Tetesan air hujan seperti jarum, menambah suasana dingin di tengah penatnya kota Yogyakarta di kala senja. Begitu banyak kendaraan lalu lalang, begitu banyak manusia dengan kesibukannya tak peduli dengan nuansa lain si kehidupan yang lain.
Sore itu, kota Yogyakarta yang notabennya adalah kota pelajar seperti biasa penuh sesak dengan para pelajar yang entah sungguh belajar atau hanya sekadar mencicipi nikmatnya kehidupan modern.
Di sebuah tepian jalan, sebuah gerobak penuh bakul dan sayuran di dorong, hingga akhirnya berhenti di tepian dekat tempat gemerlap bernama Papilon. Tempat yang cukup terkenal, karena di sana kita dapat memuaskan perut tanpa merogoh kocek yang dalam.
Orang - orang muda duduk di emperan toko yang telah tutup, tak peduli dengan lalu lalang dan kesibukan jalanan, mereka menikmati sepiring nasi goreng, menjadi nikmat bukan karena kemewahan. Namun menjadi terasa tajam karena suasana jalanan. Suasana yang remang - remang, duduk hanya beralaskan tikar, tak mendengar alunan piano ataupun gesekan biola. Namun jusru mendengar alunan musik ala jalanan.
Entah suasana patut disebut suasana yang memprihatinkan atau malah suasana yang khas, tetapi itulah realitanya. Suasana yang unik yang terkadang menjadi berkesan dan begitu mahal.
Bersama seorang lelaki yang begitu mirip dengan ku, aku rela duduk berdesak - desakan demi melepas rindu akan kasih persaudaraan. Awalnya sedikit bosan, namun menjadi beribu jauh dari penat, saat aku melihat sesosok pria yang menghampiri kami. Pria itu tak tampan seperti aktor, pria itu pun tak kaya seperti seorang jutawan, dan pria itu pun memainkan alunan musik tak seperti seorang pemusik terkenal.
Sesosok pria yang tak muda namun tak tua. Jalannya pun tak seperti peragawan.
Pria itu adalah pria jalanan yang mencari nafkah, entah untuk anaknya, isterinya, atau untuk dirinya sendiri.
Mungkin ia merasa kedinginan karena hanya memakai sebuah kaos berbahan tipis dan celana berwarna kusam. Sungguh jauh dari elith nya dunia, namun begitu mahal sosok itu bagiku.
Ia berjalan, berkalungkan sebuah gitar tak ber merk, tak menyanyi namun memainkan sebuah harmonika, tangannya tak melenggang, namun memainkan gitar dan kumpulan tutup - tutup botol.
Wow, efektif dan efisien sesaat aku melihatnya yang hanya berjalan sendiri menghampiri kami yang sedang menikmati makanan ala jalanan itu.
Semua bergerak, berpadu menjadi sebuah permainan musik yang melengkapi keramaian kota. Namun, terenyuh rasanya saat melihat seorang bapak setengah baya itu harus melakukan hal itu. Rela berjalan jauh dan menahan tetesan air hujan serta terpaan angin, demi beberapa koin uang.
Barangkali bapak itu tak mengenyam pendidikan musik, namun darimana bapak itu memperoleh ide ?
Lalu, bagaimana bapak itu dapat memainkan musik yang tak klasik namun teramat menarik?
Mungkin itulah seni jalanan. Seni yang seringkali hanya berhaarga Rp 100,-
Musik itu teramat langka, bahkan masih terngiang dalam pikirku saat mengingatnya kembali. Permainan alat musik jalanan ala jalanan yang teramat kontras dan mahal bagiku. Teramat cemerlang apabila sosok itu harus menghabiskan senjanya di jalanan.
Barangkali sepele, namun untuk melakukan hal itu, aku yakin sang Bapak harus berlatih dan memutar otak membuahkan sebuah ide cemerlang di tengah segala keterbatasan.
Aku tak tahu siapa dan dari mana sosok itu hadir, aku pun tak tahu sejak kapan sang Bapak menghabiskan senjanya di jalanan bersama permen harmonikanya dan aromanis gitarnya.
Namun bagiku dia adalah satu dari sekian banyak para maestro kehidupan seni dan musik jalanan,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar