Erupsi Merapi terjadi bukan berarti keterpurukan para petani di lereng Merapi dan sekitarnya terus berlanjut.
Robertus Herlambang Priyo Susilo. Lelaki berambut gondrong yang akrab disapa Mas Lambang ini sedang mencoba membudidayakan tanaman gaharu. Putra dari Bapak Fx Sudarman dan ibu Ch Surahmi ini sempat menempuh bangku kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI). Jika dilihat dari basicnya, mas Lambang memang seharusnya bergelut dalam dunia ekonomi. Namun realitanya generasi muda ini malah tidak menggeluti bidang ekonomi yang sedang menjadi trend masa kini.
Saat berbicang bersama, mas Lambang mengakui bahwa dirinya pernah mengalami suatu kegagalan. Dia tidak dapat menyelesaikan studinya di Jakarta. Namun semua itu bukan berarti sebuah keterpurukan yang abadi bagi hidupnya. Lelaki kelahiran 18 Maret 1972 ini dari kecil memiliki kebiasaan tertentu dalam keluarganya, yaitu pergi berladang bersama sang Nenek. Mas Lambang tinggal bersama orang tuanya di Dusun Babadan desa Butuh, Kecamatan Sawangan Magelang. Kebiasaan dimasa kecil untuk bercocok tanam di desanya inilah yang mendorong mas Lambang untuk membudidayakan gaharu.
“Saya ini sempat menganggur satu tahun. Hingga pada tahun 2002 saya berangkat ke Kalimantan. Saya bekerja di sana lebih kurang tiga tahun. Disanalah saya dapat isteri. Tahun 2005 saya pulang ke Jawa. Berikutnya, saya bergabung dengan Jesuit Refugee Service untuk menjadi relawan respon tsunami di sana.” Ucapnya.
“Memang tidak mudah, karena saya harus jauh dari keluarga,terutama isteri. Namun di sana saya pun menemukan keluarga baru, yaitu teman-teman serikat Jesuit dan warga Aceh pedalaman. Saya tinggal di sana dan banyak bergelut dengan kehidupan orang-orang pedalaman.” Tandasnya.
Mas Lambang mengakui bahwa dirinya mulai mengenal dekat tanaman gaharu di Aceh. Dia berkata, “Banyak sekali tanaman gaharu di Aceh. Bahkan tumbuh dengan liar. Awalnya saya sempat bingung karena banyak orang datang meminta warga berburu gaharu di hutan. Sebagian para pengusaha dan bahkan ada pula orang-orang Malaysia yang datang pula.”
“Saking penasarannya, saya mencoba cari tahu lewat internet. Saya menemukan informasi bahwa tanaman gaharu adalah tanaman yang bernilai tinggi. Malah termasuk tanaman yang dilindungi di Indonesia. Dari situlah saya dapat menemukan masalah,dimana orang-orang Aceh tersebut tidak mengetahui apa itu tanaman gaharu.” Jelasnya.
“Informasi tentang gaharu terus saya cari bersama teman-teman hingga kami dapat berjumpa dengan Bapak Aswandi di Departemen Kehutanan kantor Pematang Siantar, Medan. Dari situ kami peroleh informasi yang lebih detail. Tanaman gaharu yang bernilai tinggi di luar negeri adalah tanaman yang telah melalui proses penyuntikan setelah umur enam tahun. Atau seringkali disebut proses inokulasi yaitu memasukan jamur fosarium ke dalam batang pohon sehingga terjadi infeksi . Hingga ada perlawanan dari antibody . Karena itulah tanaman gaharu dapat menghasilkan aroma yang bernilai tinggi . Satu batang pohon yang berdiameter 20 cm bisa bernilai sampai 30 juta.”terangnya.
“Kayu yang sudah melalui proses penyutikan lalu disuling diambil minyaknya. Minyak itu dapat digunakan untuk bahan baku parfum non alcohol dan murni. Minyak ini bisa diekspor ke luar negeri atau bisa pula untuk obat asma dan kanker. Biasanya minyak yang diekspor banyak laku di daerah timur tengah. Misalnya untuk kegiatan ritual keagamaan, membaluri mayat, dan bahkan di Arab Saudi menjadi bahan baku parfum. Satu liter minyak yang dihasilkan gaharu ini bisa mencapai ratusan juta.” Kata Mas Lambang.
Mengetahui semua itu mas Lambang dan teman-temannya tergerak untuk mengajak warga Aceh pedalaman membudidayakan tanaman gaharu. Mulai dari pembibitan, perawatan dan pemeliharaan, penyuntikan, hingga pemasaran. Setahap demi setahap Mas Lambang mensosialisasikan nilai dan manfaat tanaman gaharu kepada warga pedalaman.
“Bisa dikata cukup sukses kami berjuang di sana. Ternyata menanam gaharu tidaklah sulit. Namun terbesit dalam pikiran saya, kenapa di tanah Jawa tanaman gaharu tidak dilestarikan? Padahal struktur tanah di Jawa tergolong dalam criteria tempat hidup gaharu. Hingga akhirnya Oktober 2010 saya pulang ke Babadan. Dari Aceh saya sengaja membawa bibit gaharu. Saya mencoba melakukan pembibitan pohon gaharu sampai 20000 bibit. Semua saya peroleh dari Aceh dan Kalimantan.” Jelasnya.
Mas Lambang melakukan pembibitan dengan tujuan dapat melestarikan gaharu di lahan tetangga-tetangganya yang mayoritas petani. Disamping itu, mas Lambang menyadari akan adanya suatu keprihatinan di tanah Jawa. Ternyata cukup banyak kalangan yang mengetahui soal gaharu, tetapi mereka bingung bagaimana memperoleh bibitnya. Namun, bulan November 2010 mas Lambang sudah mengalami kerugian karena erupsi Merapi.
“Sekitar hampir 6000 bibit mati karena erupsi Merapi. Saya sendiri kalang kabut. Usaha baru mulai dirintis tetapi malah sudah merugi. Akan tetapi, saya terus berusaha merawat bibit yang dapat terselamatkan. Hingga goncangan Merapi reda, saya mulai pelestarian dari keluarga terdekat yaitu gereja.”ucap Mas Lambang.
“Ternyata masyarakat cukup antusias. Saya sendiri berharap gerakan penanaman gaharu ini juga dapat membantu Pemeritah Daerah dalam berkonservasi di tanah Jawa. Selain itu, saya melihat keprihatinan dalam kehidupan para petani. Sekarang biaya pendidikan dan kesehatan cukup tinggi. Mudah-mudahan dengan melestarikan gaharu dapat meningkatkan kesejahteraan para petani di Jawa. Bisa dikata berkonservasi sekaligus berinvestasi. Kegiatan ini sudah dimulai di lingkungan para pastor dan teman-teman alumni Seminari Mertoyudan. Kemarin saja tanggal 19 Juni 2011 sudah dilakukan penanaman bibit gaharu bersama anak-anak katolik di Seminari Mertoyudan. Bibitnya saya berikan secara cuma-cuma, karena tujuannya bukan bisnis tetapi sosialisasi.” Terang Mas Lambang.
Saat ditanya apa rencana beberapa tahun ke depan Mas Lambang menjawab, “Jika pelestarian berjalan lancer ada dua pilihan, yaitu pertama menjalin hubungan dengan Kementrian Perhutanan Pusat Penelitian pengembangan hutan . Atau pilihan kedua adalah melakukan penyuntikan bersama teman-teman disini, saya akan mengusahakan fosariumnya.”
“Untuk lebih jauhnya soal pemasarannya saya juga sudah punya gambaran. Jika memang sampai pada titik pemasaran, bisa lewat Asosiasi Pengusaha Ekspor Gaharu Indonesia yang dibuat oleh pemerintah kantor pusat di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Bisa juga lewat jalur pedagang yang mandiri. Saya punya beberapa teman di Malaysia, para pengusaha gaharu.” Terang Mas Lambang.
Lelaki muda ini memang lahir di tanah Jawa. Maka dia pun memimpikan kemakmuran bagi rakyat Jawa yang mayoritasnya petani. Apalagi setelah erupsi Merapi terjadi, banyak lahan rusak dan gagal panen. Mas Lambang berharap konservasi bisa terus digalakkan. Akan tetapi tidak hanya sekadar konservasi, namun juga berinvestasi.