" Aku bisa ! Aku pasti bisa! Ku tak mau berputus asa.. Aku pasti bisa ! "
Laskar pena bernyanyi, berkumpul, dan tertawa riang di sebuah senja, tatkala mendung menutupi kota Gombong.
Sebuah moment bertemakan "Pelatihan Jurnalistik dan fotografi" di selenggarakan pada 20-21 Maret 2010. 41 ekspresi dan gaya dihasilkan oleh pemuda pemudi jenjang SMP -SMA. Event ini sungguh menarik hingga mampu mendorong para bocah melepaskan segala suntuk dan penatnya pikiran. Menerjang aturan, memburu spontanitas, meninggalkan kekakuan dan segala formalitas.
"Pintar anak -anak..", itulah perkataan yang menggelikandari seorang Mas Sutriyono. Bersama tim Komsos dari Purwokerto Mas Tri rela meluncur ke Gombong untuk berbagi beragam pengalaman dan kajian ilmu jurnalistik. Pelatihan ini pun terselenggara berkat dukungan dari Romo Paulus dan segenap Dewan Paroki St. Mikael Gombong. Kegiatan yang teramat menarik karena dalam pelatihan ini tak hanya pemuda Katolik yang terlibat, namun beberapa pemuda yang berkeyakinan lain pun dapat terlibat. Bocah - bocah yang berasal dari berbagai pelosok kota Gombong dan berbagai sekolah yang berbeda sanggup berkumpul menjadi satu saudara, berlatih dan belajar bersama.
Acara dimulai pukul 17.00, dalam sesi perkenalan kami menjadi pribadi yang murni, menjadi si Bungsu dan si Sulung. Menunjukan karakter kami masing - masing secara gamblang kepada kawan - kawan. Ada beberapa permainan dan ice breaking yang menghanyutkan kami ke dalam nuansa yang begitu ekspresif.
Dalam sesi yang pertama, kami dibagi menjadi beberapa kelompok,membuat sebuah narasi foto, dimana kami menjadi model dengan pose-pose tertentu, disitu ditunjukan bahwa foto mengandung makna, menyimpan sebuah kenangan, dan sanggup membawa imajinasi.
Apa itu 5W+1H ? semakin malam, tentunya semakin menarik. Di sesi berikutnya kami di ajak untuk sharing kelompok, menggambarkan sebuah foto dengan tulisan secara spontanitas. Kami pun menuliskan sgala yang ada dalam pikiran kami, menyatukannya menjadi sebuah narasi pendek. Di situlah kami menemukan bahwa sebuah narasi akan menjadi hidup dan nyata apabila unsur 5W+1H terkandung di dalamnya.
"Yah.....", serempak kami bersuara saat melihat sebuah slide bertuliskan 'wawancara', sesi terakhir pada hari pertama. Bocah - bocah kembali berkumpul dalam kelompoknya masing - masing untuk merancang sebuah rencana wawancara dan menentukan target yang akan kami wawancarai. Inilah tantangan bagi kami untuk berlatih menjadi seorang laskar pena.
Nuansa baru pun kami rasakan keesokan harinya saat mengikuti perayaan ekaristi di gereja St. Mikael Gombong. Seusai misa dengan gesit kami pun mengejar target ( narasumber) untuk diwawancarai. Alangkah menyenangkannya, bagai seeorang wartawan dengan berkalungkan ID Card kami mengajukan pertanyaan - pertanyaan kepada narasumber dan bagai seorang fotografer kami pun memotret narasumber dari berbagai sisi dan sudut. Lelah dan penat pun sirna, kami merasa begitu semangat dan gembira, merasa termotivasi dan terdorong untuk berlatih dan belajar tuk menjadi pioner pioner muda yang bertanggung jawab.
Berkumpul lagi di tepian ruang pertemuan, kami membuat sebuah narasi hasil wawancara dan mensharingkannya bersama teman - teman. Belajar dan berlatih merangkai kalimat demi kalimat hingga terbentuklah sebuah narasi laporan hasil wawancara.
Tak hanya mengkaji jurnalistik, ada pula sesion mengenai Teknik Fotografi yang di berikan oleh Mas Rudi. Bagaimana cara dan teknik memotret yang baik, istilah - istilah fotografi pun diperkenalkan. Walaupun cukup sulit,namun kami dapat sedikit mengenal dunia fotografi. Apa itu ISO, apa itu HI, apa itu landscape? Wow, selama ini yang banyak kami tahu hanya ilmu makanan, namun sekarang kami pun memahami bahwa dunia fotografi jauh lebih rumit dari yang kami bayangkan.
Sesi demi sesi telah kami lalui bersama, di sesi terakhir kami pun diajak untuk merancang sebuah buku kenangan berkaitan dengan 75 tahun gereja St. Mikael Gombong, di mana kami bertugas melakukan wawancara kepada beberapa umat di gereja kami. Menentukan narasumber dan membuat beberapa artikel yang akan menjadi 'celoteh umat Gombong'.
Harus bisa menjadi pioner - pioner cilik, menyumbangak karya - karya sederhana bagi gereja.
"Berlatih dan belajar agar dapat menjadi seorang jurnalis dan fotografer cilik, mampu membius khalayak dengan sebuah perpaduan antanra gambar dan tulisan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar