Kamis, 26 Agustus 2010

Mencicipi Misa 17an Ala Orang Muda Katolik

Begitu banyak bendera Merah Putih berkibar tatkala senja mulai menghampiri daerah Gombong. Sore itu, sekitar pukul 17.00 WIB di gereja Santo Mikael satu persatu umat berdatangan. Bukan untuk misa mingguan mereka datang, tetapi pada tanggal 16 Agustus 2010 mereka datang untuk misa tirakatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65.
Dalam misa tirakatan itu terlihat spesial karena di sana – sini terpasang bendera – bendera cilik yang memang sengaja ditata untuk memeriahkan suasana. Sore itu, Orang Muda Katolik Santo Mikael diberi kesempatan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terlihat wajah – wajah pemuda pemudi yang bersinar memancarkan kegairahan , semangat generasi muda Gereja. Misa tersebut merupakan wujud cinta kita akan Bumi Pertiwi, sebagai bentuk harapan akan masa depan Bangsa demi tercapainya kehidupan yang lebih baik.
“Gereja bagai bahtera mengarungi jaman…” alunan lagu pembukaan yang megah mengiringi romo dan para petugas liturgi masuk menuju altar. Suasana sedikit gelap dengan beberapa sorot lampu yang menambah keindahan dalam kemegahan bangunan Santo Mikael. Baru saja romo selesa mendupai altar, slide Proklamasi di mana sosok Soekarno nampak jelas menarik umat untuk mengenang perjuangan para pendahulu kita. Seusai pembacaan proklamasi, lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan bersama – sama, lagu kebangsaan yang menjadi teriakan cinta masyarakat Indonesia.
Rangkaian misa berjalan dengan lancar. Sebelum homili kaum muda memutarkan slide yang telah dipersiapkan. Bukan film perjuangan yang dipertontonkan, tetapi foto – foto realita kehidupan di era modern yang dibumbui dengan alunan lagu Sentuh hatiku serta tulisan – tulisan yang menjadi pertanyaan refleksi bagi umat. Tema ‘Mengarungi Arus Jaman’ sengaja dipilih oleh Kaum Muda Katolik untuk mempertajam dan menggali makna misa tersebut. Dalam homilinya pun, Rm Dhanang mengajak umat untuk semakin menyadari akan keadaan tanah air di era kini. Bagaimana kehidupan masyararakat, bagaimana keadaan ekonomi negara yang menekan kemiskinan dan penderitaan, serta meningkatkan tindakan-tindakan krimanalitas. Belum lagi dengan bencana alam yang sering terjadi, ledakan – ledakan, juga kinerja pemerintah Indonesia. Umat diajak untuk mengintip realita kehidupan dan memikirkan masa depan Indonesia. Tidak hanya sampai di situ, tetapi diperlukan kesadaraan dan tindakan nyata demi mewujudkan masa depan Bangsa. Begitulah misa tersebut berlangsung dan berjalan dengan lancar. Harapan Orang Muda Katolik santo Mikael adalah dapat menjadi generasi muda katolik yang mampu menggugah semangat untuk terus berjuang bersama dalam mengarungi arus jaman. Tidak berdiam diri,karena iman juga harus diwujudkan dalam kebersamaan dan perjuangan nyata di dunia, tentunya kehidupan dunia yang adalah bagian dari kehidupan Bangsa.
Seusai misa, OMK berkumpul di ruang Panti Mandala untuk mengadakan tirakatan. Seperti biasa acara dibuka dengan lagu – lagu rohani. Bukan sekadar bernyanyi, menari dan bersenang – senang, tetapi kembali berjumpa dengan Romo Dhanang kami lagi – lagi menonton sebuah film. Sangat berbeda dengan slide visualisasi yang diputarkan saat misa, kali ini romo Dhanang memutarkan film yang mengisahkan seorang gadis berusia 14 tahun yang terlanjur hamil. Dikisahkan dalam film itu bagaimana gejolak kehidupan sang Gadis dalam memperjuangkan kandungannya tanpa bersuami. Melalui kisah itulah, romo mengajak kaum muda untuk berefleksi, setujukah dengan tindakan free seks dan tindakan nyata apa yang mesti dilakukan sebagai pribadi yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan RI? Walau dalam forum besar, rupanya pertanyaan itu sungguh menggelitik hingga memancing muda – mudi untuk sharing dan berdiskusi. Semua itu menjadi moment yang menarik dan langka karena suasana kemerdekaan dapat terasa dalam kebersamaan kala itu.
Dapat disimpulkan, sebagai kaum muda katolik yang beriman akan Yesus Kristus, tidak semata – mata hanya beragama dan beriman, tetapi Orang Muda Katolik harus dapat berjuang dan berkembang dengan terus meningkatkan kerjasama dalam menggapai kehidupan yang lebih baik. Tak ingin rasanya membiarkan Indonesia hanya berdiam diri, tak rela jika tak ada tindakan yang realistis. Menjadi generasi muda yang berprinsip, pantang menyerah, dan senantiasa mempererat tali persaudaraan, Orang Muda Katolik harus dapat merealisasikannya dalam keseharian. Tak perlu hanya membual, tetapi berbuat hal yang positif. Dimulai dari hal yang kecil niscaya akan senantisa bertumbuh dan menjadi sesuatu yang besar dan bermanfaat. Orang Muda Katolik adalah masa depan Negara dan Gereja.

“Sekali merdeka tetap merdeka.. Merdeka!”

Tidak ada komentar: