“ Bocah – bocah dari latar belakang yang berbeda, berasal dari pelosok daerah yang berbeda bertekad kuat menjadi animator – animatris remaja penggerak gerejayang bersatu dalam semangat 2D2K ( doa, derma, kurban, kesaksian ) serta berjuang berlandaskan motto ‘children helping children ‘. Mereka adalah cikal bakal masa depan gereja katolik. ”
Bocah – bocah itu menginjakan kaki dengan bangga dan menjadi duta tiap paroki untuk berjuang menimba pengalaman dan menjaring ratusan teman dari berbagai pelosok daerah. Hitam atau putih, keriting atau lurus, besar atau kecil, tinggi atau rendah, kaya atau miskin bukanlah penghalang karena mereka telah menjadi satu dalam ikatan Serikat kepausan anak – anak missioner (Sekami).
Sabtu – Minggu, 19 – 20 Desember 2010 sebuah pendopo di kawasan goa Maria Kaliori penuh sesak karena dihadiri para remaja katolik dari 12 paroki di keuskupan Purwokerto. Bocah – bocah ini datang bukan untuk mengikuti kemah pramuka, melainkan untuk mengikuti sebuah kemah rohani yang bertemakan “Remaja Penggerak Gereja, Yuuk!” Acara ini adalah salah satu program KKI yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan SOMA 2009 yang lalu. Tema yang sama dengan makna dan tujuan yang sama pula, tetapi disajikan dalam konsep yang berbeda. Semua itu adalah moment singkat yang barangkali sanggup menggoda hati para kader muda gereja untuk menjadi remaja penggerak gereja.
“ Ayo teman – teman Sekami di persada Indonesia wujudkan motto kita semua children helping children “. Lagu itu terdengar sangat nyaring saat dinyanyikan para animator – dan animatris dari berbagai paroki pada saat perkenalan yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam moment ini, para remaja diajak untuk bernyanyi dan bergoyang atau biasa disebut sebagai animasi. Animasi ini diharapkan sanggup menggugah rasa dan pikiran agar berpadu menjadi satu tanpa terjadi ketimpangan. Suatu titik awal yang sangat berkesan, meningkatkan keaktifan dan kreatifitas remaja dalam perpaduan antara gerak dan lagu.
Tak hanya berhenti di situ, duta – duta cilik paroki ini pun masih tetap bertahan dalam sebuah pendopo yang berkelilingkan makam hingga sekitar pukul 22.30. Dalam session yang berikutnya, animator dan animatris bertatap muka dengan Sr. Yuliana selaku dirdios keuskupan Purwokerto. Dengan gayanya yang khas dan bersahabat Sr. Yuli pun mencoba membagikan apa itu KKI dalam sebuah tema “About KKI”. Mengetahui dan memahami bagaimana sejarah KKI dan ruang lingkupnya yang mendunia menjadi sebuah modal awal bagi para misionaris cilik untuk membagikan karya bersama teman – temannya.
Seusai santap malam animator dan animatris kembali berkumpul dalam session yang baru. Sesion berikutnya menjadi semakin menarik karena yang membagikan pengalaman kepada bocah – bocah bukan biarawan atau biarawati, melainkan para kader muda dari keuskupan Semarang. Mereka rela meluncur ke Kaliori dan melawan lelah demi berbagi pengalaman menjadi seorang animator dan animatris penggerak gereja. Dalam session ini berlangsung sebuah dinamika kelompok, dimana bocah-bocah terbagi menjadi 10 kelompok kecil yang terdiri dari berbagai paroki. Diajak untuk berdiskusi dan menyatukan pikiran, kelompok – kelompok ini menciptakan sebuah yell sebagai tanda kekompakan mereka. Sanggup bertukar pendapat untuk berbagi pengalaman kehidupan menggereja di masing – masing paroki hingga pada akhirnya mereka harus merumuskan sebuah kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata kunci yang bermakna.
Salah satu yang menarik adalah sebuah kelompok yang memilih kalimat ‘jebule numpak truk’. Ada dengan kalimat yang aneh ini? Ternyata di balik kalimat yang tidak baku ini tersimpan sebuah makna pengorbanan bocah – bocah dalam berkarya bersama Yesus. Mereka yang berbagi pengalaman dalam kehidupan paroki menjelaskan, bahwa suatu hari saat akan berziarah mereka rela berdesak – desakan naik truk karena di tengah perjalanan bus AC yang mereka tunggangi mendadak mogok. Namun di situlah mereka dapat menemukan indahnya kebersamaan dan pengorbanan. Kelompok demi kelompok pun mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan dan dengan hal ini mereka diajak untuk menjadi seorang animator dan animatris yang berani mengungkapkan pendapat, serta membagikan pengalaman tanpa rasa takut dicela ataupun diejek. Seusai session ini anak – anak pun beristirahat dalam tenda masing - masing, menikmati kebersamaan dan persahabatan bersama duta – duta cilik dari berbagai paroki yang sangat ekspresif semakin menghangatkan suasana yang langka itu.
Menyatukan hati dan pikiran di tengah kesunyian. Sekitar pukul 24.00 WIB para animator dan animatris kembali berkumpul di pendopo. Melawan keengganan dan nrasa kantuk, mereka duduk merasakan sunyinya malam berkelilingkan makam. Bukan untuk jerit malam atau hanya sekadar duduk, tetapi bocah – bocah ini dalam suasana doa merasakan keheningan diiringi music taize yang mengalun nan syahdu, Frater Diakon Agung menghimpun mereka untuk kembali menatap pribadi masing – masing individu, bercermin dan mencari setiap sudut kata serta perbuatan yang telah diperbuat selama ini.Menggenggam lilin bernyala di tangan,masing – masing kelompok dan seorang panitia berjalan menuju makam dan menembus kegelapan itu. Kembali berdoa di makam, tiap animator dan animatris membakar secuil kertas bertuliskan harapan dan doa mereka, melalui orang – orang beriman yang telah bahagia di sisi Bapa itulah harapan dan doa mereka akan disampaikan kepada Allah Bapa di surga.\
Embun mulai menyelimuti daerah nan sepi itu, dinginnya udara pagi pun menusuk urat nadi yang merasakannya. Seusai sarapan pagi, sekitar pukul 06.30 para animator dan animatris berkumpul dalam forum kelompok di pendopo. Mereka dengan saksama mendengarkan intruksi panitia outbond. Berlatih menjadi bocah – bocah yang sanggup menghadapi tantangan mereka melalukan perjalanan outbond dan melewati pos demi pos. KErjasama dan kekompakan tim sungguh diuji dalam session ini. Hingga akhirnya tibalah pada session yang terakhir, yaitu presentasi tiap kelompok. Dalam presentasi ini, tiap kelompok telah melalui pos bola hitam yaitu merengkai ayat, pos KKI yaitu menjawab pertanyaan, pos Laba- laba yaitu memindahkan bola pingpong menggunakan pipa dan tali, pos peneguhan dan kesaksian yang dijaga oleh tim keuskupan Semarang, pos tali berjalan, pos estafet air yaitu mengalirkan air menggunakan potongan – potongan bambu, pos the role yaitu bermain peran, pos bayangan yaitu menyanyikan lagu burung kakak tua menggunakan gaya topi saya bundar tanpa aba –aba, dan yang terakhir pos lambang yaitu tiap kelompok harus mengumpulkan lambang apapun yang bermakna remaja penggerak gereja.
Teramat menarik dan berkesan, karena selain berpetualang bocah – bocah ini berlatih untuk membangun kreatifitas dan keaktifan, sera yang tak kalah penting adalah menjalin kerjasama yang tinggi. Salah satu yang paling menarik adalah remaja penggerak gereja gereja diibaratkan seperti akar, dimana akar itu adalah dasar suatu tumbuhan yang sama halnya dengan remaja adalah cikal bakal masa depan gereja, yang apabila terus dipupuk pasti akan bertumbuh subur, berkembang, berbunga, dan berbuah.
Session demi session pun telah terlalui, hingga puncaknya yaitu misa bersama Vikjen keuskupan Purwokerto, Rm. Pur. Tetap semangat dan terus berkarya untuk jadi remaja penggerak gereja adalah pesan dari vikjen kepada animator dan animatris. Membagikan pengalaman sebagai duta cilik paroki kepada teman – teman di paroki asal merupakan tugas utama bagi mereka untuk memulai menghimpun remaja – remaja katolik yang aktif dan kreatif agar dapat menjadi penggerak gereja yang sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar