“ Bocah – bocah dari latar belakang yang berbeda, berasal dari pelosok daerah yang berbeda bertekad kuat menjadi animator – animatris remaja penggerak gerejayang bersatu dalam semangat 2D2K ( doa, derma, kurban, kesaksian ) serta berjuang berlandaskan motto ‘children helping children ‘. Mereka adalah cikal bakal masa depan gereja katolik. ”
Bocah – bocah itu menginjakan kaki dengan bangga dan menjadi duta tiap paroki untuk berjuang menimba pengalaman dan menjaring ratusan teman dari berbagai pelosok daerah. Hitam atau putih, keriting atau lurus, besar atau kecil, tinggi atau rendah, kaya atau miskin bukanlah penghalang karena mereka telah menjadi satu dalam ikatan Serikat kepausan anak – anak missioner (Sekami).
Sabtu – Minggu, 19 – 20 Desember 2010 sebuah pendopo di kawasan goa Maria Kaliori penuh sesak karena dihadiri para remaja katolik dari 12 paroki di keuskupan Purwokerto. Bocah – bocah ini datang bukan untuk mengikuti kemah pramuka, melainkan untuk mengikuti sebuah kemah rohani yang bertemakan “Remaja Penggerak Gereja, Yuuk!” Acara ini adalah salah satu program KKI yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan SOMA 2009 yang lalu. Tema yang sama dengan makna dan tujuan yang sama pula, tetapi disajikan dalam konsep yang berbeda. Semua itu adalah moment singkat yang barangkali sanggup menggoda hati para kader muda gereja untuk menjadi remaja penggerak gereja.
“ Ayo teman – teman Sekami di persada Indonesia wujudkan motto kita semua children helping children “. Lagu itu terdengar sangat nyaring saat dinyanyikan para animator – dan animatris dari berbagai paroki pada saat perkenalan yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam moment ini, para remaja diajak untuk bernyanyi dan bergoyang atau biasa disebut sebagai animasi. Animasi ini diharapkan sanggup menggugah rasa dan pikiran agar berpadu menjadi satu tanpa terjadi ketimpangan. Suatu titik awal yang sangat berkesan, meningkatkan keaktifan dan kreatifitas remaja dalam perpaduan antara gerak dan lagu.
Tak hanya berhenti di situ, duta – duta cilik paroki ini pun masih tetap bertahan dalam sebuah pendopo yang berkelilingkan makam hingga sekitar pukul 22.30. Dalam session yang berikutnya, animator dan animatris bertatap muka dengan Sr. Yuliana selaku dirdios keuskupan Purwokerto. Dengan gayanya yang khas dan bersahabat Sr. Yuli pun mencoba membagikan apa itu KKI dalam sebuah tema “About KKI”. Mengetahui dan memahami bagaimana sejarah KKI dan ruang lingkupnya yang mendunia menjadi sebuah modal awal bagi para misionaris cilik untuk membagikan karya bersama teman – temannya.
Seusai santap malam animator dan animatris kembali berkumpul dalam session yang baru. Sesion berikutnya menjadi semakin menarik karena yang membagikan pengalaman kepada bocah – bocah bukan biarawan atau biarawati, melainkan para kader muda dari keuskupan Semarang. Mereka rela meluncur ke Kaliori dan melawan lelah demi berbagi pengalaman menjadi seorang animator dan animatris penggerak gereja. Dalam session ini berlangsung sebuah dinamika kelompok, dimana bocah-bocah terbagi menjadi 10 kelompok kecil yang terdiri dari berbagai paroki. Diajak untuk berdiskusi dan menyatukan pikiran, kelompok – kelompok ini menciptakan sebuah yell sebagai tanda kekompakan mereka. Sanggup bertukar pendapat untuk berbagi pengalaman kehidupan menggereja di masing – masing paroki hingga pada akhirnya mereka harus merumuskan sebuah kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata kunci yang bermakna.
Salah satu yang menarik adalah sebuah kelompok yang memilih kalimat ‘jebule numpak truk’. Ada dengan kalimat yang aneh ini? Ternyata di balik kalimat yang tidak baku ini tersimpan sebuah makna pengorbanan bocah – bocah dalam berkarya bersama Yesus. Mereka yang berbagi pengalaman dalam kehidupan paroki menjelaskan, bahwa suatu hari saat akan berziarah mereka rela berdesak – desakan naik truk karena di tengah perjalanan bus AC yang mereka tunggangi mendadak mogok. Namun di situlah mereka dapat menemukan indahnya kebersamaan dan pengorbanan. Kelompok demi kelompok pun mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan dan dengan hal ini mereka diajak untuk menjadi seorang animator dan animatris yang berani mengungkapkan pendapat, serta membagikan pengalaman tanpa rasa takut dicela ataupun diejek. Seusai session ini anak – anak pun beristirahat dalam tenda masing - masing, menikmati kebersamaan dan persahabatan bersama duta – duta cilik dari berbagai paroki yang sangat ekspresif semakin menghangatkan suasana yang langka itu.
Menyatukan hati dan pikiran di tengah kesunyian. Sekitar pukul 24.00 WIB para animator dan animatris kembali berkumpul di pendopo. Melawan keengganan dan nrasa kantuk, mereka duduk merasakan sunyinya malam berkelilingkan makam. Bukan untuk jerit malam atau hanya sekadar duduk, tetapi bocah – bocah ini dalam suasana doa merasakan keheningan diiringi music taize yang mengalun nan syahdu, Frater Diakon Agung menghimpun mereka untuk kembali menatap pribadi masing – masing individu, bercermin dan mencari setiap sudut kata serta perbuatan yang telah diperbuat selama ini.Menggenggam lilin bernyala di tangan,masing – masing kelompok dan seorang panitia berjalan menuju makam dan menembus kegelapan itu. Kembali berdoa di makam, tiap animator dan animatris membakar secuil kertas bertuliskan harapan dan doa mereka, melalui orang – orang beriman yang telah bahagia di sisi Bapa itulah harapan dan doa mereka akan disampaikan kepada Allah Bapa di surga.\
Embun mulai menyelimuti daerah nan sepi itu, dinginnya udara pagi pun menusuk urat nadi yang merasakannya. Seusai sarapan pagi, sekitar pukul 06.30 para animator dan animatris berkumpul dalam forum kelompok di pendopo. Mereka dengan saksama mendengarkan intruksi panitia outbond. Berlatih menjadi bocah – bocah yang sanggup menghadapi tantangan mereka melalukan perjalanan outbond dan melewati pos demi pos. KErjasama dan kekompakan tim sungguh diuji dalam session ini. Hingga akhirnya tibalah pada session yang terakhir, yaitu presentasi tiap kelompok. Dalam presentasi ini, tiap kelompok telah melalui pos bola hitam yaitu merengkai ayat, pos KKI yaitu menjawab pertanyaan, pos Laba- laba yaitu memindahkan bola pingpong menggunakan pipa dan tali, pos peneguhan dan kesaksian yang dijaga oleh tim keuskupan Semarang, pos tali berjalan, pos estafet air yaitu mengalirkan air menggunakan potongan – potongan bambu, pos the role yaitu bermain peran, pos bayangan yaitu menyanyikan lagu burung kakak tua menggunakan gaya topi saya bundar tanpa aba –aba, dan yang terakhir pos lambang yaitu tiap kelompok harus mengumpulkan lambang apapun yang bermakna remaja penggerak gereja.
Teramat menarik dan berkesan, karena selain berpetualang bocah – bocah ini berlatih untuk membangun kreatifitas dan keaktifan, sera yang tak kalah penting adalah menjalin kerjasama yang tinggi. Salah satu yang paling menarik adalah remaja penggerak gereja gereja diibaratkan seperti akar, dimana akar itu adalah dasar suatu tumbuhan yang sama halnya dengan remaja adalah cikal bakal masa depan gereja, yang apabila terus dipupuk pasti akan bertumbuh subur, berkembang, berbunga, dan berbuah.
Session demi session pun telah terlalui, hingga puncaknya yaitu misa bersama Vikjen keuskupan Purwokerto, Rm. Pur. Tetap semangat dan terus berkarya untuk jadi remaja penggerak gereja adalah pesan dari vikjen kepada animator dan animatris. Membagikan pengalaman sebagai duta cilik paroki kepada teman – teman di paroki asal merupakan tugas utama bagi mereka untuk memulai menghimpun remaja – remaja katolik yang aktif dan kreatif agar dapat menjadi penggerak gereja yang sejati.
Mata Jariku adalah sesuatu yang menunjukan bahwa Jari ini memiliki mata - mata yang jeli. Mata - mata ini adalah kawan di saat sendiri dan sepi, mengantarkan hati menuju hal yang ada jauh di angan..
Minggu, 27 Juni 2010
Jadi Malaikat Cilik
"Malaikat – malaikat cilik gereja St. Mikael Gombong tak lagi terbang, melainkan duduk beralaskan koran dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan gereja”
Minggu, 13 Juni 2010 menjadi hari yang sungguh berbeda. Tak seperti biasanya, seusai misa pagi lingkungan gereja St Mikael Gombong menjadi ramai, bukan suara music yang terdengar, melainkan suara anak – anak yang bersiap mengikuti lomba mewarnai dan menggambar dalam rangka 75 tahun gereja yang menjadikan suasana amat berkesan.
Sekitar 120 anak sanggup berkumpul dan dengan penuh semangat menjadi partisipan cilik gereja St. Mikael Gombong. Mereka terdiri dari anak – anak usia pra TK hingga SD dan terbagi menjadi 3 kategori, yaitu lomba mewarnai pra TK dan TK, lomba mewarnai SD kelas 1-3, dan lomba menggambar SD kelas 4-6.
Lomba mewarnai kategori pra TK dan TK berlangsung di TK Pius BU Gombong. Anak – anak sungguh diajak untuk berlatih mandiri karena mereka harus berusaha menyelesaikan lomba itu sendiri dengan mengandalkan kreatifitas mereka. Bersama Sr. Monica dan beberapa pendamping, anak –anak mulai mewarnai lembaran kertas bergambar yang bertemakan 75 tahun gereja. Tak kalah menariknya, di sayap kanan gereja anak- anak SD kelas 1-3 pun berbondong - bondong menata sebuah meja kayu cilik dan mengeluarkan senjata pamungkas berupa crayon untuk mewarnai gambar. Alangkah menyenangkan melihat suasana itu, menyaksikan para orang tua yang menunggu anak – anaknya, membiarkan buah hatinya mengembangkan kreatifitas, dan yang paling penting adalah mendorong mereka untuk menjadi seorang partisipan cilik.
Suasana yang berbeda semakin terasa saat menyaksikan anak – anak yang hanya beralaskan koran duduk di sekitar gedung gereja dan sesekali mengamati bangunan nan tinggi itu dengan saksama bak arsitek cilik. Mereka memegang sebuah pensil, menggenggam penggaris di tangan dan mulai menggoreskan pensil di atas selembar kertas putih. Partisipan – partisipan cilik itu menggambar bangunan gereja St, Mikael Gombong. Mereka duduk dalam kelompok – kelompok kecil di bawah pohon sambil menikmati moment yang langka itu. Bagaikan pesulap, mereka mengubah lembaran kertas putih bersih menjadi penuh goresan dan warna. Nia, salah seorang partisipan cilik menggambar sebuah bangunan tinggi dengan tiga sosok lelaki yang tampak berdiri di depan bangunan itu.Seorang lelaki berada di tengah dengan jenggot yang panjang, seorang lelaki di sampingnya memberikan isyarat perdamaian dengan berpose ‘peace’ , dan seorang lelaki yang lain memegang sebuah kamera. Dengan penuh keluguan Nia menjelaskan bahwa bangunan itu adalah gedung gereja St. Mikael Gombong, sedangkan lelaki berjenggot itu adalah Rm. Yitno, lelaki berpose peace di sampingnya adalah Rm. Bagyo, dan lelaki yang memegang kamera adalah Rm. Paul. Bukan hanya Nia, partisipan cilik gereja yang lain pun sungguh imajinatif. Mereka merupakan cikal - bakal masa depan gereja. Mereka adalah malaikat – malaikat cilik yang mengungkapkan rasa cintanya pada Tuhan dan gereja melalui goresan – goresan tinta dan warna.
Stella Auberta
Minggu, 13 Juni 2010 menjadi hari yang sungguh berbeda. Tak seperti biasanya, seusai misa pagi lingkungan gereja St Mikael Gombong menjadi ramai, bukan suara music yang terdengar, melainkan suara anak – anak yang bersiap mengikuti lomba mewarnai dan menggambar dalam rangka 75 tahun gereja yang menjadikan suasana amat berkesan.
Sekitar 120 anak sanggup berkumpul dan dengan penuh semangat menjadi partisipan cilik gereja St. Mikael Gombong. Mereka terdiri dari anak – anak usia pra TK hingga SD dan terbagi menjadi 3 kategori, yaitu lomba mewarnai pra TK dan TK, lomba mewarnai SD kelas 1-3, dan lomba menggambar SD kelas 4-6.
Lomba mewarnai kategori pra TK dan TK berlangsung di TK Pius BU Gombong. Anak – anak sungguh diajak untuk berlatih mandiri karena mereka harus berusaha menyelesaikan lomba itu sendiri dengan mengandalkan kreatifitas mereka. Bersama Sr. Monica dan beberapa pendamping, anak –anak mulai mewarnai lembaran kertas bergambar yang bertemakan 75 tahun gereja. Tak kalah menariknya, di sayap kanan gereja anak- anak SD kelas 1-3 pun berbondong - bondong menata sebuah meja kayu cilik dan mengeluarkan senjata pamungkas berupa crayon untuk mewarnai gambar. Alangkah menyenangkan melihat suasana itu, menyaksikan para orang tua yang menunggu anak – anaknya, membiarkan buah hatinya mengembangkan kreatifitas, dan yang paling penting adalah mendorong mereka untuk menjadi seorang partisipan cilik.
Suasana yang berbeda semakin terasa saat menyaksikan anak – anak yang hanya beralaskan koran duduk di sekitar gedung gereja dan sesekali mengamati bangunan nan tinggi itu dengan saksama bak arsitek cilik. Mereka memegang sebuah pensil, menggenggam penggaris di tangan dan mulai menggoreskan pensil di atas selembar kertas putih. Partisipan – partisipan cilik itu menggambar bangunan gereja St, Mikael Gombong. Mereka duduk dalam kelompok – kelompok kecil di bawah pohon sambil menikmati moment yang langka itu. Bagaikan pesulap, mereka mengubah lembaran kertas putih bersih menjadi penuh goresan dan warna. Nia, salah seorang partisipan cilik menggambar sebuah bangunan tinggi dengan tiga sosok lelaki yang tampak berdiri di depan bangunan itu.Seorang lelaki berada di tengah dengan jenggot yang panjang, seorang lelaki di sampingnya memberikan isyarat perdamaian dengan berpose ‘peace’ , dan seorang lelaki yang lain memegang sebuah kamera. Dengan penuh keluguan Nia menjelaskan bahwa bangunan itu adalah gedung gereja St. Mikael Gombong, sedangkan lelaki berjenggot itu adalah Rm. Yitno, lelaki berpose peace di sampingnya adalah Rm. Bagyo, dan lelaki yang memegang kamera adalah Rm. Paul. Bukan hanya Nia, partisipan cilik gereja yang lain pun sungguh imajinatif. Mereka merupakan cikal - bakal masa depan gereja. Mereka adalah malaikat – malaikat cilik yang mengungkapkan rasa cintanya pada Tuhan dan gereja melalui goresan – goresan tinta dan warna.
Stella Auberta
Senin, 07 Juni 2010
MugeLLO Membuat Gello ???
Halo bro, para GP mania !!
Pole position Mugello, siapa yang tak tahu Dani Pedrosa pembalap nan tampan itu. Berhasil menaklukan sirkuit Mugello, sedangkan the doctor Valentino Rossy harus mengubur dalam - dalam keinginannya untuk menaklukan sirkuit itu(06/05), begitu juga Casey Stoner yang 2009 lalu berhasi menaklukan Mugello.
Bayangkan, sang Rajanya Mugello tak bisa berlaga dalam pertandingan karena Valen tergelincir saat latihan bebas Sabtu( 05/05) dan mengalami cidera tulang kering pada kaki kanannya.
Sedangkan Pedrosa cukup cepat di start diikuti Lorenzo, Stoner, dan Dovi. Simoncelli masuk Gravel di Lap pertama ini. Lap Kedua Ketiga, Dovi berhasil adu balap ke posisi ke tiga dan menjadi bayang - bayang Lorenzo.
Di awal Lap Ke 3 Dovi menang dalam adu drag dan Lorenzo pada urutan ke 3!! Repsol Honda sementara di urutan 1-2.
Sedangkan sekitar dua tiga lap berikutnya kita dipertontonkan adu drag antara Dovi dan Lorenzo, tanpa diduga di Lap ke 5 Nicky Hayden Crash !
Pertandingan berjalan tidak begitu panas, karena Pedrosa terus melenggang di depan tanpa ada yang mengganggunya.
Menontonnya? jujur bossaan broo.. !!
Sedikit panas saat Stoner di lap terakhir beraiksi dan berhasil menjadi ekor Dovisiozo.
Tak seperti pertandingan sebelumnya yang sungguh membuat mata terbelalak, kali ini justru membuat mata menjadi redup. Walaupun akhirnya pada lap terakhir hingga finish tetap Pedrosa - Lorenzo - Dovsiozo.
Pedrosa Podium Satu , LorenZo dua, Dovizioso Tiga, Stoner Empat, Melandri Lima, DePuniet Empat.
Prediksi kali ini meleset, karena ternyata icon Yammaha itu di posisi ke 2.
Sedikit mengecewakan bagi para penggemar Rossy, karena memang diakui bahwa ketidak hadirannya dalam laga Mugello membuat gello..
Prediksi pertandingan GP musim 2010 Lorenzo bakal jadi juaranya jika ia tetap bertahan di podium, karena kawannya si Kuning diperkirakan bakal cuty hingga 2 bulan.
Semoga prediksi ini menjadi nyata dan tidak meleset.
LOREnzo semakin di depan !!!!
kita tunggu seri - seri berikutnya..!!!!!
Buat bang Rossy cepet sembuh ya..
Pole position Mugello, siapa yang tak tahu Dani Pedrosa pembalap nan tampan itu. Berhasil menaklukan sirkuit Mugello, sedangkan the doctor Valentino Rossy harus mengubur dalam - dalam keinginannya untuk menaklukan sirkuit itu(06/05), begitu juga Casey Stoner yang 2009 lalu berhasi menaklukan Mugello.
Bayangkan, sang Rajanya Mugello tak bisa berlaga dalam pertandingan karena Valen tergelincir saat latihan bebas Sabtu( 05/05) dan mengalami cidera tulang kering pada kaki kanannya.
Sedangkan Pedrosa cukup cepat di start diikuti Lorenzo, Stoner, dan Dovi. Simoncelli masuk Gravel di Lap pertama ini. Lap Kedua Ketiga, Dovi berhasil adu balap ke posisi ke tiga dan menjadi bayang - bayang Lorenzo.
Di awal Lap Ke 3 Dovi menang dalam adu drag dan Lorenzo pada urutan ke 3!! Repsol Honda sementara di urutan 1-2.
Sedangkan sekitar dua tiga lap berikutnya kita dipertontonkan adu drag antara Dovi dan Lorenzo, tanpa diduga di Lap ke 5 Nicky Hayden Crash !
Pertandingan berjalan tidak begitu panas, karena Pedrosa terus melenggang di depan tanpa ada yang mengganggunya.
Menontonnya? jujur bossaan broo.. !!
Sedikit panas saat Stoner di lap terakhir beraiksi dan berhasil menjadi ekor Dovisiozo.
Tak seperti pertandingan sebelumnya yang sungguh membuat mata terbelalak, kali ini justru membuat mata menjadi redup. Walaupun akhirnya pada lap terakhir hingga finish tetap Pedrosa - Lorenzo - Dovsiozo.
Pedrosa Podium Satu , LorenZo dua, Dovizioso Tiga, Stoner Empat, Melandri Lima, DePuniet Empat.
Prediksi kali ini meleset, karena ternyata icon Yammaha itu di posisi ke 2.
Sedikit mengecewakan bagi para penggemar Rossy, karena memang diakui bahwa ketidak hadirannya dalam laga Mugello membuat gello..
Prediksi pertandingan GP musim 2010 Lorenzo bakal jadi juaranya jika ia tetap bertahan di podium, karena kawannya si Kuning diperkirakan bakal cuty hingga 2 bulan.
Semoga prediksi ini menjadi nyata dan tidak meleset.
LOREnzo semakin di depan !!!!
kita tunggu seri - seri berikutnya..!!!!!
Buat bang Rossy cepet sembuh ya..
Minggu, 06 Juni 2010
Pioner - Pioner Cilik Generasi Penerus Gereja
"Engkau perkenankan pesta bersama Mu, keliling meja altar Mu dalam ekaristi.."
Tak seperti biasanya, wajah - wajah penuh rona kebahagiaan terpancar jelas (Sabtu 5/5)sekitar pukul 16.00 saat dua puluh delapan bocah nan cantik dan tampan,dengan didampingi ke dua orang tua mempersiapkan hati untuk sejenak menyapa Bapa di bangunan tinggi berlambangkan salib di Gereja St. Mikael Gombong.Putihnya pakaian yang mereka kenakan, tak sebanding rasanya dengan pancaran mata yang bening dan rona wajah para bocah yang polos.
"Pesta Tubuh dan Darah Kristus", bocah - bocah calon penerima Komuni I sudah tak sabar menanti perayaan ekaristi sore itu. Mereka yang telah dipersiapkan, diteguhkan, dan memperoleh pembekalan - pembekalan selama beberapa bulan terakhir, akhirnya telah kukuh untuk menjadi bocah - bocah yang lebih dewasa dalam kehidupan beriman Katolik.Barangkali hari itu menjadi hari yang paling mereka tunggu.
Perayaan ekaristi pun dimulai dengan khidmat, lagu pembukaan dinyanyikan siswa - siswi SD Pius BU semakin menambah suasana yang gegap gempita. Iringan - iringan perarakan yang panjang, dengan diiringi para penari cilik semakin menambah suasana nan meriah, membahagiakan bercampur haru tatkala itu.
Perayaan ekaristi bersama Rm. Bagyo Purwosanrosa Pr, Rm. Fx. Yitno Puspahandata Pr, serta Rm Efrem Boly cssr.
Dalam homili Rm Bagyo sungguh mengajak calon Komuni I beserta umat agar semakin dewasa dalam beriman, semakin yakin akan Kristus Yesus. Bahkan sempat terselip harapan paggilan akan para bocah calon penerima sakramen nan suci itu.
Memperbaharui janji babtis , mengungkapkan kesungguhan dan kepercayaan akan Yesus Kristus menunjukkan sebuah keyakinan akan seorang insan Katolik.
Perayaan ekaristi pun berjalan dengan lancar, hingga tibalah saat para bocah beriringan dengan kedua orang tua menerima tubuh dan darah Kristus, yang berupa hosti dan anggur. Merekalah para generasi muda gereja, cikal - bakal masa depan gereja, pioner - pioner cilik yang akan segera bertumbuh dan dikuatkan dalam kehidupan beriman Katolik. Mungkin memang tak banyak, hanya 28 bocah, tetapi tatkala bocah - bocah tersebut bersatu dan berjuang tuk memperjuangkan iman mereka, niscaya mereka tak lagi lemah namun menjadi insan - insan yang kokoh dan kuat.
Seusai perayaan ekaristi, mereka pun mengabadikan moment itu bersama - sama. Hingga akhirnya mereka kembali berkumpul dalam sebuah ruang pertemuan, Panti Mandala. Berbagi kasih dan kebahagiaan. Menunjukkan keberanian, para bocah bernyanyi bersama, sebuah lagu Syukur menjadi bumbu kebahagiaan. Seorang bocah mengungkap rasa dalam sebuah puisi dan lagu, bahkan seorang perwakilan dari mereka, bocah nan cantik pun memberikan sebuah sambutan di antara para romo, suster, dewan pastoral dan bapak ibu.Mengungkapkan dengan lantang bahwa mereka pun siap menjalankan tugas gereja, salah satunya menjadi Putra - Puri Altar esok.
Suasana yang begitu hangat dan berkesan, menyaksikan calon generasi penerus gereja berkumpul dan bersukacita dalam kasih persaudaraan.
Menjadi hari yang langka bagi Gereja St. Mikael Gombong, berkumpul dalam perayaan ekaristi yang sakral namun meriah, menyaksikan pioner - pioner cilik generasi penerus gereja, dan menumbuhkan benih - benih iman yang kuat akan Yesus Kristus.
"Proficiat dan teruslah berkarya untuk menunjukkan dan membuktikan kesetiaan dan kedewasaan iman kalian adik - adik.."
Tak seperti biasanya, wajah - wajah penuh rona kebahagiaan terpancar jelas (Sabtu 5/5)sekitar pukul 16.00 saat dua puluh delapan bocah nan cantik dan tampan,dengan didampingi ke dua orang tua mempersiapkan hati untuk sejenak menyapa Bapa di bangunan tinggi berlambangkan salib di Gereja St. Mikael Gombong.Putihnya pakaian yang mereka kenakan, tak sebanding rasanya dengan pancaran mata yang bening dan rona wajah para bocah yang polos.
"Pesta Tubuh dan Darah Kristus", bocah - bocah calon penerima Komuni I sudah tak sabar menanti perayaan ekaristi sore itu. Mereka yang telah dipersiapkan, diteguhkan, dan memperoleh pembekalan - pembekalan selama beberapa bulan terakhir, akhirnya telah kukuh untuk menjadi bocah - bocah yang lebih dewasa dalam kehidupan beriman Katolik.Barangkali hari itu menjadi hari yang paling mereka tunggu.
Perayaan ekaristi pun dimulai dengan khidmat, lagu pembukaan dinyanyikan siswa - siswi SD Pius BU semakin menambah suasana yang gegap gempita. Iringan - iringan perarakan yang panjang, dengan diiringi para penari cilik semakin menambah suasana nan meriah, membahagiakan bercampur haru tatkala itu.
Perayaan ekaristi bersama Rm. Bagyo Purwosanrosa Pr, Rm. Fx. Yitno Puspahandata Pr, serta Rm Efrem Boly cssr.
Dalam homili Rm Bagyo sungguh mengajak calon Komuni I beserta umat agar semakin dewasa dalam beriman, semakin yakin akan Kristus Yesus. Bahkan sempat terselip harapan paggilan akan para bocah calon penerima sakramen nan suci itu.
Memperbaharui janji babtis , mengungkapkan kesungguhan dan kepercayaan akan Yesus Kristus menunjukkan sebuah keyakinan akan seorang insan Katolik.
Perayaan ekaristi pun berjalan dengan lancar, hingga tibalah saat para bocah beriringan dengan kedua orang tua menerima tubuh dan darah Kristus, yang berupa hosti dan anggur. Merekalah para generasi muda gereja, cikal - bakal masa depan gereja, pioner - pioner cilik yang akan segera bertumbuh dan dikuatkan dalam kehidupan beriman Katolik. Mungkin memang tak banyak, hanya 28 bocah, tetapi tatkala bocah - bocah tersebut bersatu dan berjuang tuk memperjuangkan iman mereka, niscaya mereka tak lagi lemah namun menjadi insan - insan yang kokoh dan kuat.
Seusai perayaan ekaristi, mereka pun mengabadikan moment itu bersama - sama. Hingga akhirnya mereka kembali berkumpul dalam sebuah ruang pertemuan, Panti Mandala. Berbagi kasih dan kebahagiaan. Menunjukkan keberanian, para bocah bernyanyi bersama, sebuah lagu Syukur menjadi bumbu kebahagiaan. Seorang bocah mengungkap rasa dalam sebuah puisi dan lagu, bahkan seorang perwakilan dari mereka, bocah nan cantik pun memberikan sebuah sambutan di antara para romo, suster, dewan pastoral dan bapak ibu.Mengungkapkan dengan lantang bahwa mereka pun siap menjalankan tugas gereja, salah satunya menjadi Putra - Puri Altar esok.
Suasana yang begitu hangat dan berkesan, menyaksikan calon generasi penerus gereja berkumpul dan bersukacita dalam kasih persaudaraan.
Menjadi hari yang langka bagi Gereja St. Mikael Gombong, berkumpul dalam perayaan ekaristi yang sakral namun meriah, menyaksikan pioner - pioner cilik generasi penerus gereja, dan menumbuhkan benih - benih iman yang kuat akan Yesus Kristus.
"Proficiat dan teruslah berkarya untuk menunjukkan dan membuktikan kesetiaan dan kedewasaan iman kalian adik - adik.."
Jumat, 04 Juni 2010
Hanya Tulang yang Ngilukah?
Di pagi yang mendung aku terbangun. Aku terbangun dari tidurku, menghalau mimpiku.
Mimpiku yang langka dalam hidupku. Hidupku yang terasa sesak dan penat. Penatku yang tak kunjung usai.
Mataku tak lagi terpejam saat aku mendengar suara - suara langkah kaki di gubuk ku yang sempit. Saat sang Ayah mulai sibuk dengan aktivitas rutin di paginya yang dingin. Tangan dan kakuku terasa ngilu saat aku beranjak dari tempat tidur ku yang lusuh. Ngilunya benar - benar sangat menusuk. Entah apa yang membuatnya ngilu, sesungguhnya tulangku kah atau hatiku yang ngilu?
Bukan, hatiku tak pernah ngilu. Jantungku masih berdegup dengan normal. Toh, sekarang jari -jariku masih bisa bermain mengungkap hasrat.
Namun, otakku rasanya siap di panggang, lebih tepatnya sudah di panggang. Kata orang otak sapi itu menyehatkan, apakah otakku juga menyehatkan?
"Sudahlah.. Sudah Lia.. Sudah.. sudah cukup.. sudahlah.."
Kenapa aku selalu merasa genting dengan diriku sendiri, aku terlalu rumit dan sulit menyelesaikan bebanku. Masalah yang rumit atau otak ku yang membuatnya rumit?
Selalu dan selalu timbul beribu pertanyaan dalam benakku. Tetapi aku tak jua mendapatkan kunci jawabannya. Terkadang aku merasa lelah dengan hidupku, aku merasa bosan, aku merasa muak, aku merasa dan selalu merasa.
Namun, disaat itulah hasratku untuk mengungkapkannya melalui jari - jariku datang. Entah mungkin karena tak ada kawan dihidupku atau karena aku menyadari bahwa hidupku bukan lagi diriku yang dahulu. Aku menyadari bahwa dunia ini memang sungguh berputar, dan roda dunia ini berputar sangat cepat.
"Tuhan, kenapa Engkau memberi pelumas untuk roda kehidupan?"
Pertanyaan yang hanya ada di angan saat aku tersudut di likuan jurang.
Keadaan itu selalu menyudutkanku, memaksaku untuk jadi aku yang bukan aku. Barangkali memaksaku untuk jadi aku yang sudah berubah. Namun terlalu sulit bagiku.
"Tuhan, tidakkah Engkau mendengar hatiku mengerang kesakitan?"
Dia Tuhanku, aku tahu Dia menyayangiku. Aku sadar Dia menopangku. Aku memahami Dia mencintaiku.Tetapi, aku masih sulit tuk memahami misterinya dalam hidupku.
Misterinya yang teramat sakral bagiku, terlalu sulit tuk jadi sebuah angan dalam pikirku.
Yang kutahu dan kuyakini bahwa Dia teman setiaku. Bukan teman, lebih tepatnya sahabat setiaku. Karena hanya Dia yang mampu mendengar semua keluh kesahku, tanpa komentar apapun. Walaupun terkadang aku jengkel karena Dia tak pernah berkomentar atau terlalu egoiskah aku yang hanya selalu berkeluh kesah padaNya, tetapi aku tak pernah mendengarkannya.
Mimpiku yang langka dalam hidupku. Hidupku yang terasa sesak dan penat. Penatku yang tak kunjung usai.
Mataku tak lagi terpejam saat aku mendengar suara - suara langkah kaki di gubuk ku yang sempit. Saat sang Ayah mulai sibuk dengan aktivitas rutin di paginya yang dingin. Tangan dan kakuku terasa ngilu saat aku beranjak dari tempat tidur ku yang lusuh. Ngilunya benar - benar sangat menusuk. Entah apa yang membuatnya ngilu, sesungguhnya tulangku kah atau hatiku yang ngilu?
Bukan, hatiku tak pernah ngilu. Jantungku masih berdegup dengan normal. Toh, sekarang jari -jariku masih bisa bermain mengungkap hasrat.
Namun, otakku rasanya siap di panggang, lebih tepatnya sudah di panggang. Kata orang otak sapi itu menyehatkan, apakah otakku juga menyehatkan?
"Sudahlah.. Sudah Lia.. Sudah.. sudah cukup.. sudahlah.."
Kenapa aku selalu merasa genting dengan diriku sendiri, aku terlalu rumit dan sulit menyelesaikan bebanku. Masalah yang rumit atau otak ku yang membuatnya rumit?
Selalu dan selalu timbul beribu pertanyaan dalam benakku. Tetapi aku tak jua mendapatkan kunci jawabannya. Terkadang aku merasa lelah dengan hidupku, aku merasa bosan, aku merasa muak, aku merasa dan selalu merasa.
Namun, disaat itulah hasratku untuk mengungkapkannya melalui jari - jariku datang. Entah mungkin karena tak ada kawan dihidupku atau karena aku menyadari bahwa hidupku bukan lagi diriku yang dahulu. Aku menyadari bahwa dunia ini memang sungguh berputar, dan roda dunia ini berputar sangat cepat.
"Tuhan, kenapa Engkau memberi pelumas untuk roda kehidupan?"
Pertanyaan yang hanya ada di angan saat aku tersudut di likuan jurang.
Keadaan itu selalu menyudutkanku, memaksaku untuk jadi aku yang bukan aku. Barangkali memaksaku untuk jadi aku yang sudah berubah. Namun terlalu sulit bagiku.
"Tuhan, tidakkah Engkau mendengar hatiku mengerang kesakitan?"
Dia Tuhanku, aku tahu Dia menyayangiku. Aku sadar Dia menopangku. Aku memahami Dia mencintaiku.Tetapi, aku masih sulit tuk memahami misterinya dalam hidupku.
Misterinya yang teramat sakral bagiku, terlalu sulit tuk jadi sebuah angan dalam pikirku.
Yang kutahu dan kuyakini bahwa Dia teman setiaku. Bukan teman, lebih tepatnya sahabat setiaku. Karena hanya Dia yang mampu mendengar semua keluh kesahku, tanpa komentar apapun. Walaupun terkadang aku jengkel karena Dia tak pernah berkomentar atau terlalu egoiskah aku yang hanya selalu berkeluh kesah padaNya, tetapi aku tak pernah mendengarkannya.
Langganan:
Komentar (Atom)