Sabtu, 09 Januari 2010

Menjelajah mencari gairah iman, why not?? (berbagi .. sedikiit... saja...)

School of Missionary Animators ( SOMA) merupakan program Karya Kepausan Indonesia ( KKI ). KKI sendiri merupakan lembaga kepausan yang bernaung di bawah Kongregasi Suci Evangelasasi Bangsa – Bangsa.
Para animators dan animatrisnya tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan tentunya di pulau Jawa.
Pada tanggal 27 – 29 Juli 2008 yang lalu, diadakan pertemuan SOMA se Regio Jawa.
Pertemuan ini diadakan di Keuskupan Malang, tepatnya di Passionis.
Para animator dan animatris dari berbagai pelosok Jawa bertemu dan berkumpul bersama.
Sebuah pertemuan yang menarik, menyenangkan serta mengugah semangat kaum muda Katholik. Betapa beruntungnya, aku dan teman-temanku bisa berada di tempat itu. Kami lima orang animatris, dua orang animator, dan empat orang pendamping diutus sebagai wakil dari Keuskupan Tercinta, Keuskupan Purwokerto.

Tiga animatris dan seorang animator berasal dari Gombong, aku termasuk salah satu dari mereka. Untuk pertama kalinya kami dapat bertemu sapa dengan berbagai teman dari berbagai daerah di Jawa. Dapat menginjakan kaki di kota sejuk itu, membuatku berbunga-bunga. Campur aduk rasanya, senang, terharu dan bangga.

Tak ada yang menyangka, empat anak Katholik dari sebuah kota kecil (Gombong) dapat menempuh perjalanan jauh untuk menjelajah dan berpetualangan mencari Penyegaran-penyegaran Iman Rohani. Tak ada rasa ragu dibenak kami, karena kami yakin di kota sejuk nan teduh itu kami akan memperoleh pengalaman berharga, yang dapat menggugah gairah dan semangat pelayanan kami sebagai animator dan animatris.

Dihadiri peserta dari 7 keuskupan, yakni keuskupan Jakarta, Surabaya, Bogor, Malang, Bandung, Semarang, dan Purwokerto.
Bayangkan saja, dibandingkan dengan teman-teman dari keuskupan lain, bisa di bilang kami hanya segerombolan anak desa.
Toh, kenyataanya kami memang berasal dari desa. Tetapi, ternyata anggapan itu hanyalah omong kosong belaka.
Disana tak ada perbedaan ras, suku, budaya dan asal usul. Justru dengan logat bahasa yang berbeda-beda, para animator dan animatris mencoba untuk saling memahami, berkomunikasi agar dapat bertukar pengalaman. Selama 3 hari 2 malam kami lalui bersama, menghabiskan waktu bersama-sama.

Yang lebih penting, disana ada berbagai session dan acara yang akan menjadi bekal kami. “Biar nge-genk tapi saksi Kristus”, tema yang sangat menarik.
Mengupas berbagai hal yang biasa terjadi dikalangan kaum muda dan gereja Katholik, serta mencoba mengembangkan sisi positif yang ada, termasuk mencoba mencari solusi bagaimana cara mengubah sisi negatif menjadi sisi positif. Tidak hanya berkumpul dalam forum perkeuskupan, kita juga mengikuti outbond dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa animator dan animatris dari berbagai keuskupan.

Adapula acara bertukar alas kaki, disini kami dapat memetik sebuah pesan betapa sosialisasi, kerja sama, kebersamaan, dan kekompakan sangat dibutuhkan dalam kehidupan iman Katholik. Adapun konsep ala anak muda yang dipakai dalam acara ini menghilangkan kejenuhan dan kebosanan yang seringkali muncul. Rasanya semua letih dan lesu sirna saat itu. Selain itu kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga, yakni mengunjungi yayasan bakti luhur.

Sebuah yayasan yang memberi perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung, membantu dan mendidik anak-anak cacat baik mental maupun fisik. Mata hati kami terbuka saat itu tiba-tiba rasa miris dan prihatin muncul di benak ku, ketika menyaksikan mereka. Di lain pihak, rasa kagum pun muncul. Menyadari bahwa Tuhan Maha Pengasih, Ia tetapi menyayangi teman-teman yang kurang beruntung.

Bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai kemampuan lebih dari pada kita yang normal. Semua itu sungguh menggugah semangat kami, animator dan animatris. Walau aku dan teman-teman ku datang dari pelosok, dengan bermodalkan semangat dan iman kami yakin niscaya kami pun akan memperoleh bekal yang sangat berarti. Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur telah dikaruniai fisik dan mental yang normal, namun kami sering tidak mensyukuri anugrah ini.

Dalam sebuah session setiap keuskupan juga diharuskan menjadi sebuah symbol yang berasal dari anggota tubuh Yesus. Keuskupan Purwokerto mengambil symbol Gigi. Symbol itu memang terlihat sedikit konyol, belum lagi dengan celoteh-celoteh mengenai gigi yang kami ungkapkan saat itu. Namun, symbol gigi menyimpan banyak makna bagi kami. Adanya keterkaitan dan kerja sama antara satu dengan yang lain, perlunya perawatan, serta adanya tujuan yang sama dari anggota yang berbeda-beda, semua itu merupakan alasan mengapa kami memilih gigi sebagai symbol. Keuskupan-keuskupan lain juga mempunyai symbol tersendiri, tentunya dengan alasan-alasan dan makna yang berbeda-beda. Acara yang sangat berkesan bagi ku dan teman-teman.
Session puncak pada hari ke tiga adalah merancang arah gerak setiap keuskupan.
Ini adalah rancang arah dan gerak keuskupan kami,

KEUSKPUAN PURWOKERTO
Gambaran Gereja Sebagai Gigi


Arah :
Mengembangkan komunikasi yang mengharagai perbedaan dan kebersamaan yang disemangat oleh puasaan diri, berlandaskan kasih sehingga menimbulkan suka cita melalui kaderisasi yang mengarah kepada pengembangan budaya kaum muda.

Gerakan :
1. Retret / Seminar
2. Kunjungan remaja antar paroki
3. Pendalaman kitab suci.
Catatan :
Sosialisasi SOMA, bulan September 2008.

Demikian arah dan gerak keuskupan kami keuskupan Purwokerto. Semoga apa yang telah kami rencanakan dapat berjalan dengan baik.

Petulangan kami menjadi pengalaman yang begitu berharga. Tak banyak yang dapat ku bagikan dalam tulisan ini. Walau berasal dari daerah kecil, berpetulang dan berbagai pengalaman hingga sampai keujung dunia pun semangat kami tak akan pudar, karena kami bekerja, berdoa, dan berdema untuk Tuhan dan teman-teman semua. Menggugah semangat dan menyebarkan gairah iman katholik sebagai anak Missioner, petulangan kami tak hanya berhenti sampai di sini.

SCHOOL OF MISSONARY ANIMATORS (SOMA) DAN KARYA KEPAUSAN INDONESIA (KKI)










By: LiaLiaLioo

Tidak ada komentar: