Rabu, 20 Juli 2011

Berinvestasi Sekaligus Berkonservasi

Erupsi Merapi terjadi bukan berarti keterpurukan para petani di lereng Merapi dan sekitarnya terus berlanjut.
Robertus Herlambang Priyo Susilo. Lelaki berambut gondrong yang akrab disapa Mas Lambang ini sedang mencoba membudidayakan tanaman gaharu. Putra dari Bapak Fx Sudarman dan ibu Ch Surahmi ini sempat menempuh bangku kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI). Jika dilihat dari basicnya, mas Lambang memang seharusnya bergelut dalam dunia ekonomi. Namun realitanya generasi muda ini malah tidak menggeluti bidang ekonomi yang sedang menjadi trend masa kini.
Saat berbicang bersama, mas Lambang mengakui bahwa dirinya pernah mengalami suatu kegagalan. Dia tidak dapat menyelesaikan studinya di Jakarta. Namun semua itu bukan berarti sebuah keterpurukan yang abadi bagi hidupnya. Lelaki kelahiran 18 Maret 1972 ini dari kecil memiliki kebiasaan tertentu dalam keluarganya, yaitu pergi berladang bersama sang Nenek. Mas Lambang tinggal bersama orang tuanya di Dusun Babadan desa Butuh, Kecamatan Sawangan Magelang. Kebiasaan dimasa kecil untuk bercocok tanam di desanya inilah yang mendorong mas Lambang untuk membudidayakan gaharu.
“Saya ini sempat menganggur satu tahun. Hingga pada tahun 2002 saya berangkat ke Kalimantan. Saya bekerja di sana lebih kurang tiga tahun. Disanalah saya dapat isteri. Tahun 2005 saya pulang ke Jawa. Berikutnya, saya bergabung dengan Jesuit Refugee Service untuk menjadi relawan respon tsunami di sana.” Ucapnya.
“Memang tidak mudah, karena saya harus jauh dari keluarga,terutama isteri. Namun di sana saya pun menemukan keluarga baru, yaitu teman-teman serikat Jesuit dan warga Aceh pedalaman. Saya tinggal di sana dan banyak bergelut dengan kehidupan orang-orang pedalaman.” Tandasnya.
Mas Lambang mengakui bahwa dirinya mulai mengenal dekat tanaman gaharu di Aceh. Dia berkata, “Banyak sekali tanaman gaharu di Aceh. Bahkan tumbuh dengan liar. Awalnya saya sempat bingung karena banyak orang datang meminta warga berburu gaharu di hutan. Sebagian para pengusaha dan bahkan ada pula orang-orang Malaysia yang datang pula.”
“Saking penasarannya, saya mencoba cari tahu lewat internet. Saya menemukan informasi bahwa tanaman gaharu adalah tanaman yang bernilai tinggi. Malah termasuk tanaman yang dilindungi di Indonesia. Dari situlah saya dapat menemukan masalah,dimana orang-orang Aceh tersebut tidak mengetahui apa itu tanaman gaharu.” Jelasnya.
“Informasi tentang gaharu terus saya cari bersama teman-teman hingga kami dapat berjumpa dengan Bapak Aswandi di Departemen Kehutanan kantor Pematang Siantar, Medan. Dari situ kami peroleh informasi yang lebih detail. Tanaman gaharu yang bernilai tinggi di luar negeri adalah tanaman yang telah melalui proses penyuntikan setelah umur enam tahun. Atau seringkali disebut proses inokulasi yaitu memasukan jamur fosarium ke dalam batang pohon sehingga terjadi infeksi . Hingga ada perlawanan dari antibody . Karena itulah tanaman gaharu dapat menghasilkan aroma yang bernilai tinggi . Satu batang pohon yang berdiameter 20 cm bisa bernilai sampai 30 juta.”terangnya.
“Kayu yang sudah melalui proses penyutikan lalu disuling diambil minyaknya. Minyak itu dapat digunakan untuk bahan baku parfum non alcohol dan murni. Minyak ini bisa diekspor ke luar negeri atau bisa pula untuk obat asma dan kanker. Biasanya minyak yang diekspor banyak laku di daerah timur tengah. Misalnya untuk kegiatan ritual keagamaan, membaluri mayat, dan bahkan di Arab Saudi menjadi bahan baku parfum. Satu liter minyak yang dihasilkan gaharu ini bisa mencapai ratusan juta.” Kata Mas Lambang.
Mengetahui semua itu mas Lambang dan teman-temannya tergerak untuk mengajak warga Aceh pedalaman membudidayakan tanaman gaharu. Mulai dari pembibitan, perawatan dan pemeliharaan, penyuntikan, hingga pemasaran. Setahap demi setahap Mas Lambang mensosialisasikan nilai dan manfaat tanaman gaharu kepada warga pedalaman.
“Bisa dikata cukup sukses kami berjuang di sana. Ternyata menanam gaharu tidaklah sulit. Namun terbesit dalam pikiran saya, kenapa di tanah Jawa tanaman gaharu tidak dilestarikan? Padahal struktur tanah di Jawa tergolong dalam criteria tempat hidup gaharu. Hingga akhirnya Oktober 2010 saya pulang ke Babadan. Dari Aceh saya sengaja membawa bibit gaharu. Saya mencoba melakukan pembibitan pohon gaharu sampai 20000 bibit. Semua saya peroleh dari Aceh dan Kalimantan.” Jelasnya.
Mas Lambang melakukan pembibitan dengan tujuan dapat melestarikan gaharu di lahan tetangga-tetangganya yang mayoritas petani. Disamping itu, mas Lambang menyadari akan adanya suatu keprihatinan di tanah Jawa. Ternyata cukup banyak kalangan yang mengetahui soal gaharu, tetapi mereka bingung bagaimana memperoleh bibitnya. Namun, bulan November 2010 mas Lambang sudah mengalami kerugian karena erupsi Merapi.
“Sekitar hampir 6000 bibit mati karena erupsi Merapi. Saya sendiri kalang kabut. Usaha baru mulai dirintis tetapi malah sudah merugi. Akan tetapi, saya terus berusaha merawat bibit yang dapat terselamatkan. Hingga goncangan Merapi reda, saya mulai pelestarian dari keluarga terdekat yaitu gereja.”ucap Mas Lambang.
“Ternyata masyarakat cukup antusias. Saya sendiri berharap gerakan penanaman gaharu ini juga dapat membantu Pemeritah Daerah dalam berkonservasi di tanah Jawa. Selain itu, saya melihat keprihatinan dalam kehidupan para petani. Sekarang biaya pendidikan dan kesehatan cukup tinggi. Mudah-mudahan dengan melestarikan gaharu dapat meningkatkan kesejahteraan para petani di Jawa. Bisa dikata berkonservasi sekaligus berinvestasi. Kegiatan ini sudah dimulai di lingkungan para pastor dan teman-teman alumni Seminari Mertoyudan. Kemarin saja tanggal 19 Juni 2011 sudah dilakukan penanaman bibit gaharu bersama anak-anak katolik di Seminari Mertoyudan. Bibitnya saya berikan secara cuma-cuma, karena tujuannya bukan bisnis tetapi sosialisasi.” Terang Mas Lambang.
Saat ditanya apa rencana beberapa tahun ke depan Mas Lambang menjawab, “Jika pelestarian berjalan lancer ada dua pilihan, yaitu pertama menjalin hubungan dengan Kementrian Perhutanan Pusat Penelitian pengembangan hutan . Atau pilihan kedua adalah melakukan penyuntikan bersama teman-teman disini, saya akan mengusahakan fosariumnya.”
“Untuk lebih jauhnya soal pemasarannya saya juga sudah punya gambaran. Jika memang sampai pada titik pemasaran, bisa lewat Asosiasi Pengusaha Ekspor Gaharu Indonesia yang dibuat oleh pemerintah kantor pusat di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Bisa juga lewat jalur pedagang yang mandiri. Saya punya beberapa teman di Malaysia, para pengusaha gaharu.” Terang Mas Lambang.
Lelaki muda ini memang lahir di tanah Jawa. Maka dia pun memimpikan kemakmuran bagi rakyat Jawa yang mayoritasnya petani. Apalagi setelah erupsi Merapi terjadi, banyak lahan rusak dan gagal panen. Mas Lambang berharap konservasi bisa terus digalakkan. Akan tetapi tidak hanya sekadar konservasi, namun juga berinvestasi.

Rabu, 22 Juni 2011

Lamunan ku Kala Itu

Cerita ini berawal dari suatu mimpi untuk menjadi seorang yang mampu menciptakan warna baru. Mengadakan suatu perpaduan yang indah dan menawan dalam gejolak modernisasi. Seorang gadis yang ingin menjadi seorang designer. Gadis ini berasal bukan dari keluarga yang penuh kehidupan glamour. Namun dia hanyalah seorang gadis yang hidup di kota kecil berjuluk Gombong.

Ia mempunyai tekad untuk terus mempertajam rasanya. Ia selalu ingin memperoleh sesuatu yang berharga agar dapat menjadikannya lebih berharga. Ia selalu mencari bukti bahwa kessederhanaan bukanlah keterbatasan untuk maju.

Ia tinggal di suatu rumah bercat putih. Rumah yang sederhana, tetapi adalah kebahagiaan utuh baginya. Bersama seorang ayah, ibu, dan kakak lelaki si Gadis menjalani kehidupannya. Ayahnya hanyalah seorang karyawan wiraswasta yang menampung beras-beras dari para penyelip padi untuk di jual kembali. Sedangkan ibunya hanyalah lulusan SMP yang setia menjadi seorang ibu rumah tangga. Mereka menjalani kehidupan yang harmonis. Tak pernah ayahnya memukuli ibunya, membentaknya saja tak pernah didengar. Keluarga sederhana berdarah tiong hoa yang hidup berimankan katolik.
Hari demi hari dilaluinya dengan penuh keceriaan. Bisa dikata dia adalah gadis yang dimanja, tetapi mempunyai ambisi tinggi. Ibunya mengajarkannya banyak hal. Sejak TK ia sudah mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan yang berbau seni. Bersama ibu yang rela menggayuh sepeda di siang terik, setiap hari mereka lalui bersama. Wanita paruh baya yang rajin mengajaknya ke gereja,berdoa, dan berdevosi kepada Bunda Maria. Seorang isteri yang setia dan yakin bahwa Bunda Maria adalah penyelamat. Sungguh sosok ibu yang senantiasa mengajak anak-anaknya untuk berpasrah. Menanamkan bahwa ketebatasan bukanlah suatu penghalang. Ia percaya, ”Jika Bunda Maria diam tidak seorang pun akan berdoa, tidak seorang pun akan menolong. Jika Bunda berdoa, semua akan berdoa, semua akan menolong.”
Gadis sederhana perlahan mulai bertumbuh pribadinya. Hingga akhirnya saat ia mulai dapat meraba dunia luar dan pesatnya teknologi, munculah suatu ketertarikan dalam diri gadis ini. Suatu mimpi untuk bergulat di dunia fashion. Entah itu darah dari siapa. Kenyataannya ayah hanyalah pria biasa yang lumayan kolot dan mempunyai ijazah SMA. Barangkali menjadi designer merupakan cita-cita. Namun mamungkinkan hanya hasrat remaja yang bergejolak di tengah majunya jaman.
Bahkan gadis ini selalu berharap akan membuka sebuah butik di kota besar saat ia duduk di bangku SMA. Namun suatu ketika saat kakaknya duduk di kelas XII SMA ia mulai berpikir. Akal rasionalnya mulai jalan. Ia kala itu masih kelas IX SMP. Sedikit demi sedikit meraba realita dan sulitnya meraih masa depan. Hidup dalam keluarga yang harmonis membentuk pribadinya yang mencintai kehangatan dalam relasi. Ia merasakan sungguh Tuhan berkarya dalam keluarganya. Tuhan menjadi seorang kakek yang membawa kedamaian bagi ayah dan ibunya.

Ibu nya selalu menaburkan benih semangat menatap masa depan bagi anak-anaknya. Hingga sampailah pada suatu titik waktu kakaknya hendak lulus SMA. Apalagi yang menjadi kendala utama jika bukan soal ekonomi. Secara akademis kakak lelakinya itu pandai dan seringkali membuat dia iri. Menghadapi tantangan, ayahnya mulai merasa genting. Namun sang Ibu senantiasa berkata, “ Jangan kita pikirkan. Apa yang akan terjadi besok biarlah terjadi. Namun mari kita berjuang di masa kini sebagai modal untuk menapaki hari esok.”
Motivasi yang sungguh mujarab. Mendorong kakak lelakinya untuk memperoleh beasiswa penuh ke jenjang universitas swasta di Yogyakarta. Sungguh, keluarga kecil ini merasakan bahwa Tuhan bekerja. Tuhan mengetahui. Ia tidak pernah diam saja.

Gadis ini bertekad untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Tak ada lagi mimpinya di masa SMP untuk membuka sebuah butik. Ia mulai sadar akan kondisi dan realita. Gadis yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Ia lupakan mimpinya. Kehidupan yang baru dimulai. Kakak lelakinya hijrah ke Yogyakarta. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Mulailah terlihat bahwa gadis ini adalah gadis yang aktif. Ia banyak menghabiskan tenaganya untuk melakukan kegiatan-kegiatan organisasi. Ia malah tak punya mimpi lagi. Ia hanya berpikir, “Yang penting saya capai apa yang bisa saya capai dalam waktu dekat ini.”
Suatu ketika ia mendapat suatu kesempatan yang berharga untuk mengikuti acara SOMA (School Of Missionary Animators) seregio Jawa di kota Malang. Ia diutus sebagai wakil dari keuskupan Purwokerto bersama beberapa kawannya. Alangkah bangga dan bahagia perasaan seorang ibu. Ia melihat putrinya mulai berkembang, berjumpa, mengenal, dan memahami beragam situasi di luar sana.

Boleh dikata ibunya mempunyai andil besar dalam membentuk karakter gadis ini. Ia selalu mengandalkan ibu sebagai pedoman dalam bertindak. Ibunya adalah eksekutor bigi hidupnya . Gadis ini berpendapat, “Asalkan ada mama semua beres.” Namun sungguh karya Tuhan memang tidak dapat direncanakan manusia. Ibu gadis ini terserang penyakit jantung. Penyakit yang perlahan tetapi pasti akan melemahkan fisiknya. Ibunya yang seperti wonder woman mulai terlihat kurus. Seringkali malah mengeluh sesak nafas. Gadis ini hanya dapat berpasrah. Ia yang selalu ceria mulai sering marah-marah dan murung. Bahkan ia semakin egois dalam menyikapi masalah.
Gadis ini merasa takut akan masa depan. Ia takut jika ibunya tak lagi bersamanya. Ia tak menginginkan penyakit itu tumbuh dalam diri ibunya. Penyakit yang tak ada obatnya dan hanya dapat dijaga untuk memperpanjang usia.

Hingga suatu ketika kondisi ibunya kian memburuk dan terpaksa dilarikan ke Yogyakarta. Dengan biaya pas-pasan ayah dan anak-anaknya berharap ibu tetap kuat. Ibunya tak pernah mengerang kesakitan, hanya diam dan seolah sehat-sehat saja. Bolak-balik Gombong –Yogyakarta itulah kegiatan rutin setiap satu bulan sekali untuk berobat. Semua ini bukanlah hal yang mudah bagi keluarga dengan keadaan ekonomi yang terbatas.

Hari-hari terasa kian sulit. Apalagi saat ibunya harus di rawat secara medis selama hampir dua minggu. Yang paling ditakutkan pun terjadi. Satu minggu setelah hari Paskah di tahun 2009, ibunya tiada. Gadis ini bahkan tak sempat mendengar pesan terakhir dari sang Mama. Suatu senja di ruang berbau obat di kota Yogyakarta yang penuh kenangan. Ibunya meninggal dan itu artinya pintu kehidupan baru pun harus di buka. Mereka yang masih ada di dunia harus melangkah memasuki rumah yang baru. Mendalami situasi yang amat berbeda.

Tak ada lagi harapan bagi kakak lelakinya untuk berfoto bersama ayah dan ibunya saat menjadi sarjana muda esok. Tak ada lagi ibunya yang esok akan membantu memilihkan lelaki untuk gadis ini. Tak ada lagi wanita paruh baya yang menggayuh sepeda ke tempat kerja dan siap membantu ayah setelah ia selesai mencuci di rumah. Kehidupan yang amat baru. Ibarat kapal keluarga yang kehilangan nahkoda. Sang ayah harus berjuang untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagi gadis yang mulai beranjak dewasa. Sungguh tak menyangka, duduk dibangku SMA mempunyai teman baru. Si gadis juga harus mulai menjalani kehidupan baru tanpa ibunya. Ia selalu mengingat kata-kata ibunya, “Jadi orang itu yang supel, cari teman sebanyak-banyaknya. Belajarlah bersosialisasi. Kalau kita baik, tentu tanpa kita minta orang lain mempunyai naluri untuk menghargai kita.”

Sejak saat itulah gadis ini mulai belajar menata kehidupannya yang baru. Ia menjadi seorang mama cilik yang mengatur urusan rumah tangga. Ia belajar utuk membagi waktunya. Menyusun jadwal untuk sekolah, mencuci, menyapu, pergi ke gereja, dan kegiatan-kegiatan yang lainnya. Bahkan ia belajar sendiri soal berdandan. Ia belajar untuk memahami kondisi sang Ayah yang hanya sendiri. Ia dan kakak lelakinya kian semangat untuk menata masa depan yang lebih baik.

“Kalau adik meraih kesuksesan lebih dulu dari kakak, saya akan mendorong kakak untuk jauh lebih sukses dari saya. Apabila kakak sukses terlebih dahulu dari adik, kakak akan menjadi vitamin penggugah daya juang ku untuk maju. Kita meyakini kita pasti bisa meraih kesuksesan bersama.Karena kita punya Tuhan. Kita punya mama yang dekat dengan Bunda Maria yang akan terus mendoakan kita. Kita punya papa yang menjadi motivasi terbesar kita untuk berjuang.” Itulah janji gadis itu bersama kakaknya saat mereka membakar surat-surat ibunya di halaman rumah. Tak ada tangis dan tak ada sorot mata nelangsa. Namun raut muka bersinar yang memancar dari kakak adik yang sedang merajut mimpi dan harapan.

Satu tahun berlalu, perjalanan tidaklah mudah bagi si Gadis. Ia hanya tinggal bersama ayahnya. Sedangkan ayahnya harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tak dapat menuntut. Ia mulai terombang-ambing akan harapan di masa depan. Ia tak lagi memiliki teman untuk berbagi cerita. Ia tak mempunyai sahabat yang selalu mengingatkannya jika lupa berdoa.

Masa-masa yang sangat sulit. Gadis SMA yang masih membutuhkan figure ibu dalam hidupnya. Seringkali ia sedih dan menangis sendiri. Ia tuliskan rasa rindunya untuk sang Ibu dengan pulpen dan kertas setiap malam. Ia bawakan dalam doa salam Maria. Ia habiskan waktu nya untuk terlibat aktif dalam dinamika paroki. Ia pun mulai menjadi seorang guru sekolah minggu. Perlahan gadis ini menemukan kebahagiaan tersendiri saat ia dapat bernyanyi dan menari bersama anak-anak. Sejenak ia melupakan kesedihannya. Ia menjalankan misinya untuk menjadi seorang penggerak gereja. Bersama teman-temannya ia mengadakan kegiatan-kegiatan kecil di paroki.

Hingga suatu ketika ia mengikuti suatu pelatihan jurnalistik di paroki. Ia memiliki rasa ketertarikan. Gairahnya yang dulu ingin menjadi seorang designer kini muncul lagi. Akan tetapi untuk berbagi cerita dan rasa lewat kata-kata. Ia mulai belajar menjadi seorang reporter kecil, yakni meliput setiap moment tertentu di gereja. Kemudian tulisannya dibagikan melalui website keuskupan dan paroki. Ia pun mencoba mengikuti lomba menulis online dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan baginya. Ia berhasil meraih unag satu juta hanya bermodal tiga ratus kata. Alangkah bahagianya, ia dapat mendapatkan uang itu dan berharap menjadi bekalnya di bangku kuliah. Perlahan-lahan ia mulai mencoba untuk mengirimnya ke majalah, tetapi bukan hal yang mudah. Ia semakin merasakan gejolaknya saat diberi tugas untuk menyelesaikan buku berjudul Aku,Mentari, dan Oase Kehidupan Mikael. Suatu kisah perjalanan sang Peziarah yang menelusuri kehidupan umat di paroki St. Mikael Gombong.



Kini, mimpinya yang sirna itu tumbuh sangat menggebu-gebu. Ia ingin menjadi seorang penulis. Namun, ia berpikir lagi apakah cita-citanya itu bisa menjamin kehidupannya yang layak? Banyak hal kian bergejolak dalam batinnya. Ia terus berusaha untuk menjadi gadis yang kuat. Ia ingin berkembang. Ia ingin menjadi orang yang berguna dan dapat terus berbagi. Terkadang ia terpuruk dan kakak lelakinya selalu hadir dari hati ke hati untuk menemani dan meyakinkan bahwa ia tidaklah sendiri. Ia masih punya ayah, kakak, orang-orang yang mencintainya, dan ibu yang selalu mendoakannya.

Lagi-lagi pertentangan batin melandanya. Ia mulai bingung akan masa depannya selulus SMA. Tak mungkin jika ayahnya harus membanting tulang hanya sendiri. Gejolak batin dan pikiran terus mengganggunya. Ia bingung dan takut akan menghadapi hari esok. Satu-satunya jalan adalah ia harus mencari beasiswa di universitas. Jika ia tak mendapatkannya maka harus siap bekerja. Gadis itu membulatkan tekadnya dan berjuang. Ia berusaha mencari informasi mengenai beasiswa yang ternyata sangat sulit. Hingga akhirnya ia menemukan di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Ia pun memutuskan untuk mencoba dan tetap optimis. Ternyata, Tuhan menjawab doa-doanya. Ia pun telah meraih beasiswa nol rupiah di universitas itu. Ia memilih suatu fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan jurusan komunikasi. Ia memahami bahwa Tuhan ik.ut merasakan gejolak hidupnya. Dia adalah penuntun sejati

Tuhan berkarya dalam hidupnya. Tuhan memberi sesuai dengan yang dia butuhkan. Tuhan tak memberinya lebih, Ia memberinya berkecukupan. Gadis itu kini masih harus berjuang dalam studinya. Tak cukup sampai di situ. Akankah ia menjadi seorang yang berarti bagi masyarakat? Akankah ia menjadi seorang yang tak segan untuk selalu berbagi? Semuanya menjadi tugas yang penuh tantangan jaman baginya. Namun yang pasti adalah Tuhan hidup bersama gadis itu dan keluarganya. Secuplik kisah hidupnya adalah ungkapan kehidupan yang senantiasa berubah. Perubahan yang adalah rencana Tuhan dan manuasia tak dapat menerawangnya. Namun, akankah kita dapat senantiasa mensyukuri semua perubahan itu? Semuanya tergantung dari niat dan seberapa besar iman kita akan Yesus sang Juru Selamat.

Rabu, 30 Maret 2011

Ketika Aku Merindu EMAK ku

Selamat malam Tuhan..

Suatu ketika aku merasa begitu lelah

Suatu ketika aku merasa begitu penat

Suatu ketika aku merasa begitu bosan

Suatu ketika aku merasa begitu pilu



aku lelah dengan semua gejolak ku

tak tahu, tak paham

aku berdiam dan bersendawa

hanya diam, Tuhan

tak bersua, tak berkata

terkadang aku merindukan yang tiada

bukan terkadang!

tetapi selalu..

selalu aku merindu yang tiada itu

katanya, "Jangan kau merindunya Lia.."

namun hati tak biasa berdusta dan mata tak terbiasa menipu

Tuhan, aku meyakini akan sesuatu hal

aku mengimaninya

aku mempercayainya

dia yang selalu aku rindu itu sesungguhnya ada bersama ku

ataukah malah ada di sisi Mu?

Salahkah jika aku merindu?

Aku merindukan ibuku

Aku kangen 'emak ku'

Sekarang sedang apakah emak?

apakah dia tahu bahwa aku mengungkap rinduku lewat mata jariku?

Dia, Tuhan..

Bunda yang amat aku cintai

Mama yang amat aku sayangi

Aku ingin mendekapnya !

Dia milik ku!

bukan.. sungguh dia lah milik Mu!



Ma, sedang apa engkau?

Masih ingatkah akan masa- masa kita?

Kau tahu

Brendy sekarang bertambah gemuk

dia pasti merindumu seperti aku

dia makan sangat banyak..

Biasanya kita habiskan senja bersamanya kau dan aku,

beralaskan tikar kita merebahkan penat dan lelah

aku masih ingat semuanya, sangat lekat..

belum lagi, jika gadismu ini sibuk dengan telepon genggamnya

"Lia, jangan sms an terus.."

tak boleh ya, Ma? Aku yang beranjak dewasa ini mulai merasakan cinta

aku ingin menceritakan kisah cintaku seperti teman gadisku yang lain

Mama, aku merasa bahagia , kau pun jua?

Putrimu sudah berhasil menerima beasiswa

aku ingin mengungkapkan nya padamu

aku ingin membagikan bahagia ku padamu

aku ingin melihat senyum mu

aku ingin bisa bermimpi berjumpa dengan mu

aku ingin mengungkap kisah ku

tetapi di mana engkau, Emak ku ?

Tak lama aku datang ke deruan ombak

tatkala aku tak kuasa menawar rindu ku

ku sebar wewangian untuk mu Ma,

sudah kah kau terima? hanya setitik doa air mata ku

Sebentar lagi Lia akan hijrah ke kota pelajar

lalu bagaimana dengan papa?

Dia bahagia, tetapi dia pasti sedih Ma..

suami mu akan tinggal sendiri di rumah

hanya dengan Brendy dan Bella

maukah kau menemianinya?

Melalui doa mu..

Aku ingin kau menemani papa ku, suami mu

Mama, di Jogja nanti aku akanlebih dekat dengan putramu

dia akan sering mengunjungiku

dia akan menjaga ku

tak perlu kau khawatir

aku akan menjaga diri ku baik-baik

aku akan tetap rajin ke gereja

aku akan berusaha menyelesaikan studi ku

Lia akan selalu semangat, Ma !

Dan surprise

tak lama lagi anak lelaki mu akan menjadi seorang sarjana muda

apa kau bangga? Aku ceritakan semua kisah bahagia kita di sini

agar kau.. BAHAGIA

anak lelaki mu itu pandai, aku sayang padanya, juga papa selalu merindunya

dia sekarang agak cerewet pada ku,huh.!

tetapi aku yakin di menyayangiku..

Banyak hal yang berlalu di sini Mama

Banyak kenangan yang indah bersama papa dan ooh

Kenangan kita, album cerita cinta sebuah keluarga cilik

Keluarga yang selalu menyayangi sosok emak nya

Papa, Lia, Ian selalu kompak !

Kita cinta Mama, kita kangen pada mu..

Salam manja gadis mu

Salam peluk putra mu

Salam hangat suami mu

Doa kami untuk mu..

Ku tunggu dalam mimpi ku, Mama..