Jumat, 04 Juni 2010

Hanya Tulang yang Ngilukah?

Di pagi yang mendung aku terbangun. Aku terbangun dari tidurku, menghalau mimpiku.
Mimpiku yang langka dalam hidupku. Hidupku yang terasa sesak dan penat. Penatku yang tak kunjung usai.

Mataku tak lagi terpejam saat aku mendengar suara - suara langkah kaki di gubuk ku yang sempit. Saat sang Ayah mulai sibuk dengan aktivitas rutin di paginya yang dingin. Tangan dan kakuku terasa ngilu saat aku beranjak dari tempat tidur ku yang lusuh. Ngilunya benar - benar sangat menusuk. Entah apa yang membuatnya ngilu, sesungguhnya tulangku kah atau hatiku yang ngilu?

Bukan, hatiku tak pernah ngilu. Jantungku masih berdegup dengan normal. Toh, sekarang jari -jariku masih bisa bermain mengungkap hasrat.
Namun, otakku rasanya siap di panggang, lebih tepatnya sudah di panggang. Kata orang otak sapi itu menyehatkan, apakah otakku juga menyehatkan?
"Sudahlah.. Sudah Lia.. Sudah.. sudah cukup.. sudahlah.."

Kenapa aku selalu merasa genting dengan diriku sendiri, aku terlalu rumit dan sulit menyelesaikan bebanku. Masalah yang rumit atau otak ku yang membuatnya rumit?
Selalu dan selalu timbul beribu pertanyaan dalam benakku. Tetapi aku tak jua mendapatkan kunci jawabannya. Terkadang aku merasa lelah dengan hidupku, aku merasa bosan, aku merasa muak, aku merasa dan selalu merasa.
Namun, disaat itulah hasratku untuk mengungkapkannya melalui jari - jariku datang. Entah mungkin karena tak ada kawan dihidupku atau karena aku menyadari bahwa hidupku bukan lagi diriku yang dahulu. Aku menyadari bahwa dunia ini memang sungguh berputar, dan roda dunia ini berputar sangat cepat.

"Tuhan, kenapa Engkau memberi pelumas untuk roda kehidupan?"
Pertanyaan yang hanya ada di angan saat aku tersudut di likuan jurang.
Keadaan itu selalu menyudutkanku, memaksaku untuk jadi aku yang bukan aku. Barangkali memaksaku untuk jadi aku yang sudah berubah. Namun terlalu sulit bagiku.

"Tuhan, tidakkah Engkau mendengar hatiku mengerang kesakitan?"
Dia Tuhanku, aku tahu Dia menyayangiku. Aku sadar Dia menopangku. Aku memahami Dia mencintaiku.Tetapi, aku masih sulit tuk memahami misterinya dalam hidupku.
Misterinya yang teramat sakral bagiku, terlalu sulit tuk jadi sebuah angan dalam pikirku.
Yang kutahu dan kuyakini bahwa Dia teman setiaku. Bukan teman, lebih tepatnya sahabat setiaku. Karena hanya Dia yang mampu mendengar semua keluh kesahku, tanpa komentar apapun. Walaupun terkadang aku jengkel karena Dia tak pernah berkomentar atau terlalu egoiskah aku yang hanya selalu berkeluh kesah padaNya, tetapi aku tak pernah mendengarkannya.

Tidak ada komentar: