Cerita ini berawal dari suatu mimpi untuk menjadi seorang yang mampu menciptakan warna baru. Mengadakan suatu perpaduan yang indah dan menawan dalam gejolak modernisasi. Seorang gadis yang ingin menjadi seorang designer. Gadis ini berasal bukan dari keluarga yang penuh kehidupan glamour. Namun dia hanyalah seorang gadis yang hidup di kota kecil berjuluk Gombong.
Ia mempunyai tekad untuk terus mempertajam rasanya. Ia selalu ingin memperoleh sesuatu yang berharga agar dapat menjadikannya lebih berharga. Ia selalu mencari bukti bahwa kessederhanaan bukanlah keterbatasan untuk maju.
Ia tinggal di suatu rumah bercat putih. Rumah yang sederhana, tetapi adalah kebahagiaan utuh baginya. Bersama seorang ayah, ibu, dan kakak lelaki si Gadis menjalani kehidupannya. Ayahnya hanyalah seorang karyawan wiraswasta yang menampung beras-beras dari para penyelip padi untuk di jual kembali. Sedangkan ibunya hanyalah lulusan SMP yang setia menjadi seorang ibu rumah tangga. Mereka menjalani kehidupan yang harmonis. Tak pernah ayahnya memukuli ibunya, membentaknya saja tak pernah didengar. Keluarga sederhana berdarah tiong hoa yang hidup berimankan katolik.
Hari demi hari dilaluinya dengan penuh keceriaan. Bisa dikata dia adalah gadis yang dimanja, tetapi mempunyai ambisi tinggi. Ibunya mengajarkannya banyak hal. Sejak TK ia sudah mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan yang berbau seni. Bersama ibu yang rela menggayuh sepeda di siang terik, setiap hari mereka lalui bersama. Wanita paruh baya yang rajin mengajaknya ke gereja,berdoa, dan berdevosi kepada Bunda Maria. Seorang isteri yang setia dan yakin bahwa Bunda Maria adalah penyelamat. Sungguh sosok ibu yang senantiasa mengajak anak-anaknya untuk berpasrah. Menanamkan bahwa ketebatasan bukanlah suatu penghalang. Ia percaya, ”Jika Bunda Maria diam tidak seorang pun akan berdoa, tidak seorang pun akan menolong. Jika Bunda berdoa, semua akan berdoa, semua akan menolong.”
Gadis sederhana perlahan mulai bertumbuh pribadinya. Hingga akhirnya saat ia mulai dapat meraba dunia luar dan pesatnya teknologi, munculah suatu ketertarikan dalam diri gadis ini. Suatu mimpi untuk bergulat di dunia fashion. Entah itu darah dari siapa. Kenyataannya ayah hanyalah pria biasa yang lumayan kolot dan mempunyai ijazah SMA. Barangkali menjadi designer merupakan cita-cita. Namun mamungkinkan hanya hasrat remaja yang bergejolak di tengah majunya jaman.
Bahkan gadis ini selalu berharap akan membuka sebuah butik di kota besar saat ia duduk di bangku SMA. Namun suatu ketika saat kakaknya duduk di kelas XII SMA ia mulai berpikir. Akal rasionalnya mulai jalan. Ia kala itu masih kelas IX SMP. Sedikit demi sedikit meraba realita dan sulitnya meraih masa depan. Hidup dalam keluarga yang harmonis membentuk pribadinya yang mencintai kehangatan dalam relasi. Ia merasakan sungguh Tuhan berkarya dalam keluarganya. Tuhan menjadi seorang kakek yang membawa kedamaian bagi ayah dan ibunya.
Ibu nya selalu menaburkan benih semangat menatap masa depan bagi anak-anaknya. Hingga sampailah pada suatu titik waktu kakaknya hendak lulus SMA. Apalagi yang menjadi kendala utama jika bukan soal ekonomi. Secara akademis kakak lelakinya itu pandai dan seringkali membuat dia iri. Menghadapi tantangan, ayahnya mulai merasa genting. Namun sang Ibu senantiasa berkata, “ Jangan kita pikirkan. Apa yang akan terjadi besok biarlah terjadi. Namun mari kita berjuang di masa kini sebagai modal untuk menapaki hari esok.”
Motivasi yang sungguh mujarab. Mendorong kakak lelakinya untuk memperoleh beasiswa penuh ke jenjang universitas swasta di Yogyakarta. Sungguh, keluarga kecil ini merasakan bahwa Tuhan bekerja. Tuhan mengetahui. Ia tidak pernah diam saja.
Gadis ini bertekad untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Tak ada lagi mimpinya di masa SMP untuk membuka sebuah butik. Ia mulai sadar akan kondisi dan realita. Gadis yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Ia lupakan mimpinya. Kehidupan yang baru dimulai. Kakak lelakinya hijrah ke Yogyakarta. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Mulailah terlihat bahwa gadis ini adalah gadis yang aktif. Ia banyak menghabiskan tenaganya untuk melakukan kegiatan-kegiatan organisasi. Ia malah tak punya mimpi lagi. Ia hanya berpikir, “Yang penting saya capai apa yang bisa saya capai dalam waktu dekat ini.”
Suatu ketika ia mendapat suatu kesempatan yang berharga untuk mengikuti acara SOMA (School Of Missionary Animators) seregio Jawa di kota Malang. Ia diutus sebagai wakil dari keuskupan Purwokerto bersama beberapa kawannya. Alangkah bangga dan bahagia perasaan seorang ibu. Ia melihat putrinya mulai berkembang, berjumpa, mengenal, dan memahami beragam situasi di luar sana.
Boleh dikata ibunya mempunyai andil besar dalam membentuk karakter gadis ini. Ia selalu mengandalkan ibu sebagai pedoman dalam bertindak. Ibunya adalah eksekutor bigi hidupnya . Gadis ini berpendapat, “Asalkan ada mama semua beres.” Namun sungguh karya Tuhan memang tidak dapat direncanakan manusia. Ibu gadis ini terserang penyakit jantung. Penyakit yang perlahan tetapi pasti akan melemahkan fisiknya. Ibunya yang seperti wonder woman mulai terlihat kurus. Seringkali malah mengeluh sesak nafas. Gadis ini hanya dapat berpasrah. Ia yang selalu ceria mulai sering marah-marah dan murung. Bahkan ia semakin egois dalam menyikapi masalah.
Gadis ini merasa takut akan masa depan. Ia takut jika ibunya tak lagi bersamanya. Ia tak menginginkan penyakit itu tumbuh dalam diri ibunya. Penyakit yang tak ada obatnya dan hanya dapat dijaga untuk memperpanjang usia.
Hingga suatu ketika kondisi ibunya kian memburuk dan terpaksa dilarikan ke Yogyakarta. Dengan biaya pas-pasan ayah dan anak-anaknya berharap ibu tetap kuat. Ibunya tak pernah mengerang kesakitan, hanya diam dan seolah sehat-sehat saja. Bolak-balik Gombong –Yogyakarta itulah kegiatan rutin setiap satu bulan sekali untuk berobat. Semua ini bukanlah hal yang mudah bagi keluarga dengan keadaan ekonomi yang terbatas.
Hari-hari terasa kian sulit. Apalagi saat ibunya harus di rawat secara medis selama hampir dua minggu. Yang paling ditakutkan pun terjadi. Satu minggu setelah hari Paskah di tahun 2009, ibunya tiada. Gadis ini bahkan tak sempat mendengar pesan terakhir dari sang Mama. Suatu senja di ruang berbau obat di kota Yogyakarta yang penuh kenangan. Ibunya meninggal dan itu artinya pintu kehidupan baru pun harus di buka. Mereka yang masih ada di dunia harus melangkah memasuki rumah yang baru. Mendalami situasi yang amat berbeda.
Tak ada lagi harapan bagi kakak lelakinya untuk berfoto bersama ayah dan ibunya saat menjadi sarjana muda esok. Tak ada lagi ibunya yang esok akan membantu memilihkan lelaki untuk gadis ini. Tak ada lagi wanita paruh baya yang menggayuh sepeda ke tempat kerja dan siap membantu ayah setelah ia selesai mencuci di rumah. Kehidupan yang amat baru. Ibarat kapal keluarga yang kehilangan nahkoda. Sang ayah harus berjuang untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi gadis yang mulai beranjak dewasa. Sungguh tak menyangka, duduk dibangku SMA mempunyai teman baru. Si gadis juga harus mulai menjalani kehidupan baru tanpa ibunya. Ia selalu mengingat kata-kata ibunya, “Jadi orang itu yang supel, cari teman sebanyak-banyaknya. Belajarlah bersosialisasi. Kalau kita baik, tentu tanpa kita minta orang lain mempunyai naluri untuk menghargai kita.”
Sejak saat itulah gadis ini mulai belajar menata kehidupannya yang baru. Ia menjadi seorang mama cilik yang mengatur urusan rumah tangga. Ia belajar utuk membagi waktunya. Menyusun jadwal untuk sekolah, mencuci, menyapu, pergi ke gereja, dan kegiatan-kegiatan yang lainnya. Bahkan ia belajar sendiri soal berdandan. Ia belajar untuk memahami kondisi sang Ayah yang hanya sendiri. Ia dan kakak lelakinya kian semangat untuk menata masa depan yang lebih baik.
“Kalau adik meraih kesuksesan lebih dulu dari kakak, saya akan mendorong kakak untuk jauh lebih sukses dari saya. Apabila kakak sukses terlebih dahulu dari adik, kakak akan menjadi vitamin penggugah daya juang ku untuk maju. Kita meyakini kita pasti bisa meraih kesuksesan bersama.Karena kita punya Tuhan. Kita punya mama yang dekat dengan Bunda Maria yang akan terus mendoakan kita. Kita punya papa yang menjadi motivasi terbesar kita untuk berjuang.” Itulah janji gadis itu bersama kakaknya saat mereka membakar surat-surat ibunya di halaman rumah. Tak ada tangis dan tak ada sorot mata nelangsa. Namun raut muka bersinar yang memancar dari kakak adik yang sedang merajut mimpi dan harapan.
Satu tahun berlalu, perjalanan tidaklah mudah bagi si Gadis. Ia hanya tinggal bersama ayahnya. Sedangkan ayahnya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tak dapat menuntut. Ia mulai terombang-ambing akan harapan di masa depan. Ia tak lagi memiliki teman untuk berbagi cerita. Ia tak mempunyai sahabat yang selalu mengingatkannya jika lupa berdoa.
Masa-masa yang sangat sulit. Gadis SMA yang masih membutuhkan figure ibu dalam hidupnya. Seringkali ia sedih dan menangis sendiri. Ia tuliskan rasa rindunya untuk sang Ibu dengan pulpen dan kertas setiap malam. Ia bawakan dalam doa salam Maria. Ia habiskan waktu nya untuk terlibat aktif dalam dinamika paroki. Ia pun mulai menjadi seorang guru sekolah minggu. Perlahan gadis ini menemukan kebahagiaan tersendiri saat ia dapat bernyanyi dan menari bersama anak-anak. Sejenak ia melupakan kesedihannya. Ia menjalankan misinya untuk menjadi seorang penggerak gereja. Bersama teman-temannya ia mengadakan kegiatan-kegiatan kecil di paroki.
Hingga suatu ketika ia mengikuti suatu pelatihan jurnalistik di paroki. Ia memiliki rasa ketertarikan. Gairahnya yang dulu ingin menjadi seorang designer kini muncul lagi. Akan tetapi untuk berbagi cerita dan rasa lewat kata-kata. Ia mulai belajar menjadi seorang reporter kecil, yakni meliput setiap moment tertentu di gereja. Kemudian tulisannya dibagikan melalui website keuskupan dan paroki. Ia pun mencoba mengikuti lomba menulis online dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan baginya. Ia berhasil meraih unag satu juta hanya bermodal tiga ratus kata. Alangkah bahagianya, ia dapat mendapatkan uang itu dan berharap menjadi bekalnya di bangku kuliah. Perlahan-lahan ia mulai mencoba untuk mengirimnya ke majalah, tetapi bukan hal yang mudah. Ia semakin merasakan gejolaknya saat diberi tugas untuk menyelesaikan buku berjudul Aku,Mentari, dan Oase Kehidupan Mikael. Suatu kisah perjalanan sang Peziarah yang menelusuri kehidupan umat di paroki St. Mikael Gombong.
Kini, mimpinya yang sirna itu tumbuh sangat menggebu-gebu. Ia ingin menjadi seorang penulis. Namun, ia berpikir lagi apakah cita-citanya itu bisa menjamin kehidupannya yang layak? Banyak hal kian bergejolak dalam batinnya. Ia terus berusaha untuk menjadi gadis yang kuat. Ia ingin berkembang. Ia ingin menjadi orang yang berguna dan dapat terus berbagi. Terkadang ia terpuruk dan kakak lelakinya selalu hadir dari hati ke hati untuk menemani dan meyakinkan bahwa ia tidaklah sendiri. Ia masih punya ayah, kakak, orang-orang yang mencintainya, dan ibu yang selalu mendoakannya.
Lagi-lagi pertentangan batin melandanya. Ia mulai bingung akan masa depannya selulus SMA. Tak mungkin jika ayahnya harus membanting tulang hanya sendiri. Gejolak batin dan pikiran terus mengganggunya. Ia bingung dan takut akan menghadapi hari esok. Satu-satunya jalan adalah ia harus mencari beasiswa di universitas. Jika ia tak mendapatkannya maka harus siap bekerja. Gadis itu membulatkan tekadnya dan berjuang. Ia berusaha mencari informasi mengenai beasiswa yang ternyata sangat sulit. Hingga akhirnya ia menemukan di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Ia pun memutuskan untuk mencoba dan tetap optimis. Ternyata, Tuhan menjawab doa-doanya. Ia pun telah meraih beasiswa nol rupiah di universitas itu. Ia memilih suatu fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan jurusan komunikasi. Ia memahami bahwa Tuhan ik.ut merasakan gejolak hidupnya. Dia adalah penuntun sejati
Tuhan berkarya dalam hidupnya. Tuhan memberi sesuai dengan yang dia butuhkan. Tuhan tak memberinya lebih, Ia memberinya berkecukupan. Gadis itu kini masih harus berjuang dalam studinya. Tak cukup sampai di situ. Akankah ia menjadi seorang yang berarti bagi masyarakat? Akankah ia menjadi seorang yang tak segan untuk selalu berbagi? Semuanya menjadi tugas yang penuh tantangan jaman baginya. Namun yang pasti adalah Tuhan hidup bersama gadis itu dan keluarganya. Secuplik kisah hidupnya adalah ungkapan kehidupan yang senantiasa berubah. Perubahan yang adalah rencana Tuhan dan manuasia tak dapat menerawangnya. Namun, akankah kita dapat senantiasa mensyukuri semua perubahan itu? Semuanya tergantung dari niat dan seberapa besar iman kita akan Yesus sang Juru Selamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar