"Seorang bocah cilik itu dengan gayanya yang khas, memegang senapan dengan kuat dan penuh konsentrasi.."
Awan mendung menyelimuti sebuah pelosok, sebuah tempat terpencil, jauh dari gemerlap kehidupan glamour. Sore itu, aku menyusuri jalan yang berkelok - kelok. Menuju sebuah tempat yang sepertinya dapat menjadi penawar kepenatan. Awalnya sedikit enggan bagiku untuk beranjak dari rumah, namun apalah arti keengganan dibanding dengan ketulusan seorang babeh kepada gadis belianya.
Sekitar 20 menit melewati perjalanan yang teramat memacu jantung, akhirnya babeh dan aku pun tiba di sebuah danau cilik buatan manusia, waduk Sempor namanya. Entah seberapa pandai para Insinyur itu hingga sanggup menggali tanah begitu dalam, aku tak peduli karena tak terlintas dalam pikirku saat aku melihat sebuah panorama yang indah.
Dengan santai aku memasrahkan rute kepada sang Babeh, kuyakin bahwa tempat yang dipikihnya pasti menyenangkan, karena aku tak mengerti setiap sudut yang ada di sekitar waduk itu.
Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah tempat yang cukup sepi. Sejenak kepenatanku belum juga sirna, kepenatan yang hanya disimpan dalam nurani.
Selangkah demi selangkah, sambil membawa helm di tangan, aku pun duduk di sebuah batu di antara rerumputan. Tentunya aku memilih sebuah tempat yang strategis, dimana aku bisa memandang ke kumpulan air yang hijau dan membidik arah dermaga dari kejauhan.
Cukup nikmat bagiku, namun tak ada kepuasan dalam batinku yang kosong.
Beberapa meter dari lokasi aku duduk, ada sekumpulan orang dengan pose jongkok, membawa sebuah alat yang panjang seperti senapan, yang ternyata pancing namanya.
Dalam pikiranku selalu terlintas hal yang paling aku benci itu, pekerjaan orang yang aku anggap tidak memiliki pekerjaan. Lama aku mengamati mereka. Sepuluh lelaki dengan posenya masing - masing memegang senapan, tanpa ekspresi, saling bersahut - sahutan seperti burung beo dengan tuannya juga dengan kondentrasi tinggi. Membosankan bagiku memandang mereka, namun detik demi detik, menit demi menit Begitu nikmatnya momenku. Menikmati udara yang membuat lega di dada, tiba - tiba aku tersentak saat mereka berteriak "Ulih kiyee,, ulih.. "
Ternyata, salah seorang dari si Pejongkok itu mendapat seekor ikan. Wow, takjub diriku melihatnya.
Mulai menikmati momenku di sore yang mendung, aku tiba - tiba kembali terlonjak saat seorang bocah berlari menuju danau sambil membawa senapan cilik. Dibuntuti oleh seorang pria tengah baya, bocah ltu tak menghiraukannya.
" Pak, ayuh pak cepet.....!!"teriak bocah itu. Pemandangan yang menggelikan, taatkala melihat bocah cilik itu menjadi seorang pejongkok yang nangkring di atas sebuah sampan, di tepian danau. Tak mau kalah dengan pejongkok lain, bocah itu pun melemparkan sebuah senar dari senapannya. Sementara ayahnya hanya duduk di sampinggnya sambil menghisap rokok.
Pejongkok cilik ini seringkali melirik pada pejongkok lain yang berhasil menembak ikan dengan senapan dan senar hingga berulang kali. Seolah tak mau kalah, bocah ini dengan konsentrasi tinggi memegang senapan yang direndamnya dalam air. Sementara ayahnya masih asyik dengan senapan cilik yang dihisapnya.
Pemandangan yang memiliki citarasa tersendiri, asamnya membuat mata menyipit, manisnya membuat bibir tersenyum, dan pahitnya membuat pepe bergerak.
Sesuatu tanpa aktivitas berarti terkadang bisa jadi begitu bermakna. Menemukan sebuah arti kesabaran, persaingan yang sehat, bahkan sebuah kasih seorang ayah kepada anak lelaki ciliknya, jauh dari keramaian dan kesibukan orang - orang berduit, ditemani rerumputan kering rasanya terlalu mahal untuk dibeli.
"Seperti si Pejongkok cilik pembawa senapan yang berkonsentrasi melihat air yang menggenang dan seorang pria tengah baya yang sibuk menghisap senapan ciliknya, mereka duduk berdampingan dalam sebuah sampan yang rusak di tepian limpahan air karunia TUHAN."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar