Selasa, 5 Januari 2010 genaplah usia seorang bernama Lidwina.
" Happy birthday my mom.. " Yah, ulang tahun mam yang ke 55 ini menjadi hariku yang sangat berbeda. Tahun yang lalu, aku mendatangi kamar mama, memeluk dan menciumnya, mengucapkan selamat ulang tahun. Kami pergi ke gereja bersama, menghabiskan hari itu dengan penuh kebahagiaan.
Namun, kini hanya doa yang dapat kuhantar untuk beliau. Hanya dlam mimpiku, aku dapat memeluk dan menggenggam tangannya.
Seorang wanita yang kuat dan tegar, beliau adalah tokoh dalam hidupku. Beliau memberiku kasih, mengajariku arti sebuah kebersamaan. Saat kecil, ibuku lah yang menitahku, dialah yang menggendongku, mengganti popok ku, memandikanku, hingga menidurkanku.
Kini, ibuku sudah jauh diangan. Ibu yang aku kasihi telah menjadi kawan di sisi Bapa. Ia telah menjadi malaikatku.
Sungguh, di luar sangkaku, karena Ibuku telah tiada. Yah, pada hari Jumat 17 April 2009 sekitar pukul 20.00 WIB beliau dipanggil Tuhan di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Malam itu, aku baru saja tiba di RS sekitar pukul 19.00. Mendengar suaranya pun tidak, aku hanya memandangnya, mengajaknya berdoa, memberinya semangat untuk melewati masa kritis itu. Dia tidak lagi menyapaku saat aku tiba di RS, dia tidak lagi memarahiku karena aku sering teledor dan ceroboh. Ibuku hanya berbaring. Berat rasanya, melihat kenyataan itu. Terngiang dalam pikiranku semua yang telah aku lalui bersamanya. Semua kata - katanya, semua omelan - omelannya, dan semua candanya.
Aku ingat betul, saat beberapa hari sebelum aku mengantar ibuku ke RS, beliau hanya berkata, "Li, kamu mesti rukun sama tetangga, kamu harus bisa bersosialisasi dengan sesama, kalo kita baik pasti orang akan baik dengan kita, kamu juga jangan lupa urus rumah ya, tagihan - tagihan jangan sampe lupa"
Iya, itu aku ingat betul! Aku mengerti maksud dari ibuku, yakni ketulusan. Aku harus dapat memberi dan menerima dengan ketulusan.. Kalimat itu mungkin sepele, tapi itulah kalimat terakhir yang aku dengar beberapa hari sebelum beliau meninggal..
Saat ini, aku mampu menulis semua masa itu. Aku tak lagi meneteskan air mata, aku tak lagi menjadi seorang yang cengeng.
Kini, aku adalah aku. Seorang yang harus menemani sang Ayah tercinta, menjadi adik yang manis bagi sang Kakak.
"Happy Birthday Mama.." Di hari ulang tahun mama, Lia yakin mama telah bahagia di sana. Doakan lah puterimu ini yang masih di dunia, agar ia semakin menjadi dewasa dan dapat menjadi pribadi yang terus berkembang, berusaha menjadi bocah yang mandiri.. Mamaku adalah Malaikatku ..
" Lia love Mama, Papa, and Ko Ian ^^"
Mata Jariku adalah sesuatu yang menunjukan bahwa Jari ini memiliki mata - mata yang jeli. Mata - mata ini adalah kawan di saat sendiri dan sepi, mengantarkan hati menuju hal yang ada jauh di angan..
Sabtu, 09 Januari 2010
Menjelajah mencari gairah iman, why not?? (berbagi .. sedikiit... saja...)
School of Missionary Animators ( SOMA) merupakan program Karya Kepausan Indonesia ( KKI ). KKI sendiri merupakan lembaga kepausan yang bernaung di bawah Kongregasi Suci Evangelasasi Bangsa – Bangsa.
Para animators dan animatrisnya tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan tentunya di pulau Jawa.
Pada tanggal 27 – 29 Juli 2008 yang lalu, diadakan pertemuan SOMA se Regio Jawa.
Pertemuan ini diadakan di Keuskupan Malang, tepatnya di Passionis.
Para animator dan animatris dari berbagai pelosok Jawa bertemu dan berkumpul bersama.
Sebuah pertemuan yang menarik, menyenangkan serta mengugah semangat kaum muda Katholik. Betapa beruntungnya, aku dan teman-temanku bisa berada di tempat itu. Kami lima orang animatris, dua orang animator, dan empat orang pendamping diutus sebagai wakil dari Keuskupan Tercinta, Keuskupan Purwokerto.
Tiga animatris dan seorang animator berasal dari Gombong, aku termasuk salah satu dari mereka. Untuk pertama kalinya kami dapat bertemu sapa dengan berbagai teman dari berbagai daerah di Jawa. Dapat menginjakan kaki di kota sejuk itu, membuatku berbunga-bunga. Campur aduk rasanya, senang, terharu dan bangga.
Tak ada yang menyangka, empat anak Katholik dari sebuah kota kecil (Gombong) dapat menempuh perjalanan jauh untuk menjelajah dan berpetualangan mencari Penyegaran-penyegaran Iman Rohani. Tak ada rasa ragu dibenak kami, karena kami yakin di kota sejuk nan teduh itu kami akan memperoleh pengalaman berharga, yang dapat menggugah gairah dan semangat pelayanan kami sebagai animator dan animatris.
Dihadiri peserta dari 7 keuskupan, yakni keuskupan Jakarta, Surabaya, Bogor, Malang, Bandung, Semarang, dan Purwokerto.
Bayangkan saja, dibandingkan dengan teman-teman dari keuskupan lain, bisa di bilang kami hanya segerombolan anak desa.
Toh, kenyataanya kami memang berasal dari desa. Tetapi, ternyata anggapan itu hanyalah omong kosong belaka.
Disana tak ada perbedaan ras, suku, budaya dan asal usul. Justru dengan logat bahasa yang berbeda-beda, para animator dan animatris mencoba untuk saling memahami, berkomunikasi agar dapat bertukar pengalaman. Selama 3 hari 2 malam kami lalui bersama, menghabiskan waktu bersama-sama.
Yang lebih penting, disana ada berbagai session dan acara yang akan menjadi bekal kami. “Biar nge-genk tapi saksi Kristus”, tema yang sangat menarik.
Mengupas berbagai hal yang biasa terjadi dikalangan kaum muda dan gereja Katholik, serta mencoba mengembangkan sisi positif yang ada, termasuk mencoba mencari solusi bagaimana cara mengubah sisi negatif menjadi sisi positif. Tidak hanya berkumpul dalam forum perkeuskupan, kita juga mengikuti outbond dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa animator dan animatris dari berbagai keuskupan.
Adapula acara bertukar alas kaki, disini kami dapat memetik sebuah pesan betapa sosialisasi, kerja sama, kebersamaan, dan kekompakan sangat dibutuhkan dalam kehidupan iman Katholik. Adapun konsep ala anak muda yang dipakai dalam acara ini menghilangkan kejenuhan dan kebosanan yang seringkali muncul. Rasanya semua letih dan lesu sirna saat itu. Selain itu kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga, yakni mengunjungi yayasan bakti luhur.
Sebuah yayasan yang memberi perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung, membantu dan mendidik anak-anak cacat baik mental maupun fisik. Mata hati kami terbuka saat itu tiba-tiba rasa miris dan prihatin muncul di benak ku, ketika menyaksikan mereka. Di lain pihak, rasa kagum pun muncul. Menyadari bahwa Tuhan Maha Pengasih, Ia tetapi menyayangi teman-teman yang kurang beruntung.
Bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai kemampuan lebih dari pada kita yang normal. Semua itu sungguh menggugah semangat kami, animator dan animatris. Walau aku dan teman-teman ku datang dari pelosok, dengan bermodalkan semangat dan iman kami yakin niscaya kami pun akan memperoleh bekal yang sangat berarti. Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur telah dikaruniai fisik dan mental yang normal, namun kami sering tidak mensyukuri anugrah ini.
Dalam sebuah session setiap keuskupan juga diharuskan menjadi sebuah symbol yang berasal dari anggota tubuh Yesus. Keuskupan Purwokerto mengambil symbol Gigi. Symbol itu memang terlihat sedikit konyol, belum lagi dengan celoteh-celoteh mengenai gigi yang kami ungkapkan saat itu. Namun, symbol gigi menyimpan banyak makna bagi kami. Adanya keterkaitan dan kerja sama antara satu dengan yang lain, perlunya perawatan, serta adanya tujuan yang sama dari anggota yang berbeda-beda, semua itu merupakan alasan mengapa kami memilih gigi sebagai symbol. Keuskupan-keuskupan lain juga mempunyai symbol tersendiri, tentunya dengan alasan-alasan dan makna yang berbeda-beda. Acara yang sangat berkesan bagi ku dan teman-teman.
Session puncak pada hari ke tiga adalah merancang arah gerak setiap keuskupan.
Ini adalah rancang arah dan gerak keuskupan kami,
KEUSKPUAN PURWOKERTO
Gambaran Gereja Sebagai Gigi
Arah :
Mengembangkan komunikasi yang mengharagai perbedaan dan kebersamaan yang disemangat oleh puasaan diri, berlandaskan kasih sehingga menimbulkan suka cita melalui kaderisasi yang mengarah kepada pengembangan budaya kaum muda.
Gerakan :
1. Retret / Seminar
2. Kunjungan remaja antar paroki
3. Pendalaman kitab suci.
Catatan :
Sosialisasi SOMA, bulan September 2008.
Demikian arah dan gerak keuskupan kami keuskupan Purwokerto. Semoga apa yang telah kami rencanakan dapat berjalan dengan baik.
Petulangan kami menjadi pengalaman yang begitu berharga. Tak banyak yang dapat ku bagikan dalam tulisan ini. Walau berasal dari daerah kecil, berpetulang dan berbagai pengalaman hingga sampai keujung dunia pun semangat kami tak akan pudar, karena kami bekerja, berdoa, dan berdema untuk Tuhan dan teman-teman semua. Menggugah semangat dan menyebarkan gairah iman katholik sebagai anak Missioner, petulangan kami tak hanya berhenti sampai di sini.
SCHOOL OF MISSONARY ANIMATORS (SOMA) DAN KARYA KEPAUSAN INDONESIA (KKI)
By: LiaLiaLioo
Para animators dan animatrisnya tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan tentunya di pulau Jawa.
Pada tanggal 27 – 29 Juli 2008 yang lalu, diadakan pertemuan SOMA se Regio Jawa.
Pertemuan ini diadakan di Keuskupan Malang, tepatnya di Passionis.
Para animator dan animatris dari berbagai pelosok Jawa bertemu dan berkumpul bersama.
Sebuah pertemuan yang menarik, menyenangkan serta mengugah semangat kaum muda Katholik. Betapa beruntungnya, aku dan teman-temanku bisa berada di tempat itu. Kami lima orang animatris, dua orang animator, dan empat orang pendamping diutus sebagai wakil dari Keuskupan Tercinta, Keuskupan Purwokerto.
Tiga animatris dan seorang animator berasal dari Gombong, aku termasuk salah satu dari mereka. Untuk pertama kalinya kami dapat bertemu sapa dengan berbagai teman dari berbagai daerah di Jawa. Dapat menginjakan kaki di kota sejuk itu, membuatku berbunga-bunga. Campur aduk rasanya, senang, terharu dan bangga.
Tak ada yang menyangka, empat anak Katholik dari sebuah kota kecil (Gombong) dapat menempuh perjalanan jauh untuk menjelajah dan berpetualangan mencari Penyegaran-penyegaran Iman Rohani. Tak ada rasa ragu dibenak kami, karena kami yakin di kota sejuk nan teduh itu kami akan memperoleh pengalaman berharga, yang dapat menggugah gairah dan semangat pelayanan kami sebagai animator dan animatris.
Dihadiri peserta dari 7 keuskupan, yakni keuskupan Jakarta, Surabaya, Bogor, Malang, Bandung, Semarang, dan Purwokerto.
Bayangkan saja, dibandingkan dengan teman-teman dari keuskupan lain, bisa di bilang kami hanya segerombolan anak desa.
Toh, kenyataanya kami memang berasal dari desa. Tetapi, ternyata anggapan itu hanyalah omong kosong belaka.
Disana tak ada perbedaan ras, suku, budaya dan asal usul. Justru dengan logat bahasa yang berbeda-beda, para animator dan animatris mencoba untuk saling memahami, berkomunikasi agar dapat bertukar pengalaman. Selama 3 hari 2 malam kami lalui bersama, menghabiskan waktu bersama-sama.
Yang lebih penting, disana ada berbagai session dan acara yang akan menjadi bekal kami. “Biar nge-genk tapi saksi Kristus”, tema yang sangat menarik.
Mengupas berbagai hal yang biasa terjadi dikalangan kaum muda dan gereja Katholik, serta mencoba mengembangkan sisi positif yang ada, termasuk mencoba mencari solusi bagaimana cara mengubah sisi negatif menjadi sisi positif. Tidak hanya berkumpul dalam forum perkeuskupan, kita juga mengikuti outbond dimana setiap kelompok terdiri dari beberapa animator dan animatris dari berbagai keuskupan.
Adapula acara bertukar alas kaki, disini kami dapat memetik sebuah pesan betapa sosialisasi, kerja sama, kebersamaan, dan kekompakan sangat dibutuhkan dalam kehidupan iman Katholik. Adapun konsep ala anak muda yang dipakai dalam acara ini menghilangkan kejenuhan dan kebosanan yang seringkali muncul. Rasanya semua letih dan lesu sirna saat itu. Selain itu kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga, yakni mengunjungi yayasan bakti luhur.
Sebuah yayasan yang memberi perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung, membantu dan mendidik anak-anak cacat baik mental maupun fisik. Mata hati kami terbuka saat itu tiba-tiba rasa miris dan prihatin muncul di benak ku, ketika menyaksikan mereka. Di lain pihak, rasa kagum pun muncul. Menyadari bahwa Tuhan Maha Pengasih, Ia tetapi menyayangi teman-teman yang kurang beruntung.
Bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai kemampuan lebih dari pada kita yang normal. Semua itu sungguh menggugah semangat kami, animator dan animatris. Walau aku dan teman-teman ku datang dari pelosok, dengan bermodalkan semangat dan iman kami yakin niscaya kami pun akan memperoleh bekal yang sangat berarti. Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur telah dikaruniai fisik dan mental yang normal, namun kami sering tidak mensyukuri anugrah ini.
Dalam sebuah session setiap keuskupan juga diharuskan menjadi sebuah symbol yang berasal dari anggota tubuh Yesus. Keuskupan Purwokerto mengambil symbol Gigi. Symbol itu memang terlihat sedikit konyol, belum lagi dengan celoteh-celoteh mengenai gigi yang kami ungkapkan saat itu. Namun, symbol gigi menyimpan banyak makna bagi kami. Adanya keterkaitan dan kerja sama antara satu dengan yang lain, perlunya perawatan, serta adanya tujuan yang sama dari anggota yang berbeda-beda, semua itu merupakan alasan mengapa kami memilih gigi sebagai symbol. Keuskupan-keuskupan lain juga mempunyai symbol tersendiri, tentunya dengan alasan-alasan dan makna yang berbeda-beda. Acara yang sangat berkesan bagi ku dan teman-teman.
Session puncak pada hari ke tiga adalah merancang arah gerak setiap keuskupan.
Ini adalah rancang arah dan gerak keuskupan kami,
KEUSKPUAN PURWOKERTO
Gambaran Gereja Sebagai Gigi
Arah :
Mengembangkan komunikasi yang mengharagai perbedaan dan kebersamaan yang disemangat oleh puasaan diri, berlandaskan kasih sehingga menimbulkan suka cita melalui kaderisasi yang mengarah kepada pengembangan budaya kaum muda.
Gerakan :
1. Retret / Seminar
2. Kunjungan remaja antar paroki
3. Pendalaman kitab suci.
Catatan :
Sosialisasi SOMA, bulan September 2008.
Demikian arah dan gerak keuskupan kami keuskupan Purwokerto. Semoga apa yang telah kami rencanakan dapat berjalan dengan baik.
Petulangan kami menjadi pengalaman yang begitu berharga. Tak banyak yang dapat ku bagikan dalam tulisan ini. Walau berasal dari daerah kecil, berpetulang dan berbagai pengalaman hingga sampai keujung dunia pun semangat kami tak akan pudar, karena kami bekerja, berdoa, dan berdema untuk Tuhan dan teman-teman semua. Menggugah semangat dan menyebarkan gairah iman katholik sebagai anak Missioner, petulangan kami tak hanya berhenti sampai di sini.
SCHOOL OF MISSONARY ANIMATORS (SOMA) DAN KARYA KEPAUSAN INDONESIA (KKI)
By: LiaLiaLioo
Ada yang menggelitik dengan Natal
Natal 2009 di gereja St. Mikael Gombong memberi sebuah warna yang baru. "Bertolak ke Seberang" adalah tema utama yang dipilih untuk konsep Natal tahun ini. Memang benar tema ini sungguh memberi sebuah gebrakan, membuat tahun ini terasa berbeda dari tahun - tahun sebelumnya. Tema yang simple, namun mampu membawa hal baru dalam nuansa natal di tahun 2009.
Mungkin awalnya sebagian umat bertanya-tanya " Ada apa dengan gereja kita? "Sungguh sangat menggelitik, memaksa kita untuk ikut berpikir dan merasakan bersama perayaan Natal, sehingga secara tak sadar umat ikut menggali pesan Natal di akhir tahun 2009.
Umat diajak untuk menilik kembali kedewasaan iman yang telah dibina selama ini. Meneliti lagi goresan-goresan apa saja yang telah membekas dalam hidup yang berimankan akan Yesus Kristus.
Tema yang singkat, padat, membawa dampak yang teramat berbeda. Mendorong terciptanya karya baru sebagai bentuk apresiasi dari kehidupan umat Katolik.
Kehadiran gua Natal di sudut kanan gereja menambah nuansa yang damai. Gua itu tidak lagi terbuat dari batu-batuan berwarna gelap, dengan tetesan -tetesan air. Tetapi menjadi sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana, yah layaknya sebuah kandang. Belum lagi, jika diamati lebih detail ada sesuatu yang sangat menarik. Background dari kandang tersebut bukanlah padang hijau yang luas ataupun indahnya cakrawala, tetapi justru sebuah perkotaan yang penuh dengan gedung - gedung pencakar langit. Mengapa bisa demikian ? Yah, inilah apresiasi dari yang sangat membuat kita terpana sejenak dan memikirkannya. Hal ini menggambarkan dua kehidupan yang sangat bertolak belakang. Menunjukan dengan jelas dua sisi dari realita kehidupan di zaman modern ini. Karya baru yang muncul dari sebuah tema " Bertolak ke Seberang". Menanyakan kepada umat, sudahkah kita melihat sisi kehidupan yang lain? Menyampaikan dengan jelas, bahwa Yesus tidaklah lahir dalam keadaan yang layak, dilengkapi dengan fasilitas - fasilitas yang teramat canggih seperti layaknya seorang bayi yang lahir di era ini.
Di sekitar altar pun tidak dijumpai pohon Natal yang dipenuhi dengan pernak-pernik lucu ataupun lampu gemerlapan. Hal yang sangat mengejutkan! Natal yang identik dengan pohon natal, kini sama sekali tak dijumpai di Gereja St. Mikael Gombong. Menimbulkan pertanyaan yang baru, "Ada apa ini?" Yah, inilah apresiasi dari tema tersebut, "Bertolak ke Seberang". Menilik lagi realita kelahiran Yesus yang jauh dari kemewahan duniawi. Menunjukkan bahwa sesuatu dapat membawa kebahagiaan tanpa harus dipenuhi dengan keindahan. Namun, kesederhanaan yang tulus itu lah yang dapat membuat sebuah kedamaian. Selain itu, di sudut kiri atas pada backgrond, ada sebuah kalimat "Masihkah ada diriku di dalam hatimu ?" Pertanyaan yang menggelitik setiap orang. Menanyakan dengan jelas kepada kita, apakah selama ini Yesus sungguh di hati kita? Apakah sungguh kita telah berimankan akan Yesus? Sudahkah kita merayakan kelahiran Yesus dengan kedewasaan iman? Sudahkah Natal menjadi sebuah ketukan hati dan bukan merupakan formalitas Liturgi?
Umat sungguh diajak memahami arti dari Natal, yang barangkali selama ini hanya menjadi formalitas yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya tanpa alasan dan tujuan yang jelas.
Ada satu hal lagi yang sangat spesial, yaitu Misa Natal Anakyang diselenggarakan Jumat, 25 Des 2009. Tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, misa Natal yang dimulai pukul 07.00 WIB bukan lagi misa biasa, namun misa yang sungguh bernuansa anak -anak. Bahkan seluruh petugas mengenakan topi St. Clause. Selain itu, setiap anak yang hadir pun memperoleh sebuah topi St. Clause, mereka dikumpulkan dan diajak duduk bersama untuk merayakan kelahiran Yesus dalam perayaan Ekaristi.
Suasana ini adalah puncak keistimewaan dari misa Natal 2009. Belum lagi dengan adanya St. Clause yang sangat digemari dikalangan anak anak katolik menambah suasana semakin hidup.
Sungguh nuansa misa Natal anak - anak ini menambah warna baru di gerja St. Mikael Gombong.
Dalam misa Natal Anak ini tidak berarti hanya anak - anak yang terlibat, namun orang dewasa juga diajak untuk ikut terlibat. Bukan berarti tak ada orang dewasa, justru dalam misa ini orang dewasa diajak untuk membuka hatinya, melihat generasi muda gereja. Menyampaikan kepedulian akan hadirnya anak anak Tuhan, ikut terlibat dan mengajak putra putri mereka datang ke rumah TUHAN. Umat dapat melihat seberapa besar kepedulian terhadap kelangsungan gereja Katolik. Menyesuaikan akan adanya keberagaman dalam hidup beriman dan menggereja.
Anak - anak pun merasa begitu bahagia, muncul rona keceriaan bak malaikat - malaikat cilik yang menari - nari merayakan kehadiran Yesus. Dalam misa Natal Anak, romo mengajak putra-putri gereja untuk melihat kehidupan nyata yang diparesiasikan dalam sebuah drama anak yang singkat. Anak - anak diajak untuk memperhatikan teman - teman mereka, peduli kepada sesama, seperti Yesus yang selalu mengasihi murd - muridNya.
Natal kali ini simple namun sangat mengena. Umat dapat mengerti benar, Arti dan makna Natal.
Umat awam bisa mengerti lebih jauh, untuk apa kita merayakan Natal.
Kita diajak Bertolak ke Seberang, menjadi pribadi yang sederhana, seperti Yesus yang lahir dengan penuh kesederhanaan, namun membawa damai selama-lamanya.
Mungkin awalnya sebagian umat bertanya-tanya " Ada apa dengan gereja kita? "Sungguh sangat menggelitik, memaksa kita untuk ikut berpikir dan merasakan bersama perayaan Natal, sehingga secara tak sadar umat ikut menggali pesan Natal di akhir tahun 2009.
Umat diajak untuk menilik kembali kedewasaan iman yang telah dibina selama ini. Meneliti lagi goresan-goresan apa saja yang telah membekas dalam hidup yang berimankan akan Yesus Kristus.
Tema yang singkat, padat, membawa dampak yang teramat berbeda. Mendorong terciptanya karya baru sebagai bentuk apresiasi dari kehidupan umat Katolik.
Kehadiran gua Natal di sudut kanan gereja menambah nuansa yang damai. Gua itu tidak lagi terbuat dari batu-batuan berwarna gelap, dengan tetesan -tetesan air. Tetapi menjadi sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana, yah layaknya sebuah kandang. Belum lagi, jika diamati lebih detail ada sesuatu yang sangat menarik. Background dari kandang tersebut bukanlah padang hijau yang luas ataupun indahnya cakrawala, tetapi justru sebuah perkotaan yang penuh dengan gedung - gedung pencakar langit. Mengapa bisa demikian ? Yah, inilah apresiasi dari yang sangat membuat kita terpana sejenak dan memikirkannya. Hal ini menggambarkan dua kehidupan yang sangat bertolak belakang. Menunjukan dengan jelas dua sisi dari realita kehidupan di zaman modern ini. Karya baru yang muncul dari sebuah tema " Bertolak ke Seberang". Menanyakan kepada umat, sudahkah kita melihat sisi kehidupan yang lain? Menyampaikan dengan jelas, bahwa Yesus tidaklah lahir dalam keadaan yang layak, dilengkapi dengan fasilitas - fasilitas yang teramat canggih seperti layaknya seorang bayi yang lahir di era ini.
Di sekitar altar pun tidak dijumpai pohon Natal yang dipenuhi dengan pernak-pernik lucu ataupun lampu gemerlapan. Hal yang sangat mengejutkan! Natal yang identik dengan pohon natal, kini sama sekali tak dijumpai di Gereja St. Mikael Gombong. Menimbulkan pertanyaan yang baru, "Ada apa ini?" Yah, inilah apresiasi dari tema tersebut, "Bertolak ke Seberang". Menilik lagi realita kelahiran Yesus yang jauh dari kemewahan duniawi. Menunjukkan bahwa sesuatu dapat membawa kebahagiaan tanpa harus dipenuhi dengan keindahan. Namun, kesederhanaan yang tulus itu lah yang dapat membuat sebuah kedamaian. Selain itu, di sudut kiri atas pada backgrond, ada sebuah kalimat "Masihkah ada diriku di dalam hatimu ?" Pertanyaan yang menggelitik setiap orang. Menanyakan dengan jelas kepada kita, apakah selama ini Yesus sungguh di hati kita? Apakah sungguh kita telah berimankan akan Yesus? Sudahkah kita merayakan kelahiran Yesus dengan kedewasaan iman? Sudahkah Natal menjadi sebuah ketukan hati dan bukan merupakan formalitas Liturgi?
Umat sungguh diajak memahami arti dari Natal, yang barangkali selama ini hanya menjadi formalitas yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya tanpa alasan dan tujuan yang jelas.
Ada satu hal lagi yang sangat spesial, yaitu Misa Natal Anakyang diselenggarakan Jumat, 25 Des 2009. Tidak lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, misa Natal yang dimulai pukul 07.00 WIB bukan lagi misa biasa, namun misa yang sungguh bernuansa anak -anak. Bahkan seluruh petugas mengenakan topi St. Clause. Selain itu, setiap anak yang hadir pun memperoleh sebuah topi St. Clause, mereka dikumpulkan dan diajak duduk bersama untuk merayakan kelahiran Yesus dalam perayaan Ekaristi.
Suasana ini adalah puncak keistimewaan dari misa Natal 2009. Belum lagi dengan adanya St. Clause yang sangat digemari dikalangan anak anak katolik menambah suasana semakin hidup.
Sungguh nuansa misa Natal anak - anak ini menambah warna baru di gerja St. Mikael Gombong.
Dalam misa Natal Anak ini tidak berarti hanya anak - anak yang terlibat, namun orang dewasa juga diajak untuk ikut terlibat. Bukan berarti tak ada orang dewasa, justru dalam misa ini orang dewasa diajak untuk membuka hatinya, melihat generasi muda gereja. Menyampaikan kepedulian akan hadirnya anak anak Tuhan, ikut terlibat dan mengajak putra putri mereka datang ke rumah TUHAN. Umat dapat melihat seberapa besar kepedulian terhadap kelangsungan gereja Katolik. Menyesuaikan akan adanya keberagaman dalam hidup beriman dan menggereja.
Anak - anak pun merasa begitu bahagia, muncul rona keceriaan bak malaikat - malaikat cilik yang menari - nari merayakan kehadiran Yesus. Dalam misa Natal Anak, romo mengajak putra-putri gereja untuk melihat kehidupan nyata yang diparesiasikan dalam sebuah drama anak yang singkat. Anak - anak diajak untuk memperhatikan teman - teman mereka, peduli kepada sesama, seperti Yesus yang selalu mengasihi murd - muridNya.
Natal kali ini simple namun sangat mengena. Umat dapat mengerti benar, Arti dan makna Natal.
Umat awam bisa mengerti lebih jauh, untuk apa kita merayakan Natal.
Kita diajak Bertolak ke Seberang, menjadi pribadi yang sederhana, seperti Yesus yang lahir dengan penuh kesederhanaan, namun membawa damai selama-lamanya.
MaTa Jariku
Kenapa blog ini kuberi nama mata jariku???
Yah, tak lain tak bukan adalah untuk menyalurkan hoby.. Hoby menulis yang sering kulakukan tuk mengisi waktu luang ku sangatlah berarti..
Menghabiskan kesendirian ku di depan komputer,menjelajah dunia maya, mengapresiasikan segala yang ada di sekitarku..
Yah, tak lain tak bukan adalah untuk menyalurkan hoby.. Hoby menulis yang sering kulakukan tuk mengisi waktu luang ku sangatlah berarti..
Menghabiskan kesendirian ku di depan komputer,menjelajah dunia maya, mengapresiasikan segala yang ada di sekitarku..
Langganan:
Komentar (Atom)