"Tak disangka, bangunan itu patut aku panggil kakek.."
Bocah itu terpana, melihat sebuah bangunan yang tinggi nan megah dan batinnya bertanya - tanya mengapa bangunan itu berlambang salib?
Sebuah kompleks yang asri berada di sebuah kota kecil, lebih tepatnya kota yang kurang terkenal. Bangunan tinggi berlambang salib itu adalah sang Kakek. Sang kakek yang menjadi saksi saat orang - orang berpakaian rapi datang untuk menemui Tuhannya.
Kakek itu sudah berusia 75 tahun, tetapi dia masih kuat berdiri dan tidak pernah tertatih - tatih. Banyak orang menyayanginya, datang kepadanya, dan menjadikannya kawan untuk bercanda dalam Diam.
Sebuah gereja katolik yang berada di kota Gombong bernama Gereja St. Mikael adalah bangunan tua yang masih berdiri kokoh sejak tanggal 29 September 1925. Bukan bangunan yang sekadar terbentuk atas batu dan bata, melainkan terbangun atas himpunan umat Kristiani di kota yang terpencil ini. Telah hidup menjadi sebuah dinamika kehidupan umat yang begitu kompleks dan penuh warna.
Tak lama lagi sang Kakek akan merayakan usianya yang ke 75 tahun. Barangkali kakek merasa senang karena anak - anak dan cucu - cucunya akan memberikan sebuah kado yang indah, yakni sebuah kado yang melambangkan cintakasih dalam persaudaraan.
Para frater dari sebuah seminari akan menilik dan menelusuri kembali sebuah sejarah dan menuangkannya dalam sebuah buku. Tak hanya sejarah secara fisik, tetapi kisah hidup dan gejolak - gejolaknya pun akan terkuak. Cucu - cucu kakek berkumpul dan mencari silsilah keluarga katolik di Gombong ini. Tugas ini cukup sulit, tetapi bagi kami ini bukanlah sebuah tugas melainkan sebuah pelayanan dan tanda kasih atas anugerah kehidupan iman yang telah diperoleh selama ini.
Kami ingin membagikan cerita kita kepada setiap orang. Membagi cerita yang di dalamnya mengungkapkan sebuah himpunan yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Mendengarkan celoteh - celoteh dari berbagai kalangan yang telah terhimpun.
Kami ingin tahu bagaimana dewan pastoral memandang soal gereja, kami penasaran dengan pandangan seorang tukang becak mengenai himpunan orang - orang katolik, bagaimana seorang janda yang tak lagi merasa kesepian saat berada dalam rongga tubuh Gereja, dan apa yang ada dipikiran seorang anak tentang bangunan yang megah ini.
Semua itu akan kami telusuri dan kami ungkapkan melalui sebuah pena dan kertas, serta dihidupkan dalam sebuah Amograf.
Berbagi sebuah realita kehidupan katolik, celoteh warga Santo Mikael.
Bocah itu hanya diam, terus memandang
tak lengah tatkala seorang pria tengah baya menarik, menggenggam jemarinya
pikirnya melayang
mencari oase kehidupan
dalam sebuah bangunan berlambang salib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar