwarna gelap, dengan tetesan -tetesan air. Tetapi menjadi sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana, yah layaknya sebuah kandang. Belum lagi, jika diamati lebih detail ada sesuatu yang sangat menarik. Background dari kandang tersebut bukanlah padang hijau yang luas ataupun indahnya cakrawala, tetapi justru sebuah perkotaan yang penuh dengan gedung - gedung pencakar langit. Mengapa bisa demikian ? Yah, inilah apresiasi dari yang sangat membuat kita terpana sejenak dan memikirkannya. Hal ini menggambarkan dua kehidupan yang sangat bertolak belakang. Menunjukan dengan jelas dua sisi dari realita kehidupan di zaman modern ini. Karya baru yang muncul dari sebuah tema " Bertolak ke Seberang". Menanyakan kepada umat, sudahkah kita melihat sisi kehidupan yang lain? Menyampaikan dengan jelas, bahwa Yesus tidaklah lahir dalam keadaan yang layak, dilengkapi dengan fasilitas - fasilitas yang teramat canggih seperti layaknya seorang bayi yang lahir di era ini.
Di sekitar altar pun tidak dijumpai pohon Natal yang dipenuhi dengan pernak-pernik lucu ataupun lampu gemerlapan. Hal yang sangat mengejutkan! Natal yang identik dengan pohon natal, kini sama sekali tak dijumpai di Gereja St. Mikael Gombong. Menimbulkan pertanyaan yang baru, "Ada apa ini?" Yah, inilah apresiasi dari tema tersebut, "Bertolak ke Seberang". Menilik lagi realita kelahiran Yesus yang jauh dari kemewahan duniawi. Menunjukkan bahwa sesuatu dapat membawa kebahagiaan tanpa harus dipenuhi dengan keindahan. Namun, kesederhanaan yang tulus itu lah yang dapat membuat sebuah kedamaian. Selain itu, di sudut kiri atas pada backgrond, ada sebuah kalimat "Masihkah ada diriku di dalam hatimu ?" Pertanyaan yang menggelitik setiap orang. Menanyakan dengan jelas kepada kita, apakah selama ini Yesus sungguh di hati kita? Apakah sungguh kita telah berimankan akan Yesus? Sudahkah kita merayakan kelahiran Yesus dengan kedewasaan iman? Sudahkah Natal menjadi sebuah ketukan hati dan bukan merupakan formalitas Liturgi?
Umat sungguh diajak memahami arti dari Natal, yang barangkali selama ini hanya menjadi formalitas yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya tanpa alasan dan tujuan yang jelas.

Ada satu hal lagi yang sangat spesial, yaitu Misa Natal Anakyang diselenggarakan Jumat, 25 Des 2009. Tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, misa Natal yang dimulai pukul 07.00 WIB bukan lagi misa biasa, namun misa yang sungguh bernuansa anak -anak. Bahkan seluruh petugas mengenakan topi St. Clause. Selain itu, setiap anak yang hadir pun memperoleh sebuah topi St. Clause, mereka dikumpulkan dan diajak duduk bersama untuk merayakan kelahiran Yesus dalam perayaan Ekaristi.

Suasana ini adalah puncak keistimewaan dari misa Natal 2009. Belum lagi dengan adanya St. Clause yang sangat digemari dikalangan anak anak katolik menambah suasana semakin hidup.
Sungguh nuansa misa Natal anak - anak ini menambah warna baru di gerja St. Mikael Gombong.
Dalam misa Natal Anak ini tidak berarti hanya anak - anak yang terlibat, namun orang dewasa juga diajak untuk ikut terlibat. Bukan berarti tak ada orang dewasa, justru dalam misa ini orang dewasa diajak untuk membuka hatinya, melihat generasi muda gereja. Menyampaikan kepedulian akan hadirnya anak anak Tuhan, ikut terlibat dan mengajak putra putri mereka datang ke rumah TUHAN. Umat dapat melihat seberapa besar kepedulian terhadap kelangsungan gereja Katolik. Menyesuaikan akan adanya keberagaman dalam hidup beriman dan menggereja.
Anak - anak pun merasa begitu bahagia, muncul rona keceriaan bak malaikat - malaikat cilik yang menari - nari merayakan kehadiran Yesus. Dalam misa Natal Anak, romo mengajak putra-putri gereja untuk melihat kehidupan nyata yang diparesiasikan dalam sebuah drama anak yang singkat. Anak - anak diajak untuk memperhatikan teman - teman mereka, peduli kepada sesama, seperti Yesus yang selalu mengasihi murd - muridNya.

Natal kali ini simple namun sangat mengena. Umat dapat mengerti benar, Arti dan makna Natal.
Umat awam bisa mengerti lebih jauh, untuk apa kita merayakan Natal.

Kita diajak Bertolak ke Seberang, menjadi pribadi yang sederhana, seperti Yesus yang lahir dengan penuh kesederhanaan, namun membawa damai selama-lamanya.

MaTa Jariku

Kenapa blog ini kuberi nama mata jariku???
Yah, tak lain tak bukan adalah untuk menyalurkan hoby.. Hoby menulis yang sering kulakukan tuk mengisi waktu luang ku sangatlah berarti..
Menghabiskan kesendirian ku di depan komputer,menjelajah dunia maya, mengapresiasikan segala yang ada di sekitarku..