Senin, 30 Agustus 2010

Suratku untuk Bunda

Dear Mama,

Halo Bunda ? Apa kabarmu, cintaku? Aku anakmu di sini baik – baik saja. Aku berharap, kau pun baik – baik saja di sana.

Putrimu yang manja ini sengaja menulis surat sebagai pengobat rindu. Putrimu ini sekarang telah dewasa. Percayakah engkau ? Kini, aku terbiasa dengan kemandirian. Engkau harus percaya dengan kata- kataku ini. Padahal, dulu dari ujung rambut hingga ujung kuku ku kau yang membantu. Masa kanak – kanak sampai remajaku, mama selalu menemaniku. Rindukah engkau akan putrimu ? Aku yakin kau pasti merindukanku sama sepertiku.

Ada begitu banyak kisah yang ingin kusampaikan padamu. Aku ingin menceritakan bagaimana aku mulai jatuh cinta, walaupun hanya cinta monyet. Aku ingin menceritakan teman – tamanku yang kadang – kadang iseng dengan putrimu ini. Belum lagi, aku ingin sekali berbagi kisahku bersama papa dan kakak lelakiku. Cerita itu terlalu panjang dan terlalu sulit diluapkan kata per katanya.

Ibuku, buah cintamu ini bukan buah cintamu yang dulu kau jumpai tiap hari. Sekarang, aku terbiasa bangun pagi sendiri tanpa jam beker, walaupun sering juga papa membangunkanku. Putrimu ini memang beranjak dewasa dan lebih tepat dikata sudah dewasa karena keadaan. Mama, aku menuliskan surat ini untukmu dikala senja. Entah mengapa, kala senja dan dini hari aku selalu teringat padamu. Satu tahun lebih kau tak lagi di sisiku, tetapi aku selalu merasakan kehadiranmu hingga detik ini. Bahkan aku merasakan kau sedang menatapku saat aku menulis surat ini. Awalnya aku bingung jika merasakan kerinduanku, tetapi senja ini membawaku untuk mengobati rinduku dalam secarik surat, Surat untuk Bundaku.

Mama, ada lagi cerita menggelikan dan menyenangkan. Suami tercintamu kini suka berolahraga, dia selalu bangun pagi, jalan – jalan mengelilingi kompleks desa kita. Dia mengalahkan putrimu dalam hal bangun pagi, hmm.. aku jadi malu. Akan tetapi, kau tidak marah kan? Oia, sekarang putrimu ini rajin menyapu, mengepel, menguras kamar mandi, mencuci, dan mencabuti rumput. Padahal, dulu kau harus marah – marah memisahkanku dengan novel – novel yang aku baca agar mau membantumu. Ada lagi, kemarin aku mencoba memasak tumis buncis dan kacang. Aku sangat menyukainya, karena rasanya sedikit bisa dinikmati. Beberapa waktu sebelumnya aku mencoba menggoreng tempe, tetapi gagal dan gosong. Begitu juga saat aku menggoreng telur, aku tidak tahu berapa banyak minyak yang mesti dipakai.Akan tetapi, sedikit demi sedikit aku belajar. Aku belajar dengan diriku sendiri. Seringkali saat aku sendiri di rumah, aku teringat saat kita sedang menonton televisi bersama. Tidak hanya kau dan aku, tetapi putra kesayanganmu Brendy juga ikut. Malah dia tidur disebelahmu, mengalahkanku. Sampai sekarang si Hitam masih bersama aku dan papa. Jadi terbesit pula dalam pikirku, jangan – jangan kau merindukannya juga? Hm, aku jadi iri dengan Brendot kesayanganmu itu. Walaupun begitu, tiap kali aku rindu padamu, aku menatap si Hitam dan bermain bersamanya. Dengar, sekarang dia sedang bermain – main di samping rumah kita, apa kaumendengarnya?

Mama, sekarang putrimu ini pandai berdandan juga lho. Padahal dulu aku begitu bodoh dan kau selalu memilihkan pakaianku. Banyak sekali perubahan dalam hidup kami di sini. Aku dan papa seringkali berdoa tiap malam, hanya berdua. Sedangkan kakak, dia kan ada di Yogya. Hanya lewat Hp kami berkomunikasi atau terkadang aku main ke sana. Tahukah kau ? Aku menjadi pemberani. Aku pergi ke Yogya sendiri. Terbiasa rasanya, aku melakukan segala sesuatunya sendiri. Putrimu ini memang banyak berubah, walaupun seringkali watak manja nya muncul. Maklumlah, karena aku rindu pelukan dan kecupan hangatmu di pipiku. Akan tetapi, aku merasakan setiap orang begitu baik padaku. Aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dari apa yang aku punya dan aku tak pernah berambisi untuk jadi yang terbaik. Aku pun selalu mengingat perkataanmu, “Li, kamu jadi bocah sing pinter, sumeh, cari kanca sing akeh, aja pilih – pilih. Dengan siapapun, kamu harus baik dan tulus.” Pesanmu untukku begitu sederhana. Terkadang aku berpikir, kenapa pesanmu untukku sederhana sekali? Tetapi seiring berjalannya waktu aku menyadari, yang sederhana saja tidak sepenuhnya aku jalani dengan kesempurnaan, mungkin itu juga pikirmu.

Yang jelas, putrimu ini mencintaimu. Putrimu yang manja dan menyebalkan ini merindukanmu. Putrimu yang centil ini menyayangimu. Putrimu yang sering menjengkelkanmu ini sedang berusaha mencari jati dirinya seperti yang kau inginkan. Dalam doaku sebelum tidur, aku mendoakanmu agar kau selalu bahagia dengan hidupmu yang sekarang. Aku selalu berharap, suatu hari nanti kita dapat berkumpul kembali dalam keluarga yang penuh keabadian. Aku berdoa agar kau pun mendoakan kami di sini. Aku berdoa kepada Bunda, agar pasukannya sekarang telah berjumpa dengan Nya. Dalam doaku aku selalu berkata, I love you Jesus, I love you Maria, I love you Mama.

Ma, balas suratku melalui mimpi indahku ya.. Aku tunggu..

Kamis, 26 Agustus 2010

Sejatiku Akan Dirinya

Tiap kali otakku bergeming
kurasakan arus mengalir, menggoncangkan rongga jiwa
kerapkali teriakan batinku bergeming
tergores oleh terjalnya kehidupan

rinduku ini bukan sekadar rindu
damaiku ini bukan semata damai sejati
di sudut batin, di celah jiwa mengecap dingin nya realita
mencium bilur kerinduan akan dirinya
sosoknya yg tak sempat kulihat guratan keriputnya
tawanya yg tak kujangkau seiring pudarnya hitam pekat helai rambutnya
figurnya yg menjadi dambaan kebersamaanku
idaman menghisap dewasaku terjamah peluknya
Bukan!
Aku terlalu berangan jauh
tak usai kusesal
tak usai kuhujat
Cintanya di hidupku
menjadi akar kasihku
haus batinku
lelah jiwaku
enggan ragaku
mengecap rindu
menghisap asa
berjumpa dengannya
ikatan batinku dan batinnya tak berujung
hingga suatu saat yg indah
aku kan berjumpa dengannya dalam damai sejati

Mencicipi Misa 17an Ala Orang Muda Katolik

Begitu banyak bendera Merah Putih berkibar tatkala senja mulai menghampiri daerah Gombong. Sore itu, sekitar pukul 17.00 WIB di gereja Santo Mikael satu persatu umat berdatangan. Bukan untuk misa mingguan mereka datang, tetapi pada tanggal 16 Agustus 2010 mereka datang untuk misa tirakatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 65.
Dalam misa tirakatan itu terlihat spesial karena di sana – sini terpasang bendera – bendera cilik yang memang sengaja ditata untuk memeriahkan suasana. Sore itu, Orang Muda Katolik Santo Mikael diberi kesempatan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Terlihat wajah – wajah pemuda pemudi yang bersinar memancarkan kegairahan , semangat generasi muda Gereja. Misa tersebut merupakan wujud cinta kita akan Bumi Pertiwi, sebagai bentuk harapan akan masa depan Bangsa demi tercapainya kehidupan yang lebih baik.
“Gereja bagai bahtera mengarungi jaman…” alunan lagu pembukaan yang megah mengiringi romo dan para petugas liturgi masuk menuju altar. Suasana sedikit gelap dengan beberapa sorot lampu yang menambah keindahan dalam kemegahan bangunan Santo Mikael. Baru saja romo selesa mendupai altar, slide Proklamasi di mana sosok Soekarno nampak jelas menarik umat untuk mengenang perjuangan para pendahulu kita. Seusai pembacaan proklamasi, lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan bersama – sama, lagu kebangsaan yang menjadi teriakan cinta masyarakat Indonesia.
Rangkaian misa berjalan dengan lancar. Sebelum homili kaum muda memutarkan slide yang telah dipersiapkan. Bukan film perjuangan yang dipertontonkan, tetapi foto – foto realita kehidupan di era modern yang dibumbui dengan alunan lagu Sentuh hatiku serta tulisan – tulisan yang menjadi pertanyaan refleksi bagi umat. Tema ‘Mengarungi Arus Jaman’ sengaja dipilih oleh Kaum Muda Katolik untuk mempertajam dan menggali makna misa tersebut. Dalam homilinya pun, Rm Dhanang mengajak umat untuk semakin menyadari akan keadaan tanah air di era kini. Bagaimana kehidupan masyararakat, bagaimana keadaan ekonomi negara yang menekan kemiskinan dan penderitaan, serta meningkatkan tindakan-tindakan krimanalitas. Belum lagi dengan bencana alam yang sering terjadi, ledakan – ledakan, juga kinerja pemerintah Indonesia. Umat diajak untuk mengintip realita kehidupan dan memikirkan masa depan Indonesia. Tidak hanya sampai di situ, tetapi diperlukan kesadaraan dan tindakan nyata demi mewujudkan masa depan Bangsa. Begitulah misa tersebut berlangsung dan berjalan dengan lancar. Harapan Orang Muda Katolik santo Mikael adalah dapat menjadi generasi muda katolik yang mampu menggugah semangat untuk terus berjuang bersama dalam mengarungi arus jaman. Tidak berdiam diri,karena iman juga harus diwujudkan dalam kebersamaan dan perjuangan nyata di dunia, tentunya kehidupan dunia yang adalah bagian dari kehidupan Bangsa.
Seusai misa, OMK berkumpul di ruang Panti Mandala untuk mengadakan tirakatan. Seperti biasa acara dibuka dengan lagu – lagu rohani. Bukan sekadar bernyanyi, menari dan bersenang – senang, tetapi kembali berjumpa dengan Romo Dhanang kami lagi – lagi menonton sebuah film. Sangat berbeda dengan slide visualisasi yang diputarkan saat misa, kali ini romo Dhanang memutarkan film yang mengisahkan seorang gadis berusia 14 tahun yang terlanjur hamil. Dikisahkan dalam film itu bagaimana gejolak kehidupan sang Gadis dalam memperjuangkan kandungannya tanpa bersuami. Melalui kisah itulah, romo mengajak kaum muda untuk berefleksi, setujukah dengan tindakan free seks dan tindakan nyata apa yang mesti dilakukan sebagai pribadi yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan RI? Walau dalam forum besar, rupanya pertanyaan itu sungguh menggelitik hingga memancing muda – mudi untuk sharing dan berdiskusi. Semua itu menjadi moment yang menarik dan langka karena suasana kemerdekaan dapat terasa dalam kebersamaan kala itu.
Dapat disimpulkan, sebagai kaum muda katolik yang beriman akan Yesus Kristus, tidak semata – mata hanya beragama dan beriman, tetapi Orang Muda Katolik harus dapat berjuang dan berkembang dengan terus meningkatkan kerjasama dalam menggapai kehidupan yang lebih baik. Tak ingin rasanya membiarkan Indonesia hanya berdiam diri, tak rela jika tak ada tindakan yang realistis. Menjadi generasi muda yang berprinsip, pantang menyerah, dan senantiasa mempererat tali persaudaraan, Orang Muda Katolik harus dapat merealisasikannya dalam keseharian. Tak perlu hanya membual, tetapi berbuat hal yang positif. Dimulai dari hal yang kecil niscaya akan senantisa bertumbuh dan menjadi sesuatu yang besar dan bermanfaat. Orang Muda Katolik adalah masa depan Negara dan Gereja.

“Sekali merdeka tetap merdeka.. Merdeka!”