Sore itu, aku tiba di sebuah rumah bercat putih, sebuah rumah sederhana tempatku berbagi kasih dengan Ayah dan saudara lelaki ku. Badan ku terasa lelah dan kaku karena baru saja aku menempuh perjalanan ke Solo.
Spontan aku mengusap leherku denan handuk yang hangat dan terasa sedikit aneh dengan leher kanan ku. Leher bagian kanan terasa kencang, kaku dan sedikit bengkak. Spontan aku bercerita kepada kakak lelakiku, dia pun langsung mengajakku ke dokter.
Awalnya kami mengira bahwa aku hanya kecapean dan sebentar pasti sembuh. Aku pun menyadari bahwa ternyata di pangkal leher sebelah kanan ku ada sebuah benjolan kecil yang kata dokter adalah infeksi di bawah kulit.
Lima hari aku mengkonsumsi obat dan tidak ada perubahan. Aku pun kembali ke dokter yang sama, dan dokter berkata, "Mudah - mudahan ada perubahan, jika tidak akan saya rujuk ke dokter bedah."
Ternyata masih tidak ada perubahan dan hal ini sungguh membuatku khawatir. Akhirnya, aku pun diajak ke sebuah RS di Yogyakarta, karena diharapkan akan ada pemeriksaan intensif. Namun, alangkah penatnya saat aku bertemu dengan seorang pria tengah baya berdarah Simanjuntak yang merupakan dokter bedah di RS itu. Dokter itu langsung menembakku dengan kata operasi dan itu membuatku penat bahkan seribu penat dan dongkol. Aku pun menjalani beberapa tes, yakni tes darah dan foto toraks. Pemeriksaan yang membuatju merasa jijik dengan bangunan berbau obat itu.
Aku hanya dapat menangis dan merintih, aku pasrah dan hanya dapat mempercayakan semuanya kepada sang Ilahi.
Aku harus menjalani pemeriksaan dan mentalku belum siap. Lelah dan bosan, aku dan kakak ku meluncur ke sebuah perkebunan di mana tante ku berada. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan seorang bapak bersama keluarganya dan sungguh tak terduga bahwa ternyata bapak itu adalah seorang dokter yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Kami pun berbagi cerita, mungkin lebih tepat nya adalah aku yang mendengarkan ceritanya dan menyikmak semua sarannya.
Berpikir seribu, aku pun menelepon dokter yang siap mengoperasiku, " Dokter, Lia belum siap menjalani operasi biopsi besok pagi." demikian aku berkata dengan penuh keyakinan.
Sia - sia rasanya jauh - jauh aku ke kota itu tetapi hanya penat yang aku dapatkan. Namun alangkah terbukanya pikiran ku saat aku menerima sebuah saran dari seorang pastor agar aku mencoba pengobatan alternatif di kota Purworejo. Membuat kakak lelaki ku berpikir cepat dan memutuskan untuk langsung ke tempat itu. Di sana aku mengungkapkan semua keluh kesahku dan rasa sakitku kepada seorang pastor yang ada di sana.Pastor itu bukan dokter atau dukun, tetapi dengan kemampuan magnetis dan ramuan - ramuan herbalnya dia telah menolong banyak orng dari berbagai kalangan.
Sang pastor berkata, "Lia harus bersabar dan hilangkan srasa khawatimu karena itu sangat mempengaruhi, semoga dengan ramuan herbal ini dapat mengisolasi benjolanmu agar tidak menjalar dan menimbulakan penyakit yang berbahaya. Lia harus tetap percaya, yakin, dan berdoa kepada NYa"
Dalam benakku ketakutan dan keyakinan beradu dan terus berperang.
Aku hanyalah seorang yang lemah tetapi aku ingin meraih beribu bintang impian yang selama ini kugantung di langit, aku harus meraihnya..
Hingga saat aku menuliskan ini, rasa itu masih terus beradu dan berperang..
Aku selalu berharap dan berusaha tuk selalu meyakini aku pasti sembuh karena aku masih ingin berbagi cinta dan kasih kepada setiap orang yang kujumpai.
Apapun penyakit yang ada di ragaku, aku percaya jiwaku akan selalu hidup, hidup tuk membagikan kasih dan menjadi pejuang yang sejati.
Dan aku terus bersyukur tatkala aku masih bisa menghirup pagi yang segar dan berjumpa dengan seribu wajah di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar