Sabtu, 29 Mei 2010

Maestro Jalanan

Tetesan air hujan seperti jarum, menambah suasana dingin di tengah penatnya kota Yogyakarta di kala senja. Begitu banyak kendaraan lalu lalang, begitu banyak manusia dengan kesibukannya tak peduli dengan nuansa lain si kehidupan yang lain.
Sore itu, kota Yogyakarta yang notabennya adalah kota pelajar seperti biasa penuh sesak dengan para pelajar yang entah sungguh belajar atau hanya sekadar mencicipi nikmatnya kehidupan modern.
Di sebuah tepian jalan, sebuah gerobak penuh bakul dan sayuran di dorong, hingga akhirnya berhenti di tepian dekat tempat gemerlap bernama Papilon. Tempat yang cukup terkenal, karena di sana kita dapat memuaskan perut tanpa merogoh kocek yang dalam.
Orang - orang muda duduk di emperan toko yang telah tutup, tak peduli dengan lalu lalang dan kesibukan jalanan, mereka menikmati sepiring nasi goreng, menjadi nikmat bukan karena kemewahan. Namun menjadi terasa tajam karena suasana jalanan. Suasana yang remang - remang, duduk hanya beralaskan tikar, tak mendengar alunan piano ataupun gesekan biola. Namun jusru mendengar alunan musik ala jalanan.
Entah suasana patut disebut suasana yang memprihatinkan atau malah suasana yang khas, tetapi itulah realitanya. Suasana yang unik yang terkadang menjadi berkesan dan begitu mahal.
Bersama seorang lelaki yang begitu mirip dengan ku, aku rela duduk berdesak - desakan demi melepas rindu akan kasih persaudaraan. Awalnya sedikit bosan, namun menjadi beribu jauh dari penat, saat aku melihat sesosok pria yang menghampiri kami. Pria itu tak tampan seperti aktor, pria itu pun tak kaya seperti seorang jutawan, dan pria itu pun memainkan alunan musik tak seperti seorang pemusik terkenal.
Sesosok pria yang tak muda namun tak tua. Jalannya pun tak seperti peragawan.
Pria itu adalah pria jalanan yang mencari nafkah, entah untuk anaknya, isterinya, atau untuk dirinya sendiri.
Mungkin ia merasa kedinginan karena hanya memakai sebuah kaos berbahan tipis dan celana berwarna kusam. Sungguh jauh dari elith nya dunia, namun begitu mahal sosok itu bagiku.
Ia berjalan, berkalungkan sebuah gitar tak ber merk, tak menyanyi namun memainkan sebuah harmonika, tangannya tak melenggang, namun memainkan gitar dan kumpulan tutup - tutup botol.
Wow, efektif dan efisien sesaat aku melihatnya yang hanya berjalan sendiri menghampiri kami yang sedang menikmati makanan ala jalanan itu.
Semua bergerak, berpadu menjadi sebuah permainan musik yang melengkapi keramaian kota. Namun, terenyuh rasanya saat melihat seorang bapak setengah baya itu harus melakukan hal itu. Rela berjalan jauh dan menahan tetesan air hujan serta terpaan angin, demi beberapa koin uang.
Barangkali bapak itu tak mengenyam pendidikan musik, namun darimana bapak itu memperoleh ide ?
Lalu, bagaimana bapak itu dapat memainkan musik yang tak klasik namun teramat menarik?
Mungkin itulah seni jalanan. Seni yang seringkali hanya berhaarga Rp 100,-

Musik itu teramat langka, bahkan masih terngiang dalam pikirku saat mengingatnya kembali. Permainan alat musik jalanan ala jalanan yang teramat kontras dan mahal bagiku. Teramat cemerlang apabila sosok itu harus menghabiskan senjanya di jalanan.
Barangkali sepele, namun untuk melakukan hal itu, aku yakin sang Bapak harus berlatih dan memutar otak membuahkan sebuah ide cemerlang di tengah segala keterbatasan.
Aku tak tahu siapa dan dari mana sosok itu hadir, aku pun tak tahu sejak kapan sang Bapak menghabiskan senjanya di jalanan bersama permen harmonikanya dan aromanis gitarnya.
Namun bagiku dia adalah satu dari sekian banyak para maestro kehidupan seni dan musik jalanan,.

Minggu, 09 Mei 2010

Senapan Milik Sang Pejongkok

"Seorang bocah cilik itu dengan gayanya yang khas, memegang senapan dengan kuat dan penuh konsentrasi.."

Awan mendung menyelimuti sebuah pelosok, sebuah tempat terpencil, jauh dari gemerlap kehidupan glamour. Sore itu, aku menyusuri jalan yang berkelok - kelok. Menuju sebuah tempat yang sepertinya dapat menjadi penawar kepenatan. Awalnya sedikit enggan bagiku untuk beranjak dari rumah, namun apalah arti keengganan dibanding dengan ketulusan seorang babeh kepada gadis belianya.
Sekitar 20 menit melewati perjalanan yang teramat memacu jantung, akhirnya babeh dan aku pun tiba di sebuah danau cilik buatan manusia, waduk Sempor namanya. Entah seberapa pandai para Insinyur itu hingga sanggup menggali tanah begitu dalam, aku tak peduli karena tak terlintas dalam pikirku saat aku melihat sebuah panorama yang indah.
Dengan santai aku memasrahkan rute kepada sang Babeh, kuyakin bahwa tempat yang dipikihnya pasti menyenangkan, karena aku tak mengerti setiap sudut yang ada di sekitar waduk itu.
Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah tempat yang cukup sepi. Sejenak kepenatanku belum juga sirna, kepenatan yang hanya disimpan dalam nurani.
Selangkah demi selangkah, sambil membawa helm di tangan, aku pun duduk di sebuah batu di antara rerumputan. Tentunya aku memilih sebuah tempat yang strategis, dimana aku bisa memandang ke kumpulan air yang hijau dan membidik arah dermaga dari kejauhan.
Cukup nikmat bagiku, namun tak ada kepuasan dalam batinku yang kosong.
Beberapa meter dari lokasi aku duduk, ada sekumpulan orang dengan pose jongkok, membawa sebuah alat yang panjang seperti senapan, yang ternyata pancing namanya.
Dalam pikiranku selalu terlintas hal yang paling aku benci itu, pekerjaan orang yang aku anggap tidak memiliki pekerjaan. Lama aku mengamati mereka. Sepuluh lelaki dengan posenya masing - masing memegang senapan, tanpa ekspresi, saling bersahut - sahutan seperti burung beo dengan tuannya juga dengan kondentrasi tinggi. Membosankan bagiku memandang mereka, namun detik demi detik, menit demi menit Begitu nikmatnya momenku. Menikmati udara yang membuat lega di dada, tiba - tiba aku tersentak saat mereka berteriak "Ulih kiyee,, ulih.. "
Ternyata, salah seorang dari si Pejongkok itu mendapat seekor ikan. Wow, takjub diriku melihatnya.
Mulai menikmati momenku di sore yang mendung, aku tiba - tiba kembali terlonjak saat seorang bocah berlari menuju danau sambil membawa senapan cilik. Dibuntuti oleh seorang pria tengah baya, bocah ltu tak menghiraukannya.
" Pak, ayuh pak cepet.....!!"teriak bocah itu. Pemandangan yang menggelikan, taatkala melihat bocah cilik itu menjadi seorang pejongkok yang nangkring di atas sebuah sampan, di tepian danau. Tak mau kalah dengan pejongkok lain, bocah itu pun melemparkan sebuah senar dari senapannya. Sementara ayahnya hanya duduk di sampinggnya sambil menghisap rokok.
Pejongkok cilik ini seringkali melirik pada pejongkok lain yang berhasil menembak ikan dengan senapan dan senar hingga berulang kali. Seolah tak mau kalah, bocah ini dengan konsentrasi tinggi memegang senapan yang direndamnya dalam air. Sementara ayahnya masih asyik dengan senapan cilik yang dihisapnya.
Pemandangan yang memiliki citarasa tersendiri, asamnya membuat mata menyipit, manisnya membuat bibir tersenyum, dan pahitnya membuat pepe bergerak.
Sesuatu tanpa aktivitas berarti terkadang bisa jadi begitu bermakna. Menemukan sebuah arti kesabaran, persaingan yang sehat, bahkan sebuah kasih seorang ayah kepada anak lelaki ciliknya, jauh dari keramaian dan kesibukan orang - orang berduit, ditemani rerumputan kering rasanya terlalu mahal untuk dibeli.

"Seperti si Pejongkok cilik pembawa senapan yang berkonsentrasi melihat air yang menggenang dan seorang pria tengah baya yang sibuk menghisap senapan ciliknya, mereka duduk berdampingan dalam sebuah sampan yang rusak di tepian limpahan air karunia TUHAN."