"Tak disangka, bangunan itu patut aku panggil kakek.."
Bocah itu terpana, melihat sebuah bangunan yang tinggi nan megah dan batinnya bertanya - tanya mengapa bangunan itu berlambang salib?
Sebuah kompleks yang asri berada di sebuah kota kecil, lebih tepatnya kota yang kurang terkenal. Bangunan tinggi berlambang salib itu adalah sang Kakek. Sang kakek yang menjadi saksi saat orang - orang berpakaian rapi datang untuk menemui Tuhannya.
Kakek itu sudah berusia 75 tahun, tetapi dia masih kuat berdiri dan tidak pernah tertatih - tatih. Banyak orang menyayanginya, datang kepadanya, dan menjadikannya kawan untuk bercanda dalam Diam.
Sebuah gereja katolik yang berada di kota Gombong bernama Gereja St. Mikael adalah bangunan tua yang masih berdiri kokoh sejak tanggal 29 September 1925. Bukan bangunan yang sekadar terbentuk atas batu dan bata, melainkan terbangun atas himpunan umat Kristiani di kota yang terpencil ini. Telah hidup menjadi sebuah dinamika kehidupan umat yang begitu kompleks dan penuh warna.
Tak lama lagi sang Kakek akan merayakan usianya yang ke 75 tahun. Barangkali kakek merasa senang karena anak - anak dan cucu - cucunya akan memberikan sebuah kado yang indah, yakni sebuah kado yang melambangkan cintakasih dalam persaudaraan.
Para frater dari sebuah seminari akan menilik dan menelusuri kembali sebuah sejarah dan menuangkannya dalam sebuah buku. Tak hanya sejarah secara fisik, tetapi kisah hidup dan gejolak - gejolaknya pun akan terkuak. Cucu - cucu kakek berkumpul dan mencari silsilah keluarga katolik di Gombong ini. Tugas ini cukup sulit, tetapi bagi kami ini bukanlah sebuah tugas melainkan sebuah pelayanan dan tanda kasih atas anugerah kehidupan iman yang telah diperoleh selama ini.
Kami ingin membagikan cerita kita kepada setiap orang. Membagi cerita yang di dalamnya mengungkapkan sebuah himpunan yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Mendengarkan celoteh - celoteh dari berbagai kalangan yang telah terhimpun.
Kami ingin tahu bagaimana dewan pastoral memandang soal gereja, kami penasaran dengan pandangan seorang tukang becak mengenai himpunan orang - orang katolik, bagaimana seorang janda yang tak lagi merasa kesepian saat berada dalam rongga tubuh Gereja, dan apa yang ada dipikiran seorang anak tentang bangunan yang megah ini.
Semua itu akan kami telusuri dan kami ungkapkan melalui sebuah pena dan kertas, serta dihidupkan dalam sebuah Amograf.
Berbagi sebuah realita kehidupan katolik, celoteh warga Santo Mikael.
Bocah itu hanya diam, terus memandang
tak lengah tatkala seorang pria tengah baya menarik, menggenggam jemarinya
pikirnya melayang
mencari oase kehidupan
dalam sebuah bangunan berlambang salib
Mata Jariku adalah sesuatu yang menunjukan bahwa Jari ini memiliki mata - mata yang jeli. Mata - mata ini adalah kawan di saat sendiri dan sepi, mengantarkan hati menuju hal yang ada jauh di angan..
Selasa, 27 Juli 2010
kaktus dari GOLGOTa
Sahabat,
kesederhanaan Mu memanah keangkuhanku
Kaulah oase padang gurun
yg kurindu kesegaran nya membual
membasahi rongga dahagaku
Malam ini ku kecup tapak - tapak Mu mentah
pada kaktus mekar semalam
Indah dan mempesona, Sahabatku
Seperti nikmatnya mereguk cinta Mu
Hanya duri - durinya mengingingatkan aku
akan tajuk - tajuk mahkota derita Mu
Dari sanalah panah hati Mu
melumpuhkan keangkuhanku
pada kaktus mekar semalam
kesederhanaan Mu memanah keangkuhanku
Kaulah oase padang gurun
yg kurindu kesegaran nya membual
membasahi rongga dahagaku
Malam ini ku kecup tapak - tapak Mu mentah
pada kaktus mekar semalam
Indah dan mempesona, Sahabatku
Seperti nikmatnya mereguk cinta Mu
Hanya duri - durinya mengingingatkan aku
akan tajuk - tajuk mahkota derita Mu
Dari sanalah panah hati Mu
melumpuhkan keangkuhanku
pada kaktus mekar semalam
T O B A T
Serat" cinta Mu, Tuhan
berserakan atas bongkah" keangkuhanku
dilumur ceceran darah silih Putera Mu
Merah, semerah cinta Mu
Maha Pengampun
Hari ini tobat kelabu kuucapkan
Tirai berjambul ungu Kau turunkan
Panji" putih perdamaian pun
Kau pancangkan di birunya persahabatan
Maka jadilah tobatku sebuah tonggak
Padanya Kau tambatkan tali kehidupanku
Cemerlang dilabur keputihan wajahMU
OH, wajah yg pernah kutelapaki!
Tuhan..
Tobatku adalah sisa serat" cinta
Tertinggal antara Engkau dan aku
Tak putus Tuhan
Cinta Mu abadi
Tak larai lagi
Kasih Mu lestari
Di sini, pada tepian doa ini
Kau bangunkan titian gading kokok
diselaput kyrie cinta suci Mu
Di sanalah kaki"ku
Kau biarkan menjejakinya
Tak lagi bernoda
TUHAN ku
Tak lagi bernoda !
berserakan atas bongkah" keangkuhanku
dilumur ceceran darah silih Putera Mu
Merah, semerah cinta Mu
Maha Pengampun
Hari ini tobat kelabu kuucapkan
Tirai berjambul ungu Kau turunkan
Panji" putih perdamaian pun
Kau pancangkan di birunya persahabatan
Maka jadilah tobatku sebuah tonggak
Padanya Kau tambatkan tali kehidupanku
Cemerlang dilabur keputihan wajahMU
OH, wajah yg pernah kutelapaki!
Tuhan..
Tobatku adalah sisa serat" cinta
Tertinggal antara Engkau dan aku
Tak putus Tuhan
Cinta Mu abadi
Tak larai lagi
Kasih Mu lestari
Di sini, pada tepian doa ini
Kau bangunkan titian gading kokok
diselaput kyrie cinta suci Mu
Di sanalah kaki"ku
Kau biarkan menjejakinya
Tak lagi bernoda
TUHAN ku
Tak lagi bernoda !
Rabu, 14 Juli 2010
JadiKan Aku Seorang Pejuang Sejati
Sore itu, aku tiba di sebuah rumah bercat putih, sebuah rumah sederhana tempatku berbagi kasih dengan Ayah dan saudara lelaki ku. Badan ku terasa lelah dan kaku karena baru saja aku menempuh perjalanan ke Solo.
Spontan aku mengusap leherku denan handuk yang hangat dan terasa sedikit aneh dengan leher kanan ku. Leher bagian kanan terasa kencang, kaku dan sedikit bengkak. Spontan aku bercerita kepada kakak lelakiku, dia pun langsung mengajakku ke dokter.
Awalnya kami mengira bahwa aku hanya kecapean dan sebentar pasti sembuh. Aku pun menyadari bahwa ternyata di pangkal leher sebelah kanan ku ada sebuah benjolan kecil yang kata dokter adalah infeksi di bawah kulit.
Lima hari aku mengkonsumsi obat dan tidak ada perubahan. Aku pun kembali ke dokter yang sama, dan dokter berkata, "Mudah - mudahan ada perubahan, jika tidak akan saya rujuk ke dokter bedah."
Ternyata masih tidak ada perubahan dan hal ini sungguh membuatku khawatir. Akhirnya, aku pun diajak ke sebuah RS di Yogyakarta, karena diharapkan akan ada pemeriksaan intensif. Namun, alangkah penatnya saat aku bertemu dengan seorang pria tengah baya berdarah Simanjuntak yang merupakan dokter bedah di RS itu. Dokter itu langsung menembakku dengan kata operasi dan itu membuatku penat bahkan seribu penat dan dongkol. Aku pun menjalani beberapa tes, yakni tes darah dan foto toraks. Pemeriksaan yang membuatju merasa jijik dengan bangunan berbau obat itu.
Aku hanya dapat menangis dan merintih, aku pasrah dan hanya dapat mempercayakan semuanya kepada sang Ilahi.
Aku harus menjalani pemeriksaan dan mentalku belum siap. Lelah dan bosan, aku dan kakak ku meluncur ke sebuah perkebunan di mana tante ku berada. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan seorang bapak bersama keluarganya dan sungguh tak terduga bahwa ternyata bapak itu adalah seorang dokter yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Kami pun berbagi cerita, mungkin lebih tepat nya adalah aku yang mendengarkan ceritanya dan menyikmak semua sarannya.
Berpikir seribu, aku pun menelepon dokter yang siap mengoperasiku, " Dokter, Lia belum siap menjalani operasi biopsi besok pagi." demikian aku berkata dengan penuh keyakinan.
Sia - sia rasanya jauh - jauh aku ke kota itu tetapi hanya penat yang aku dapatkan. Namun alangkah terbukanya pikiran ku saat aku menerima sebuah saran dari seorang pastor agar aku mencoba pengobatan alternatif di kota Purworejo. Membuat kakak lelaki ku berpikir cepat dan memutuskan untuk langsung ke tempat itu. Di sana aku mengungkapkan semua keluh kesahku dan rasa sakitku kepada seorang pastor yang ada di sana.Pastor itu bukan dokter atau dukun, tetapi dengan kemampuan magnetis dan ramuan - ramuan herbalnya dia telah menolong banyak orng dari berbagai kalangan.
Sang pastor berkata, "Lia harus bersabar dan hilangkan srasa khawatimu karena itu sangat mempengaruhi, semoga dengan ramuan herbal ini dapat mengisolasi benjolanmu agar tidak menjalar dan menimbulakan penyakit yang berbahaya. Lia harus tetap percaya, yakin, dan berdoa kepada NYa"
Dalam benakku ketakutan dan keyakinan beradu dan terus berperang.
Aku hanyalah seorang yang lemah tetapi aku ingin meraih beribu bintang impian yang selama ini kugantung di langit, aku harus meraihnya..
Hingga saat aku menuliskan ini, rasa itu masih terus beradu dan berperang..
Aku selalu berharap dan berusaha tuk selalu meyakini aku pasti sembuh karena aku masih ingin berbagi cinta dan kasih kepada setiap orang yang kujumpai.
Apapun penyakit yang ada di ragaku, aku percaya jiwaku akan selalu hidup, hidup tuk membagikan kasih dan menjadi pejuang yang sejati.
Dan aku terus bersyukur tatkala aku masih bisa menghirup pagi yang segar dan berjumpa dengan seribu wajah di dunia ini.
Spontan aku mengusap leherku denan handuk yang hangat dan terasa sedikit aneh dengan leher kanan ku. Leher bagian kanan terasa kencang, kaku dan sedikit bengkak. Spontan aku bercerita kepada kakak lelakiku, dia pun langsung mengajakku ke dokter.
Awalnya kami mengira bahwa aku hanya kecapean dan sebentar pasti sembuh. Aku pun menyadari bahwa ternyata di pangkal leher sebelah kanan ku ada sebuah benjolan kecil yang kata dokter adalah infeksi di bawah kulit.
Lima hari aku mengkonsumsi obat dan tidak ada perubahan. Aku pun kembali ke dokter yang sama, dan dokter berkata, "Mudah - mudahan ada perubahan, jika tidak akan saya rujuk ke dokter bedah."
Ternyata masih tidak ada perubahan dan hal ini sungguh membuatku khawatir. Akhirnya, aku pun diajak ke sebuah RS di Yogyakarta, karena diharapkan akan ada pemeriksaan intensif. Namun, alangkah penatnya saat aku bertemu dengan seorang pria tengah baya berdarah Simanjuntak yang merupakan dokter bedah di RS itu. Dokter itu langsung menembakku dengan kata operasi dan itu membuatku penat bahkan seribu penat dan dongkol. Aku pun menjalani beberapa tes, yakni tes darah dan foto toraks. Pemeriksaan yang membuatju merasa jijik dengan bangunan berbau obat itu.
Aku hanya dapat menangis dan merintih, aku pasrah dan hanya dapat mempercayakan semuanya kepada sang Ilahi.
Aku harus menjalani pemeriksaan dan mentalku belum siap. Lelah dan bosan, aku dan kakak ku meluncur ke sebuah perkebunan di mana tante ku berada. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan seorang bapak bersama keluarganya dan sungguh tak terduga bahwa ternyata bapak itu adalah seorang dokter yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Kami pun berbagi cerita, mungkin lebih tepat nya adalah aku yang mendengarkan ceritanya dan menyikmak semua sarannya.
Berpikir seribu, aku pun menelepon dokter yang siap mengoperasiku, " Dokter, Lia belum siap menjalani operasi biopsi besok pagi." demikian aku berkata dengan penuh keyakinan.
Sia - sia rasanya jauh - jauh aku ke kota itu tetapi hanya penat yang aku dapatkan. Namun alangkah terbukanya pikiran ku saat aku menerima sebuah saran dari seorang pastor agar aku mencoba pengobatan alternatif di kota Purworejo. Membuat kakak lelaki ku berpikir cepat dan memutuskan untuk langsung ke tempat itu. Di sana aku mengungkapkan semua keluh kesahku dan rasa sakitku kepada seorang pastor yang ada di sana.Pastor itu bukan dokter atau dukun, tetapi dengan kemampuan magnetis dan ramuan - ramuan herbalnya dia telah menolong banyak orng dari berbagai kalangan.
Sang pastor berkata, "Lia harus bersabar dan hilangkan srasa khawatimu karena itu sangat mempengaruhi, semoga dengan ramuan herbal ini dapat mengisolasi benjolanmu agar tidak menjalar dan menimbulakan penyakit yang berbahaya. Lia harus tetap percaya, yakin, dan berdoa kepada NYa"
Dalam benakku ketakutan dan keyakinan beradu dan terus berperang.
Aku hanyalah seorang yang lemah tetapi aku ingin meraih beribu bintang impian yang selama ini kugantung di langit, aku harus meraihnya..
Hingga saat aku menuliskan ini, rasa itu masih terus beradu dan berperang..
Aku selalu berharap dan berusaha tuk selalu meyakini aku pasti sembuh karena aku masih ingin berbagi cinta dan kasih kepada setiap orang yang kujumpai.
Apapun penyakit yang ada di ragaku, aku percaya jiwaku akan selalu hidup, hidup tuk membagikan kasih dan menjadi pejuang yang sejati.
Dan aku terus bersyukur tatkala aku masih bisa menghirup pagi yang segar dan berjumpa dengan seribu wajah di dunia ini.
Jumat, 02 Juli 2010
Cerita Cinta di Kereta Express Solo - Yogya
Suara menggelegar menembus udara panas yang membungkus stasiun Njebres Surakarta.Perlahan-lahan kereta mulai bergerak menelusuri rel tua dan terus melaju ke arah barat mendahului mentari. Berjubel orang di dalam kereta dengan berbagai raut muka mewakili perasaannya masing-masing kala itu. Seorang ibu dengan raut muka lelah menggendong anaknya yang masih balita sembari mengibas-ngibaskan selendangnya. Seorang remaja dengan tas ransel tersenyum mempersilakan seorang nenek bungkuk yang berdiri memikul keranjang sayur untuk menempati tempat duduknya. Tampak pula seorang pria berpenampilan perlente membawa koper besar duduk memainkan telepon genggam canggih di tangannya. Belum lagi segerombol pria tengah baya bermata sipit, berkulit kuning,dan berhidung pesek menempati sudut gerbong, berbicara dari ujung hingga ujung yang lainnya. Hiruk pikuk suasana kota amat terasa dalam sebuah gerbong kereta express tanpa AC itu. Sebuah kereta dengan dominan warna kuningnya kini melaju cepat. Sesekali gesekan antara roda dan rel besi itu terdengar amat melengking menyayat telinga tiap orang di dalamnya.
Teriknya matahari barangkali menyilaukan kaca – kaca dalam kereta express yang katanya pernah mogok di tengah jalan. Terdengar menggelikan saat aku mendengar cerita itu dari seorang ibu yang baru saja aku kunjungi di kota yang mempunyai sebuah stasiun berjuluk stasiun balapan. Sebuah perjalanan yang cukup membosankan bagiku tatkala aku duduk di antara banyak orang aneh di dalam gerbong berdesain ala Jepang. Duduk berhadap – hadapan dengan sesosok pria tampan tetapi tanpa ekspresi makin membuatku merasa jengah. Sesekali aku melirik pada seorang pria lain dengan dandanan preman yang berdiri di depanku.
Aku dan seorang ibu yang bukan ibu kandungku duduk berdampingan dekat pintu gerbong di tengah hari yang panas. Sosok wanita itu memang bukan ibu kandungku, tetapi aku yakin dia amat memperhatikanku. Bahkan seringkali aku terkena omelannya, ketika aku mulai bandel dan bermain – main dengan kesehatanku. Hanya bersama wanita itu aku menempuh perjalanan dari sebuah kota tanpa mall bernama Gombong. Kami sengaja terbang meluncur ke Solo, karena kami bertekad menjenguk seorang gadis yang sedang berbaring penuh selang dalam sebuah kamar ber AC di sebuah Rumah Sakit besar. Nelangsa dan perih hatiku ketika melihat gadis itu terbaring tanpa daya, tetapi pikiran dan rasanya masih tajam. Dengan tekad yang kuat kami berangkat ke Solo, dengan penuh semangat kami rela duduk di lantai kereta express karena tak kuasa bertahan dalam kereta yang penuh sesak. Tak ada rasa kecewa dalam benakku, justru amat melegakan ketika aku dapat berjumpa dengan seorang ibu dalam bangunan beraroma obat yang juga bukan ibu kandungku, melainkan ibu gadis yang berbaring di ruang ICU itu.
Sebuah petualangan sehari yang amat menarik, berangkat duduk di lantai kereta dan tertawa lepas, sekejap sudah berada dalam ruang berbau obat dan menangis tersedu – sedu. Namun ada yang paling menarik saat aku dalam perjalanan pulang menuju kota yang aku tinggali selama 17 tahun. Aku menemukan sebuah kisah kenangan di kota batik, Yogyakarta. Aku duduk di sebelah seorang nenek yang menggendong cucunya. Bayi yang lucu dan tidak manja penuh tangis, terkadang aku dan seorang wanita di sisi yang lain berbicara dengan bayi yang berpipi gemuk itu. Mungkin aku terlihat sok kenal dan sok dekat, karena aku tak mengenal siapa nenek dan bayi itu, aku pun tak mnemahami siapa perempuan di sisi yang lain yang juga menyukai bayi itu. Perjalanan Solo – Yogya dalam sebuah gerbong kereta express tanpa AC menjadi kala pertama bagiku. Asyik tertawa dan tersenyum dengan bayi berpipi gemuk, sementara seorang ibu teman seperjalananku sedang menikmati rasa kantuknya. TAnpa terasa perjalanan itu cukup melelahkan. Hingga sejenak kami berada dalam suasana hening berkutat dalam pikiran masing – masing. Tak ada pekerjaan aku melirik ke setiap sudut gerbong yang penuh sesak dengan orang – orang dari berbagai kalangan dan tak sengaja aku membaca sebuah massage dalam hp yang di genggam seorang wanita yang sepertinya hobi makan keju, susu, dan makanan berlemak lainnya. “ Jalan Solo – Yogya gue selalu teringat sama mantan gue coy..” secuplik itu yang terbaca dengan mata telanjangku. Dosa atau tidak, tetapi aku tak sengaja membacanya. Semakin berputar otakku setelah membaca secuplik kalimat di layar sebuah hp lipat produksi luar negeri itu. Namun aku menghentikan putaran otakku dan tak ingin tahu lebih lanjut, hanya kusimpan dan kulupakan hal yang tak ada sangkut pautnya dengan diriku.
Stsasiun demi stasiun terlalui, orang – orang naik turun datang dan pergi silih berganti. Hingga akhirnya kereta telah meluncur dan sampai di kota yang mempunyai sebuah kraton terkenal dengan seorang sultan yang sakti. Di sebuah stasiun dekat bandara
Adi Sucipto seorang pria muda berparas tampan membawa koper besar turun. Sangat disayangkan, karena tak ada lagi pemandangan penghilang rasa kantuk bagiku. Di stasiun berikutnya di daerah Lempuyangan seorang nenek yang menggendong bayi berpipi gemuk pun turun. Satu persatu penumpang di dekatku turun membuatku merasa sepi, tetapi juga membuatku lebih nyaman karena tak harus berebut oksigen. Akhirnya secara otomatis aku duduk di sebelah wanita berkacamata yang beberapa saat lalu tak sengaja terbaca olehku sebuah pesan dalam layar hpnya. Aku makin merasa bersalah karena membaca pesan dalam layar hpnya saat bahuku dan bahunya bersentuhan. Namun sejenak aku melupakan perasaanku yang seringkali berlebihan.
Wanita itu tersenyum padaku, aku pun menmbalas senyumnya. Tak sanggup menahan suasana yang membosankan, aku mulai membuka pembicaraan. Kembali aku mengeluarkan jurus sok kenal sok dekat andalanku.Spontan aku bertanya, “Turun di mana mba ?” dengan nada yang ramah, senyum di wajah, dan tanpa ada nada mengusir sedikitpun. Ternyata wanita itu turun di stasiun Tugu, sebuah stasiun terkenal di kota pelajar yang penuh dengan wisatawan asing itu. Saling bertanya dan menjawab pertanyaan basa – basi, tiba – tiba wanita itu mulai bercerita sedikit kisah hidupnya di kota pelajar tempatnya menempuh ilmu di bangku kuliah.,
Aku tak mengenal dan tak tahu siapa namanya, begitu halnya wanita itu tak memahami siapa diriku. Sosok wanita muda yang terlihat menyenangkan dan tanpa beban itu ternyata mempunyai kisah yang cukup berat bagiku. Dari parasnya terlihat bahwa ia bukan orang biasa, melainkan menggambarkan sosok wanita karier di era modern ini. Sosok wanita berpendidikan dan berwawasan luas, tetapi hatinya tergores luka yang cukup dalam. Dia adalah seorang alumni sebuah universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Dari gaya bicaranya terdengar jelas bahwa ia bukan orang asli daerah Keraton itu. Ia adalah gadis Jakarta, tetapi sempat hijrah di Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan. Ia pun mengakui bahwa ia memiliki eyang di Solo.
Tak hanya mengenyam pendidikan, melainkan kisah hidupnya pun banyak tersimpan di kota yang sesak itu. Saat ia tinggal hanya sendiri di Yogyakarta dan selalu bermalam di sebuah kamar kost hingga memutuskan untuk menyewa sebuah rumah bersama kawan – kawannya, ia juga menghabiskan kisah cintanya di kota yang kental dengan kehidupan Seni, Yogyakarta. Wanita itu menjalin hubungan dengan seorang pria selama kurang lebih enam tahun lamanya. Seorang pria yang mungkin sangat dicintai dan belum bisa ia lupakan hingga saat ini. Seorang pria yang menjadi teman dekatnya, menjadi tambatan hati bagi si Wanita itu. Seorang pria yang tempat tinggalnya terlihat jelas dari stasiun dekat bandara bernama Adi Sucipto. Seorang pria yang pernah membuat bahagia seorang wanita berkacamata yang duduk di sampingku. Terlihat jelas dalam paras wanita itu, terpancar jelas dari sorot matanya masih ada sisa – sisa potongan cinta dalam hatinya. Wanita itu mengatakan bahwa hubungan yang ia jalin bersama seorang lelaki selama enam tahun itu harus kandas begitu saja. Aku tak memahami jelas siapa wanita di sebelahku, aku pun tak mengenal siapa pria yang sempat menjadi tambatan hatinya. Namun perbedaan keyakinan diakui oleh sang wanita berkacamata menjadi penyebab utama tak direstuinya kisah cinta dua insan itu. Memulai, menjalin, dan mengakhiri dengan baik, ketika lelaki yang ia cintai telah dijodohkan dengan wanita yang lain.
Dalam sebuah malam yang ramai di kota yang banyak menghasilkan seniman – seniman muda berbakat, sepasang insan yang saling mencintai harus mengakhiri kisah mereka. Mereka berdua menelusuri setiap jalan dan setiap tempat yang pernah mereka singgahi bersama selama menjalin kisah. Sangat sulit dan penuh duka rasanya, tak lagi makan bersama di sebuah restaurant seafood dekat stasiun Tugu. Memilukan rasanya terhalang keyakinan dua insan yang ingin jadi satu. Namun itulah nyatanya, ada pertemuan dan ada perpisahan. “ Kita putus secara baik – baik “, itulah kalimat yang terdengar sangat berat keluar dari sosok wanita di sebelahku. Sungguh wanita yang tegar dan kuat bagiku, aku pun kagum padanya. Enam tahun bersama dan akhirnya sang Wanita memutuskan untuk terbang ke Singapura. Entah mengapa wanita itu memutuskan pergi aku tak berani menanyakannya lebih lanjut, karena aku merasa tak berhak menanyakannya. Sesaat timbul pertanyaan yang menggelitik dalam benakku, mengapa wanita di sebelahku begitu mudah menceritakan kisah cintanya padaku. Namun kuhapuskan semua pikiranku mengenai mengapa.
Tak hanya sosok pria yang ia cintai, ia juga menolong salah seorang sahabat karibnya hingga dapat bekerja di sebuah bank swasta terkenal di Indonesia sebelum ia terbang ke negeri Singa itu. Wanita tegar dan kuat mempertahankan hidupnya di negeri orang hampir kurang lebih selama empat tahun.Selama di negeri orang ia masih tetap menjalin hubungan dengan sahabatnya, tetapi tidak dengan pria yang pernah ia cintai. Ia pun mendengar kabar bahwa pria yang pernah menjadi tambatan hatinya telah menikah dan mempunyai anak. Mungkin sungguh menyayat hati dan sangat perih rasanya. Namun wanita di sebelahku tak menceritakan bagaimana kehidupannya di Negeri Singa. Dalam pikiranku aku mengerti pastilah tidak mudah baginya melupakan sosok yang sangat dicintai. Apakah wanita berkacamata di sebelahku sempat menjalin hubungan dengan pria yang baru di negeri orang, aku tak tahu realitanya. Namun seperti ikan yang diberi umpan, aku pun terpancing untuk terus mendengar kisah hidupnya.
Suatu hari, ia menerima telepon dari sahabatnya di Indonesia. Melepas rindu dan berbagi cerita, sahabatnya mengatakan bahwa dirinya akan menikah dan ia menginginkan agar wanita itu hadir di pernikahannya. Wanita di sebelahku berjanji akan hadir, karena di tanggal pernikahan itu ia sudah berada di Indonesia. Sepertinya pernikahan sahabatnya berlangsung tak lama, entah sesudah atau sebelum bertemu denganku dalam sebuah gerbong kereta. Dengan sorot mata penuh pilu, wanita itu mengakui bahwa saat itu adalah pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di kota yang penuh kenangan cinta.
Mungkin senang bercampur haru saat wanita di sebelahku dapat kembali berjumpa dengan sahabatnya. Kembali bertatap muka dan berbagi pengalaman setelah beberapa tahun tak berjumpa. Sahabatnya memberitahu wanita di sebelahku, bahwa ia sering bertemu dengan pria itu di restaurant seafood favorite mereka. Namun sang Pria hanya sendiri saat menikmati makanan khas China, tak ditemani isteri ataupun anak – anaknya. Tak kuasa menahan rasa penasaran, wanita di sebelahku mendatangi restaurant itu. Kembali menapakkan kaki di tempat yang penuh kenangan, ia menemui sang Pemilik restaurant. Sang pemilik restaurant pun masih mengingat jelas bahwa wanita itu pernah menjadi pelanggan setianya dan mengatakan bahwa sang Pria hingga saat ini kerap kali datang untuk menikmati olahan kepiting hanya sendiri. Tercengang dan terkejut mendeangar hal itu. Antara percaya dan tidak aku mendengar kisahnya. Kisah seorang mantan mahasiswa fakultas psikologi yang sempat beradu nasib di negeri Singa. Wanita yang meninggalkan kisah cintanya bersama kota yang penuh sejarah di pulau Jawa. Wanita yang merelakan sosok yang dicintai membangun kehidupan rumah tangga dengan wanita yang lain. Hingga saat aku duduk berdampingan dengannya, wanita itu mengakui ia belum bisa membuka hatinya untuk sosok pria yang lain. Entah sebuah trauma yang dalam atau sebuah bentuk kesetiaan atau inilah sebuah gambaran betapa dalamnya perasaan seorang wanita. Bagiku inilah kisah yang membuat hatiku terenyuh bercampur kagum akan ketegaran sebagai sesama kaum hawa yang mendengarnya.
“Sepanjang jalan kenangan kita kan selalu bergandeng tangan..” Cerita cinta dalam sebuah kereta express Solo – Yogya, dalam waktu yang singkat dan tak terduga mengenal sosok wanita yang juga tak terduga memiliki kenangan sebuah cinta di kota seperti Yogyakarta. Beberapa menit menguak sebuah rasa, kisahnya berakhir dalam sebuah jabat tangan yang hangat beberapa menit sebelum berpisah dengan sosoknya. Hingga akhirnya kami baru bertukar nama dan alamat email. Wanita itu pun tergesa – gesa menurunkan tas – tas berisi buah tangan dan keluar menuju stasiun. Kutatap wanita itu turun dari sebuah gerbong kereta express tanpa AC hingga tak terlihat lagi sosoknya saat secara otomatis pintu kereta tertutup dan kembali meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan stasiun Tugu di Yogyakarta.
Teriknya matahari barangkali menyilaukan kaca – kaca dalam kereta express yang katanya pernah mogok di tengah jalan. Terdengar menggelikan saat aku mendengar cerita itu dari seorang ibu yang baru saja aku kunjungi di kota yang mempunyai sebuah stasiun berjuluk stasiun balapan. Sebuah perjalanan yang cukup membosankan bagiku tatkala aku duduk di antara banyak orang aneh di dalam gerbong berdesain ala Jepang. Duduk berhadap – hadapan dengan sesosok pria tampan tetapi tanpa ekspresi makin membuatku merasa jengah. Sesekali aku melirik pada seorang pria lain dengan dandanan preman yang berdiri di depanku.
Aku dan seorang ibu yang bukan ibu kandungku duduk berdampingan dekat pintu gerbong di tengah hari yang panas. Sosok wanita itu memang bukan ibu kandungku, tetapi aku yakin dia amat memperhatikanku. Bahkan seringkali aku terkena omelannya, ketika aku mulai bandel dan bermain – main dengan kesehatanku. Hanya bersama wanita itu aku menempuh perjalanan dari sebuah kota tanpa mall bernama Gombong. Kami sengaja terbang meluncur ke Solo, karena kami bertekad menjenguk seorang gadis yang sedang berbaring penuh selang dalam sebuah kamar ber AC di sebuah Rumah Sakit besar. Nelangsa dan perih hatiku ketika melihat gadis itu terbaring tanpa daya, tetapi pikiran dan rasanya masih tajam. Dengan tekad yang kuat kami berangkat ke Solo, dengan penuh semangat kami rela duduk di lantai kereta express karena tak kuasa bertahan dalam kereta yang penuh sesak. Tak ada rasa kecewa dalam benakku, justru amat melegakan ketika aku dapat berjumpa dengan seorang ibu dalam bangunan beraroma obat yang juga bukan ibu kandungku, melainkan ibu gadis yang berbaring di ruang ICU itu.
Sebuah petualangan sehari yang amat menarik, berangkat duduk di lantai kereta dan tertawa lepas, sekejap sudah berada dalam ruang berbau obat dan menangis tersedu – sedu. Namun ada yang paling menarik saat aku dalam perjalanan pulang menuju kota yang aku tinggali selama 17 tahun. Aku menemukan sebuah kisah kenangan di kota batik, Yogyakarta. Aku duduk di sebelah seorang nenek yang menggendong cucunya. Bayi yang lucu dan tidak manja penuh tangis, terkadang aku dan seorang wanita di sisi yang lain berbicara dengan bayi yang berpipi gemuk itu. Mungkin aku terlihat sok kenal dan sok dekat, karena aku tak mengenal siapa nenek dan bayi itu, aku pun tak mnemahami siapa perempuan di sisi yang lain yang juga menyukai bayi itu. Perjalanan Solo – Yogya dalam sebuah gerbong kereta express tanpa AC menjadi kala pertama bagiku. Asyik tertawa dan tersenyum dengan bayi berpipi gemuk, sementara seorang ibu teman seperjalananku sedang menikmati rasa kantuknya. TAnpa terasa perjalanan itu cukup melelahkan. Hingga sejenak kami berada dalam suasana hening berkutat dalam pikiran masing – masing. Tak ada pekerjaan aku melirik ke setiap sudut gerbong yang penuh sesak dengan orang – orang dari berbagai kalangan dan tak sengaja aku membaca sebuah massage dalam hp yang di genggam seorang wanita yang sepertinya hobi makan keju, susu, dan makanan berlemak lainnya. “ Jalan Solo – Yogya gue selalu teringat sama mantan gue coy..” secuplik itu yang terbaca dengan mata telanjangku. Dosa atau tidak, tetapi aku tak sengaja membacanya. Semakin berputar otakku setelah membaca secuplik kalimat di layar sebuah hp lipat produksi luar negeri itu. Namun aku menghentikan putaran otakku dan tak ingin tahu lebih lanjut, hanya kusimpan dan kulupakan hal yang tak ada sangkut pautnya dengan diriku.
Stsasiun demi stasiun terlalui, orang – orang naik turun datang dan pergi silih berganti. Hingga akhirnya kereta telah meluncur dan sampai di kota yang mempunyai sebuah kraton terkenal dengan seorang sultan yang sakti. Di sebuah stasiun dekat bandara
Adi Sucipto seorang pria muda berparas tampan membawa koper besar turun. Sangat disayangkan, karena tak ada lagi pemandangan penghilang rasa kantuk bagiku. Di stasiun berikutnya di daerah Lempuyangan seorang nenek yang menggendong bayi berpipi gemuk pun turun. Satu persatu penumpang di dekatku turun membuatku merasa sepi, tetapi juga membuatku lebih nyaman karena tak harus berebut oksigen. Akhirnya secara otomatis aku duduk di sebelah wanita berkacamata yang beberapa saat lalu tak sengaja terbaca olehku sebuah pesan dalam layar hpnya. Aku makin merasa bersalah karena membaca pesan dalam layar hpnya saat bahuku dan bahunya bersentuhan. Namun sejenak aku melupakan perasaanku yang seringkali berlebihan.
Wanita itu tersenyum padaku, aku pun menmbalas senyumnya. Tak sanggup menahan suasana yang membosankan, aku mulai membuka pembicaraan. Kembali aku mengeluarkan jurus sok kenal sok dekat andalanku.Spontan aku bertanya, “Turun di mana mba ?” dengan nada yang ramah, senyum di wajah, dan tanpa ada nada mengusir sedikitpun. Ternyata wanita itu turun di stasiun Tugu, sebuah stasiun terkenal di kota pelajar yang penuh dengan wisatawan asing itu. Saling bertanya dan menjawab pertanyaan basa – basi, tiba – tiba wanita itu mulai bercerita sedikit kisah hidupnya di kota pelajar tempatnya menempuh ilmu di bangku kuliah.,
Aku tak mengenal dan tak tahu siapa namanya, begitu halnya wanita itu tak memahami siapa diriku. Sosok wanita muda yang terlihat menyenangkan dan tanpa beban itu ternyata mempunyai kisah yang cukup berat bagiku. Dari parasnya terlihat bahwa ia bukan orang biasa, melainkan menggambarkan sosok wanita karier di era modern ini. Sosok wanita berpendidikan dan berwawasan luas, tetapi hatinya tergores luka yang cukup dalam. Dia adalah seorang alumni sebuah universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Dari gaya bicaranya terdengar jelas bahwa ia bukan orang asli daerah Keraton itu. Ia adalah gadis Jakarta, tetapi sempat hijrah di Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan. Ia pun mengakui bahwa ia memiliki eyang di Solo.
Tak hanya mengenyam pendidikan, melainkan kisah hidupnya pun banyak tersimpan di kota yang sesak itu. Saat ia tinggal hanya sendiri di Yogyakarta dan selalu bermalam di sebuah kamar kost hingga memutuskan untuk menyewa sebuah rumah bersama kawan – kawannya, ia juga menghabiskan kisah cintanya di kota yang kental dengan kehidupan Seni, Yogyakarta. Wanita itu menjalin hubungan dengan seorang pria selama kurang lebih enam tahun lamanya. Seorang pria yang mungkin sangat dicintai dan belum bisa ia lupakan hingga saat ini. Seorang pria yang menjadi teman dekatnya, menjadi tambatan hati bagi si Wanita itu. Seorang pria yang tempat tinggalnya terlihat jelas dari stasiun dekat bandara bernama Adi Sucipto. Seorang pria yang pernah membuat bahagia seorang wanita berkacamata yang duduk di sampingku. Terlihat jelas dalam paras wanita itu, terpancar jelas dari sorot matanya masih ada sisa – sisa potongan cinta dalam hatinya. Wanita itu mengatakan bahwa hubungan yang ia jalin bersama seorang lelaki selama enam tahun itu harus kandas begitu saja. Aku tak memahami jelas siapa wanita di sebelahku, aku pun tak mengenal siapa pria yang sempat menjadi tambatan hatinya. Namun perbedaan keyakinan diakui oleh sang wanita berkacamata menjadi penyebab utama tak direstuinya kisah cinta dua insan itu. Memulai, menjalin, dan mengakhiri dengan baik, ketika lelaki yang ia cintai telah dijodohkan dengan wanita yang lain.
Dalam sebuah malam yang ramai di kota yang banyak menghasilkan seniman – seniman muda berbakat, sepasang insan yang saling mencintai harus mengakhiri kisah mereka. Mereka berdua menelusuri setiap jalan dan setiap tempat yang pernah mereka singgahi bersama selama menjalin kisah. Sangat sulit dan penuh duka rasanya, tak lagi makan bersama di sebuah restaurant seafood dekat stasiun Tugu. Memilukan rasanya terhalang keyakinan dua insan yang ingin jadi satu. Namun itulah nyatanya, ada pertemuan dan ada perpisahan. “ Kita putus secara baik – baik “, itulah kalimat yang terdengar sangat berat keluar dari sosok wanita di sebelahku. Sungguh wanita yang tegar dan kuat bagiku, aku pun kagum padanya. Enam tahun bersama dan akhirnya sang Wanita memutuskan untuk terbang ke Singapura. Entah mengapa wanita itu memutuskan pergi aku tak berani menanyakannya lebih lanjut, karena aku merasa tak berhak menanyakannya. Sesaat timbul pertanyaan yang menggelitik dalam benakku, mengapa wanita di sebelahku begitu mudah menceritakan kisah cintanya padaku. Namun kuhapuskan semua pikiranku mengenai mengapa.
Tak hanya sosok pria yang ia cintai, ia juga menolong salah seorang sahabat karibnya hingga dapat bekerja di sebuah bank swasta terkenal di Indonesia sebelum ia terbang ke negeri Singa itu. Wanita tegar dan kuat mempertahankan hidupnya di negeri orang hampir kurang lebih selama empat tahun.Selama di negeri orang ia masih tetap menjalin hubungan dengan sahabatnya, tetapi tidak dengan pria yang pernah ia cintai. Ia pun mendengar kabar bahwa pria yang pernah menjadi tambatan hatinya telah menikah dan mempunyai anak. Mungkin sungguh menyayat hati dan sangat perih rasanya. Namun wanita di sebelahku tak menceritakan bagaimana kehidupannya di Negeri Singa. Dalam pikiranku aku mengerti pastilah tidak mudah baginya melupakan sosok yang sangat dicintai. Apakah wanita berkacamata di sebelahku sempat menjalin hubungan dengan pria yang baru di negeri orang, aku tak tahu realitanya. Namun seperti ikan yang diberi umpan, aku pun terpancing untuk terus mendengar kisah hidupnya.
Suatu hari, ia menerima telepon dari sahabatnya di Indonesia. Melepas rindu dan berbagi cerita, sahabatnya mengatakan bahwa dirinya akan menikah dan ia menginginkan agar wanita itu hadir di pernikahannya. Wanita di sebelahku berjanji akan hadir, karena di tanggal pernikahan itu ia sudah berada di Indonesia. Sepertinya pernikahan sahabatnya berlangsung tak lama, entah sesudah atau sebelum bertemu denganku dalam sebuah gerbong kereta. Dengan sorot mata penuh pilu, wanita itu mengakui bahwa saat itu adalah pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di kota yang penuh kenangan cinta.
Mungkin senang bercampur haru saat wanita di sebelahku dapat kembali berjumpa dengan sahabatnya. Kembali bertatap muka dan berbagi pengalaman setelah beberapa tahun tak berjumpa. Sahabatnya memberitahu wanita di sebelahku, bahwa ia sering bertemu dengan pria itu di restaurant seafood favorite mereka. Namun sang Pria hanya sendiri saat menikmati makanan khas China, tak ditemani isteri ataupun anak – anaknya. Tak kuasa menahan rasa penasaran, wanita di sebelahku mendatangi restaurant itu. Kembali menapakkan kaki di tempat yang penuh kenangan, ia menemui sang Pemilik restaurant. Sang pemilik restaurant pun masih mengingat jelas bahwa wanita itu pernah menjadi pelanggan setianya dan mengatakan bahwa sang Pria hingga saat ini kerap kali datang untuk menikmati olahan kepiting hanya sendiri. Tercengang dan terkejut mendeangar hal itu. Antara percaya dan tidak aku mendengar kisahnya. Kisah seorang mantan mahasiswa fakultas psikologi yang sempat beradu nasib di negeri Singa. Wanita yang meninggalkan kisah cintanya bersama kota yang penuh sejarah di pulau Jawa. Wanita yang merelakan sosok yang dicintai membangun kehidupan rumah tangga dengan wanita yang lain. Hingga saat aku duduk berdampingan dengannya, wanita itu mengakui ia belum bisa membuka hatinya untuk sosok pria yang lain. Entah sebuah trauma yang dalam atau sebuah bentuk kesetiaan atau inilah sebuah gambaran betapa dalamnya perasaan seorang wanita. Bagiku inilah kisah yang membuat hatiku terenyuh bercampur kagum akan ketegaran sebagai sesama kaum hawa yang mendengarnya.
“Sepanjang jalan kenangan kita kan selalu bergandeng tangan..” Cerita cinta dalam sebuah kereta express Solo – Yogya, dalam waktu yang singkat dan tak terduga mengenal sosok wanita yang juga tak terduga memiliki kenangan sebuah cinta di kota seperti Yogyakarta. Beberapa menit menguak sebuah rasa, kisahnya berakhir dalam sebuah jabat tangan yang hangat beberapa menit sebelum berpisah dengan sosoknya. Hingga akhirnya kami baru bertukar nama dan alamat email. Wanita itu pun tergesa – gesa menurunkan tas – tas berisi buah tangan dan keluar menuju stasiun. Kutatap wanita itu turun dari sebuah gerbong kereta express tanpa AC hingga tak terlihat lagi sosoknya saat secara otomatis pintu kereta tertutup dan kembali meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan stasiun Tugu di Yogyakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)